📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Tahun Gajah | Kehidupan Sang Rasul Terakhir ﷺ | Episod 1 | Mufti Menk | Siri Ramadan

Mufti Menk10:39

Transcription

Gurun bergetar di bawah kaki mereka saat pasukan itu bergerak maju ke utara. Formasi burung-burung kecil yang tak terhitung jumlahnya. Tairan Ababil. Setiap burung membawa tiga batu. Batu dari tanah liat yang dibakar. Allah berfirman dalam Alquran. Alam kaifa faalabuka biashil.

Di gurun Arab yang luas, di bawah langit yang tak berujung dan kuno, sejarah diam-diam sedang bersiap untuk babak terbesarnya. Dunia yang dipenuhi suku, kerajaan, dan kekaisaran semuanya tidak menyadari bahwa sebuah cahaya akan segera terbit di antara mereka. Namun sebelum cahaya itu muncul, Allah menunjukkan kepada dunia sesuatu yang nyata. bahwa kekuatan bukan pada pasukan, bahwa keperkasaan bukan pada jumlah, dan bahwa kehendaknya berkuasa di atas segalanya. Ini bukan sekadar kisah tentang peristiwa-peristiwa. Ini adalah pengingat bahwa Allah membentuk sejarah dengan tujuan, dengan kebijaksanaan, dan dengan rahmat.

Jadi, mari kita mulai perjalanan kita bukan dengan kelahiran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. melainkan dengan tahun saat Allah sendiri melindungi rumah sucinya, tahun gajah. Di dunia yang dibayangi oleh kebodohan dan kesombongan, tanah Arab berdiri dalam kegelapan. Suku-suku menyembah berhala-berhala dari batu dan kayu. Pertumpahan darah adalah hal biasa. Belas kasihan jarang terjadi dan kebenaran pesan Ibrahim telah lama dilupakan. Ka'bah, rumah yang dibangun untuk menyembah satu Tuhan masih berdiri namun dikelilingi oleh 360 berhala.

Namun di tanah kebingungan yang sama itu, Allah telah memilih sebuah garis keturunan murni dan terlindungi yang darinya utusan terakhirnya akan dilahirkan. Beberapa generasi sebelumnya keturunan Ismail telah menjaga lembah suci Makkah. Di antara mereka adalah Abdul Muthalib mulia dan dihormati pengurus Ka'bah dan kakek dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Namun sebelum dunia menyaksikan cahaya Muhammad sallallahu alaihi wasallam, dunia akan terlebih dahulu melihat runtuhnya kesombongan dan perlindungan rumah Allah.

Jauh di selatan di Yaman hiduplah seorang penguasa sombong bernama Abraha, gubernur di bawah Raja Abisinia. Dia membangun gereja megah di Sanaat. Langit-langitnya dari emas, pilar-pilarnya dari marmer. Dia ingin menjauhkan orang-orang Arab dari ziarah mereka ke Ka'bah untuk menjadikan katedralnya pusat pengabdian yang baru. Saat orang Arab mengabaikannya, harga dirinya terbakar. Dengan murka Abraham mengucapkan sumpah. Dia akan berbaris ke Makkah dan menghancurkan Ka'bah sendiri. Dengan kesombongan di hatinya, dia mengumpulkan pasukan besar yang dipimpin gajah, makhluk yang belum pernah terlihat di Arab. Di antara mereka ada gajah yang perkasa.

Gurun bergetar di bawah kaki mereka saat tentara itu bergerak ke utara. Suku-suku di sepanjang jalan mencoba melawan, tetapi dihancurkan oleh kekuatannya. Berita kedatangannya menyebar ke seluruh Arab bagaikan badai. Saat Abrahah mencapai pinggiran Makkah, dia menyita kekayaan Quraisy, termasuk 200 unta milik Abdul Muthalib.

Saat Abrahah memanggil Abdul Muthalib mengharapkan rasa takut, dia justru menemukan martabat. Pemimpin Quraisy masuk dengan tenang, wajahnya mulia, kehadirannya menuntut rasa hormat. Abraha turun dari singgahsananya untuk duduk di sampingnya melalui seorang penerjemah. Abraham menanyakan tujuannya. Abdul Muthalib menjawab dengan lembut, "Saya datang untuk mengambil kembali unta-unta saya yang telah Anda ambil." Terkejut Abraha berkata, "Saya terkesan dengan kehadiran Anda, tetapi kata-kata Anda membuat saya kurang menghargai Anda. Anda datang bertanya kepada saya tentang unta Anda, sementara saya datang untuk menghancurkan rumah suci Anda." Dan Abdul Muthalib menjawab, "Dengan iman yang tak tergoyahkan. Saya adalah pemilik unta-unta itu. Adapun rumah itu, ia memiliki Tuhan yang akan melindunginya." Subhanallah. O Subhanallah. Subhanallah. Ave le ah si he lejer teste subhana espaz sillab. Kata itu akan bergema selamanya.

