📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Khutbah Jum'at 2025: 32. Empat Mutiara Nasihat dari Al-Qur'an | Ustadz Irwansyah Al-Maidany, Lc.

Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro35:57

Transcription

Apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit, bahwa Dia tidak akan membenamkan bumi bersama kalian, lalu tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit, bahwa Dia tidak akan mengirimkan badai batu kepada kalian? Maka kelak kalian akan mengetahui bagaimana peringatan-Ku. Dan sungguh, orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul), maka betapa dahsyatnya azab-Ku!

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon petunjuk-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan menemukan baginya seorang penolong yang memberi petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, berkah, dan tambahkanlah kepada Nabi yang mulia ini, Nabi kami Muhammad, serta kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya takwa adalah pangkal kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat.

Dan sungguh Allah Ta'ala telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia, "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim."

Dan Dia juga berfirman dalam surah lain, "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an itu sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat. Ia adalah penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan tidaklah ia menambah bagi orang-orang zalim kecuali kerugian."

Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadisnya yang mulia, "Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat." Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, apa pembersihnya atau apa obatnya?" Beliau menjawab, "Membaca Al-Qur'an dan mengingat kematian," atau sebagaimana yang beliau sabdakan.

Wahai kaum Muslimin, saudara-saudaraku jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta'ala. Pertama-tama, syukur dan puji kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Agung kemuliaan-Nya, di hari yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan, penghulu segala hari ini. Allah Ta'ala masih menganugerahkan dan mengaruniakan kepada kita semua kesehatan jasmani dan rohani. Nikmat manisnya iman. Nikmat manisnya hanya kita beriman, menyembah, mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan nikmat-nikmat lain yang jika kita menghitung dan menginventarisir kebaikan serta nikmat tersebut, tentu kita tidak akan pernah bisa. "Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya." Jika engkau ingin menghitung nikmat kebaikan yang Allah karuniakan, kalian pasti tidak akan bisa menghitungnya.

Syukur adalah bukti kita hadir di sini, memenuhi rumah Allah ini dalam rangka membuktikan komitmen keimanan kita. Menegakkan salat Jumat dua rakaat berjamaah. Semoga segala amal baik, amal saleh yang kita lakukan bersama mulai dari Jumat lalu sampai bertemu dengan hari Jumat ini diterima oleh Allah Ta'ala. Kekhilafan, kekurangan, kesalahan, dan dosa-dosa kita, semoga Allah maafkan dan Allah ampuni.

Selawat dan salam mari kita sampaikan semua siang hari ini kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada seluruh keluarga beliau, kepada seluruh sahabatnya, tabiin, tabiut tabiin, dan kepada siapa saja dari umatnya yang senantiasa istiqamah, berkomitmen setia mengikuti jejak langkah risalah-risalah beliau kelak. Semoga kita yang hadir nanti di padang mahsyar bisa mendapatkan syafaat beliau. Diakui menjadi pengikut dan umatnya. Sekaligus diberikan kesempatan minum dari telaga Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Khatib berpesan kepada khatib pribadi dan kepada semua saudara-saudaraku jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta'ala. "Mari kita perbarui iman kita walau sesaat." Mari momentum kesempatan baik ini kita gunakan untuk mengisi ulang, mengecas keimanan, ketakwaan kita kepada Allah Ta'ala dengan menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Khatib mengambil tema melalui mimbar singkat hari Jumat ini: Empat nasihat dari Al-Qur'anul Karim.

Khatib mengutip dalam mukadimah tadi dari surah 17, Surah Al-Isra ayat 82. "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an itu sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." Dan Kami turunkan, kata Allah, dari Al-Qur'an ini ada yang menjadi penawar, yaitu syifa. Tingkatan syifa lebih tinggi daripada dawa (obat) penawar. Semua problem, semua masalah, semua penyakit, baik itu penyakit psikis ataupun fisik, ada penawar dari Al-Qur'anul Karim. Penyakit fisik, satu disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari Muslim. Suatu ketika ada seorang sahabat di kota Makkah, Ladaul A'b waktu itu disengat kalajengking, melapor kepada Nabi. Kemudian Nabi membacakan Mu'awwidzatain, surah Mu'awwidzatain dan surah Al-Ikhlas. Dengan izin Allah, ia sembuh dari sengatan kalajengking itu dan tidak kemudian menyebar ke badan sahabat tersebut. Ini membuktikan Al-Qur'an, dengan keyakinan keimanan kita, karena ia adalah firman Allah, bagian dari kemuliaan Allah, dapat menyembuhkan penyakit fisik dan juga penyakit psikis.

