Transcription
Halo, halo, halo! Balik lagi bareng Sadako Prayoga. Bedwetter semua! Banyak banget yang request, "Gimana caranya mengoptimasi WhatsApp untuk berjualan, ya?" Saya, kalau seri sendiri sihirnya. Saya tidak megang WhatsApp langsung, khawatir, nice yang ngomong, tapi saya enggak praktek. Tapi saya ajak siapa kek settingnya untuk sharing bareng kalian semua tentang gimana cara mengoptimalkan WhatsApp marketing untuk berjualan. Banyak salah satu topik yang menarik, karena tentang teknik closing. Saya sudah pernah bikin ebook-nya. Anda bisa download nanti di Telegram saya, dan udah didownload lebih dari 60 ribu orang di Indonesia. Gimana cara pengaplikasian teknologi ini dalam WhatsApp? Ini bentuk punya trik-trik sendiri, gitu ya. Maka saya minta Mas Febrianto, faktor sedikit digital, dengan salah satu produk gagal bestro untuk sharing sama kita semua. Gimana cara optimasinya? Apa rahasianya? Tonton saja videonya sampai beres! Hai, salamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Caesar Febrianto, dan dalam video ini saya akan sharing kepada Anda tentang beberapa tips WhatsApp marketing, dan khusus untuk video kali ini saya akan memberikan edukasi atau sharing kepada Anda semua tentang teknik closing di WhatsApp marketing yang wajib Anda ketahui. Jadi, teman-teman semua, mungkin sebelumnya sudah pernah nonton podcast saya bareng Kang Dewa, beberapa video belakangan ataupun materi-materi yang sering kita sharing di Zoom, Minazumi nama, atau Binar Zoom kita. Setiap kali kita mengadakan Zoom tersebut, fokusnya pada video kali ini adalah jadi teknik closing di WhatsApp marketing yang sebenarnya ini wajib banget Anda ketahui. Dan ini juga sebenarnya adalah fundamental yang nantinya akan bisa digunakan terus-terusan ketika Anda memaksimalkan WhatsApp marketing. Jadi, teman-teman, ada tiga poin sebenarnya yang wajib Anda ketahui dalam urusan WhatsApp marketing. Ya, saya tidak akan membahas tentang bagaimana polanya. Saya tidak akan membahas tentang resiko-resiko dari WhatsApp marketing, karena saya yakin Anda sudah tahu, ada, sudah pernah membaca buku kami, buku saya dan Mas Dewa, dan Kang Dewa tentang paint WhatsApp. Nah, khusus pada video kali ini saya akan coba bahas tentang tiga hal, teman-teman. Poin utama yang pertama: Bagaimana Anda bisa melakukan closing, atau bagaimana teknik closing yang harus Anda lakukan agar nanti WhatsApp marketing Anda itu bisa meningkatkan penjualan.
Yang pertama adalah kunci utama adalah interaksi. Kita tidak bisa mengenyampingkan ya, interaksi. Kalau sosial media lain, Facebook misalnya, atau Instagram, content is king, ya. Konten itu adalah raja, itulah setelah segalanya. Tetapi kalau di WhatsApp marketing, interaksi itu adalah rajanya. Jadi, engagement is king. Kalau sosial media mungkin content is king, kalau di WhatsApp marketing engagement is king. Poin pertama adalah Anda harus bisa menciptakan interaksi yang baik kepada database Anda. Bagaimana sebenarnya konsep penerapan dari interaksi yang baik menurut WhatsApp marketing? World versi WhatsApp marketing-nya saya lakukan dan tim Klik Digital lakukan selama ini sehingga bisa meningkatkan penjualan. Dalam sisi interaksi dengan database Anda, ya, kita tidak menyebutnya sebagai calon customer, ya. Kita menyebutnya sebagai database. Kenapa? Karena dari database Anda mungkin sekian ribu, sekian puluh ribu database Anda itu ada orang-orang yang mungkin sudah tertarik dengan produk Anda, atau bahkan juga sudah pernah membeli produk Anda, atau bahkan ada orang-orang yang belum pernah membeli produk Anda, tetapi mereka sudah tahu, sudah mengenal siapa Anda. Nah, ini karakter dari database. Jadi, tugas kita sebenarnya adalah dalam pengolahan database ini adalah bagaimana mereka untuk bisa beli. Jadi, orang yang beli, yang belum pernah membeli produk Anda dari database tersebut, ya. Jadi beli, orang yang sudah membeli, ya beli lagi, beli lagi.