Abdul Muthalib kembali ke Makkah mengumpulkan kaumnya lalu menyuruh mereka mencari keselamatan di pegunungan. Yakin Allah akan melindungi tempat sucinya. Saat fajar udara tenang. Abraham memerintahkan gajahnya untuk maju menuju Ka'bah. Namun gajah itu menolak. Saat mereka memutarnya ke arah Yaman, ia berjalan. Saat mereka memutarnya ke arah Makkah, ia berlutut. Mereka memukulnya. Mereka berteriak, tetapi ia tidak mau bergerak.

Lalu langit berubah. Dari atas awan gelap muncul formasi burung-burung kecil yang tak terhitung jumlahnya. Tairan Ababil. Setiap burung membawa tiga batu. Satu di paruhnya dan satu di setiap cakarnya. Batu-batu dari tanah liat yang terbakar. Allah berfirman dalam Alquran, alam kaifa faaluka. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondongil yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang keras. Lalu dia menjadikan mereka seperti jerami yang dimakan.

Satu demi satu para prajurit itu tumbang. Pasukan terkuat di bumi dikalahkan tanpa sebilah pedang pun terhunus. Tanpa seorang pun dari kaum Quraisy mengangkat tangannya. Kesombongan Abraha sirna di bawah naungan keadilan Allah. Dia berbalik pulang, terluka dan terhina. Tubuhnya membusuk saat kembali ke Yaman, sebuah tanda bagi semua yang menentang kehendak sang pencipta. Tahun itu kemudian dikenal sebagai Amulfil, tahun gajah.

Dan di tahun yang sama di bulan suci Rabiul Awal, sebuah mukjizat yang lebih besar ditakdirkan terjadi kelahiran utusan Allah. Semoga selawat dan salam tercurah padanya. Di sebuah rumah sederhana di Makkah, Aminah binti Wahab, seorang wanita yang suci dan tenang merasakan rahmat Tuhannya turun kepadanya. Dia melihat cahaya yang begitu terang hingga menyinari istana-istana busra di Syam. Dia melahirkan seorang anak laki-laki bernama Muhammad bin Abdullah. Anak itu suci dan tenang. Aroma kesturi memenuhi ruangan dan tangan kecilnya terangkat ke arah langit. Dunia yang telah menyaksikan kehancuran kesombongan kini menyaksikan kelahiran sang pembawa rahmat.

Nabi semoga selawat dan salam tercurah padanya lahir sebagai yatim. Ayahnya Abdullah telah wafat sebelum kelahirannya. Namun Allah bersamanya selalu melindunginya, selalu mempersiapkannya untuk risalah yang akan datang. Seperti firman Allah dalam surah Adduha. Maakuka w Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu yang permulaan. Tuhanmu karunanya kepad lalu hati kamu menjadi puas.

Sejak awal sang nabi telah dipilih, dilindungi, dan dibimbing. Beliau dibesarkan di antara orang-orang yang paling suci disusui oleh Halimah Sa'diyah yang menyaksikan keberkahan ke mana pun beliau pergi. Hujan turun di tanah mereka, hewan ternak mereka tumbuh kuat dan hati mereka dipenuhi kedamaian. Semua ini adalah persiapan Allah bagi sosok yang akan membawa risalah terakhir bagi umat manusia.

Bertahun-tahun kemudian saat sang nabi mengenang masa kecilnya, ayat-ayat surah Al-Insyirah akan menggema dalam hidupnya. Alam nasrak. Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Wawadna anka wizrak. Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu alladzi anqada zahrak yang memberatkan punggungmu. Warfakikrak dan kami tinggikan sebutan namamu bagimu. Sungguh Allah meninggikan namanya bersanding dengan namanya sendiri. Setiap kali orang beriman mengucap lailahaillallah lailahaillallah muhammadur rasulullah. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Kisah tahun gajah bukan sekadar tentang jatuhnya Abraha. Itu adalah pembuka tanda ilahi bahwa Allah sendiri sedang mempersiapkan dunia bagi utusan terakhirnya. Saat kita berlanjut ke masa awal kehidupan Nabi sallallahu alaihi wasallam, ingatlah ini dalam hati kalian. Allah tidak mengutus beliau secara kebetulan. Setiap momen, setiap kesulitan, setiap tanda adalah persiapan untuk misi terbesar yang pernah diberikan. Ikuti saya di episode berikutnya, insyaallah saat kita menyimak masa kecil sang pembawa rahmat dan saksikan bagaimana Allah membesarkan nabinya sallallahu alaihi wasallam dengan cinta, hikmah, dan kasih sayang yang tiada tara. Sallallahu ala Muhammad. Semoga selawat dan salam tercurah atas Muhammad ya.