Dan rahmat, yang kedua, Al-Qur'an menjadi rahmat, bentuk kasih sayang Allah yang diturunkan khusus bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur'an itu. "Dan tidaklah ia menambah bagi orang-orang zalim kecuali kerugian." Ditutup ayat itu. Jangan kau tambahkan kepada orang-orang yang zalim di dunia ini, ya Allah, kecuali kerugian. Ada dua hal yang ingin khatib dan kita dengarkan penjabaran dari para ulama: fungsi Al-Qur'an sebagai syifa (penawar) dan rahmah (rahmat). Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Qur'an menjadi penawar obat fisik dan non-fisik atau psikis.

Di antara penyakit non-fisik atau psikis adalah mengikuti hawa nafsu. Ada orang di dunia ini yang memiliki penyakit selalu menuhankan hawa nafsu. "Jika engkau melihat orang yang dicoba dengan mengikuti syahwat." Kalau kita lihat ada seseorang di dunia ini dicoba dengan mengikuti hawa nafsu. Nafsu amarah, nafsu lawwamah, yaitu nafsu yang berkonotasi buruk. Maka tinjau kembali orang yang diuji dengan syahwat. Tidak pernah kenyang. "Maka tinjau kembali sejauh mana engkau menjaga salat lima waktu." Kata ulama, tinjau kembali sejauh mana engkau betul-betul memelihara dan memaknai salat lima waktu. Jadi salat lima waktu itu mencegah manusia untuk mempertuhankan hawa nafsu. Di situlah rahasia firman Allah Ta'ala dalam Surah Maryam, surah 19 ayat 59: "setelah mereka datanglah generasi yang mengabaikan salat dan mengikuti hawa nafsu." Maka nanti akan muncul generasi orang yang menyepelekan salat, acuh dengan salat. Orang kalau salat acuh dengan salat, apa kemudian ujungnya? "Dan mereka memperturutkan hawa nafsu," kata Al-Qur'an. Dia memperturutkan hawa nafsunya. Hawa nafsu yang buruk.

Maka Rasul mengajarkan kita, wahai jamaah Jumat yang dirahmati Allah Ta'ala, satu doa ma'tsur. "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan." Dalam riwayat lain, "tidak didengar." Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak membawa manfaat. Ilmu tak ada berkah. Semakin dia berilmu, apapun dia, semakin jauh dia dari ilmunya itu kepada Allah. Kita berlindung kepada Allah. Semakin lupa dia dengan akhirat. Yang kedua, berlindung kepada Allah yang Rasulullah ajarkan dari hati yang tak pernah khusyuk. Baru yang ketiga, dari jiwa yang tak pernah merasa kenyang. Diperturutkannya hawa nafsu. Baru yang keempat, "dan dari doa yang tidak dikabulkan." Dari empat itu, Rasul mengajarkan kita doa agar kita berlindung kepada Allah dari nafsu yang tidak pernah kenyang. Bagaimana mengontrol nafsu? Tegakkan salat lima waktu. "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."