Konsep interaksi di sini, teman-teman, itu setidaknya ada beberapa hal yang harus Anda pahami. Berinteraksi dengan mereka di WhatsApp marketing itu berbeda dengan ketika Anda berinteraksi di sosial media. Kalau misalnya sosial media Anda mungkin untuk menciptakan engagement dari konten Anda agar terus terupdate, ya. Setidaknya kalau di Facebook Ads, yang harus Anda update gitu ya, maka Anda mungkin dengan singkat Anda juga bisa melakukan membalas komentar mereka atau berinteraksi dengan mereka. Tetapi WhatsApp marketing ada trik khusus yang harus Anda lakukan. Setidaknya ketika ini berinteraksi dengan mereka, interaksi yang terjadi itu harus sesuai dengan karakter mereka. Jadi penting untuk Anda ketahui bagaimana karakter dari database Anda. Nah, ini nih hal-hal untuk Anda yang nanti beli database gitu ya, beli database di marketplace misalnya, atau web database dari luar, dan sebagai yang Anda tidak tahu latar belakang mereka seperti apa, bakalan kesulitan untuk melakukan interaksi dengan mereka. Kenapa? Karena enggak tahu karakteristik mereka seperti apa, sehingga Anda akan kesulitan untuk memulai percakapan dengan mereka. Karena, teman-teman, di WhatsApp marketing itu, chat dengan mereka itu secara personal. Lagi-lagi seperti yang sering saya sampaikan, chat di WhatsApp, WhatsApp marketing itu terjadi secara personal antara Anda dan database Anda, bukan antara Anda dan mereka, tetapi antara Anda dan dia. Ini konsep dari interaksinya. Makanya penting untuk tahu karakteristik dari mereka seperti apa. Kalau sekarang Anda yang bisa jadi mungkin bukan Anda ya, Ayah nonton video ini, saya tahu Anda bangun databasenya emang benar-benar sesuai dengan kaidah itu, head marketing sesungguhnya itu enggak beli databasenya. Paling juga menyebar lead magnet, biar mereka masuk dan sebagainya, ya. Cara ini salah satu cara yang bisa nanti akan ada praktekkan. Nanti kita akan bahas deh bagaimana cara mengumpulkan data. Desde video-video yang lainnya. Jadi, poin pertama, teman-teman, adalah fokus pada interaksi, karakteristik mereka seperti apa, Anda berinteraksi dengan mereka seperti itu.
Contoh misalnya, karakter dari database Anda itu adalah nilai-nilai, maka ketika Anda berinteraksi dengan mereka, jangan dong menggunakan sayang formal banget. Jangan dong menggunakan bahasa-bahasa yang baku, tetapi gunakan bahasa-bahasa yang memang sering dipergunakan oleh orang-orang milenial. Hai Bro! Hai Sis! Halo! Kau kabarnya hari ini? Udah ke Citayem belum? Ya, udah jalan-jalan belum? Sapa aja mereka, berinteraksi sesuai dengan karakter mereka. Kenapa? Biar mereka nyaman. Teman-teman, bayangkan kalau misalnya orang-orang ke database, database Anda itu karakternya adalah karakter-karakter milenial, kemudian Anda menggunakan bahasa yang sangat baku, yang sangat formal. "Hai, perkenalkan, Caesar Febrianto bersama WhatsApp ini…" Saya sampaikan bahwa kita sedang ada promo. Gimana tuh? Kebayang gak gimana bingungnya? Gimana rempongnya? Gimana bingung ya database Anda ketika Anda mengirimkan pesan interaksi seperti itu. Begitupun sebaliknya, kalau karakter database Anda itu adalah kaum-kaum kolonial, itu kaum-kaum kolonial yang HBC lah ya, kaum-kaum yang 37/40 tahun ke atas, ya, database Anda rings umurnya segitu, ya, jangan pakai gaya bahasa yang milenial juga dong. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan karakter mereka. Simplenya seperti itu, teman-teman. Lebih dalam lagi, sebenarnya cara berinteraksinya adalah Anda tahu latar belakang mereka. Apakah mereka bisnis, atau apakah mereka ibu rumah tangga, ataukah apakah mereka seorang pekerja? Ya mungkin pegawai PNS atau karyawan swasta. Lebih dalam lagi ketika Anda memahami karakteristik berlebih tersebut, sehingga proses interaksi yang terjadi itu akan lebih dalam. Ketika Anda masuk pada setiap kedua yang akan saya bahas, itu akan lebih mudah.
Point kedua adalah klasifikasikan database tersebut, kategorikan mereka. Jadi, jangan dihantam semua. Meskipun karakter mereka sama, artinya Anda sudah mengetahui karakteristik dari mereka adalah milenial, misalnya milenial entrepreneur misalnya, ya, jadi pengusaha-pengusaha muda. Nih, Anda sudah tahu karakter mereka seperti itu, kemudian tidak serta-merta Anda menghajar bahasa promosi, ada menghajar interaksi dengan mereka dengan konten yang sama semua. Bedakan, klasifikasikan! Contoh simpelnya gini, teman-teman. Poin pertama, ketika Anda melakukan interaksi adalah Anda melakukan pendekatan. Jadi, interaksi yang Anda bangun itu adalah interaksi-interaksi chat yang yang bermaksud untuk melakukan pendekatan dengan mereka, membangun bonding dengan mereka. Ketika ini terjadi, ketika ini sudah oke, sudah terbangun bonding dengan mereka, Anda melakukan lagi angka selanjutnya berinteraksi dengan mereka tentang menggali kebutuhan mereka, yang tentunya nanti akan menggiring ke bagaimana Anda nanti akan menawarkan produk yang akan Anda tawarkan ke mereka, yang nantinya produk tersebut akan membantu kebutuhan mereka. Jadi, teman-teman, jangan hajar semuanya, pisahkan. Contoh, hari ini Anda melakukan interaksi untuk orang-orang yang memang harus butuh pendekatan dulu. Kemudian ketika mereka sudah terjadi bonding saja. Jadi, pendekatan dengan mereka-mereka tinggal dengan baik, Anda mereka sudah nyaman berinteraksi dengan Anda, klasifikasikan database tersebut. Besok ketika Anda ingin melakukan interaksi dengan mereka, jangan lagi tentang materi-materi yang untuk melakukan pendekatan, tetapi lebih ke menggali kebutuhan mereka, meng-cover mereka dengan manfaat-manfaat nanti dari produk Anda. Klasifikasikan mereka, teman-teman. Jangan dihajar brutal, meskipun Anda sudah tahu karakter mereka, meskipun demografi mereka sama, belum tentu kebutuhan mereka sama. Meskipun mereka rentan usianya sama, belum tentu kebutuhan mereka sama, belum tentu keinginan mereka sama. Jadi, pastikan Anda mengklasifikasikan mereka sesuai dengan hasil yang Anda lakukan saat berinteraksi dengan teman-teman. Kalau misalnya Anda bingung, Anda boleh mulai dengan Value Proposition Canvas. Silahkan lihat, tonton video-video Kang Dewa, sudah pernah dibahas di channel ini tentang Value Proposition Canvas. Silahkan pelajari, Anda ambil angle dari situ, minimal Anda bisa mengklasifikasikan dua dari Value Proposition Canvas itu, yang pertama adalah meet mereka, dan yang kedua adalah wow mereka. Minimal dari dua itu Anda mengklasifikasikan database Anda sesuai dengan gaya Anda bicara, cara Anda berinteraksi dengan mereka.
Nah, yang ketiga, teman-teman, juga paling penting untuk Anda dan sering dilewatkan oleh teman-teman WhatsApp marketing yang lain, itu adalah database Anda itu tetap nyaman menerima chat dari Anda, meskipun itu chat interaksi ataupun chat ketika Anda melakukan promosi. Kenapa? Karena database ini, seperti yang saya sampaikan tadi, benar-benar ada di ranah privat, teman-teman. Jadi, butuh banget kenyamanan antara Anda yang mengirim pesan dan mereka yang menerima pesan. Bayangkan ketika mereka sudah enggak nyaman, mereka tidak akan merespon pesan Anda. Jalan satu-satunya agar mereka nyaman adalah Anda tidak sering melakukan broadcast ke mereka. Jangan seperti orang minum obat, sehari sampai tiga kali. Kalian yang broadcast mereka sehari sampai tiga kali. Anda mencoba berinteraksi dengan, "Kak, pagi misalnya," ada coba berinteraksi, mereka enggak ngerespon, siang lagi udah coba, sore lagi Anda coba, dan sebagainya. Berikan mereka jeda. Jangan sampai mereka terganggu. Ini poin penting yang sebenarnya sering terlewatkan oleh kita, karena kita ingin benar-benar ingin banget biar bisa langsung melakukan promosi ke mereka. Maka pagi kita berinteraksi, siang kita melakukan awareness, malamnya kita promosi ke mereka, mereka akan nyaman, teman-teman. Setidaknya tiga poin ini yang bisa Anda maksimalkan untuk teknik closing Anda. Tiga poin ini Anda bisa maksimalkan, akan mudah banget untuk closing di WhatsApp marketing. Saya Caesar Febrianto, dan sampai jumpa di video berikutnya. Byeee!