Yang kedua, "kekerasan hati dan akhlak yang buruk, serta kesengsaraan dan ketidakberuntunganmu." Allahu Akbar. Kalau kau merasakan dalam hidup ini ada orang merasakan hati keras, hati itu perangai buruk, tak ada bimbingan dari Allah, susah terus dia gelisah. Apa penawarnya? "Maka tinjau kembali hubunganmu dengan ibumu." Kata ulama, tinjau kembali, tengok kembali sejauh mana engkau telah berbuat baik sebaik-baiknya kepada ibumu. Di situlah rahasia firman Allah: "Dan Dia menjadikan aku berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka." Aku diperintahkan oleh Allah, ini kisah Nabi Isa 'alaihi salam, untuk berbuat baik sebaik-baiknya kepada ibuku, yaitu Maryam. Setelah orang berbuat baik kepada ibu, maka "dan Dia tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka." Allah tidak menjadikanku orang yang celaka. Berbuat baik pada orang tua, khususnya ibunda kita, mendatangkan kebahagiaan. Tidak ada kesengsaraan dalam hidup.

Suatu ketika ada anak muda datang di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam hadis Bukhari Muslim disebutkan hadis yang sangat familiar, hadis yang masyhur. Anak muda ini datang, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?'" Siapa yang harus saya perlakukan terlebih dahulu dengan muamalah terbaik dalam hidupku? Siapa yang harus saya perlakukan baik? Apa jawaban Nabi? Tiga kali Nabi mengatakan, menjawab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ibumu." Anak muda ini penasaran. Setelah dijawab, "Siapa yang berhak pertama kali saya perlakukan baik dalam hidup?" Nabi menjawab, "Ibumu." "Kemudian siapa lagi wahai Rasulullah?" Nabi tetap menjawab kedua, "Ibumu." Sampai tiga kali, "Kemudian siapa lagi wahai Rasulullah?" Nabi menjawab, "Ibumu." Derajat orang tua, khususnya ibu, sangatlah luar biasa dalam kehidupan kita sebagai seorang anak. Ya. Maka hubungan vertikal, pertama kita disuruh menyembah, jangan mempersekutukan Allah. Yang kedua, horizontal, kepada "dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun." Ini vertikal ke atas, horizontal. "Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua." Baru yang keempat, anak muda tadi bertanya, "Kemudian siapa lagi wahai Rasulullah?" Kemudian siapa ya Rasul? Baru yang keempat. "Ayahmu," kata Rasul. Ayahmu, menunjukkan kemuliaan, karamah, kemuliaan yang namanya ibu.

Yang ketiga, "Apakah engkau merasakan kesempitan dalam hidup?" Ada orang merasakan sempit, susah mencari penghidupan, rezeki yang halal. Apa penawarnya? Obatnya apa? "Maka tinjau kembali hubunganmu dengan Al-Qur'an." Kata ulama, tinjau kembali sejauh mana interaksimu dengan Al-Qur'an. "Al-Qur'an, Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar engkau celaka." Kata Allah dalam Surah Thaha, "Thaha, Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar engkau celaka, susah." Berarti Al-Qur'an diturunkan supaya manusia bahagia. Umat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang itu sempit hidupnya. Sempit dalam hidupnya. Sempit. Masalah, problem. Terus penawarnya, "Maka tinjau kembali hubunganmu dengan Al-Qur'an." Kata ulama, tinjau kembali sejauh mana interaksimu, baik dalam membaca, merenungkan, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur'an yang mulia tersebut. "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku," di situlah rahasia firman Allah, "maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." Siapa berpaling dari Al-Qur'an mendapatkan kehidupan yang sempit. Mungkin berpangkat tinggi, mungkin harta berlimpah, banyak aset. Tapi tak ada ketenangan dalam jiwa. Al-Qur'an menghilangkan itu semuanya. Makanya ada satu doa, "Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an sebagai penyejuk hati kami, penghilang kesedihan dan kegundahan kami." Doa ma'tsur dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Yang keempat, yang terakhir. "Apakah engkau merasakan ketiadaan prinsip dan keburukan dalam urusanmu?" Jika engkau diuji, ada orang diuji dengan ketiadaan prinsip, dia tidak punya prinsip, sikap dalam hidup tidak ada komitmen dalam beragama. Komitmen pada kebenaran, di atas prinsip kebenaran. Pelan-pelan dia terombang-ambing ke sana kemari. Maka tinjau kembali orang yang punya penyakit begini, tinjau, lihat, "tinjau kembali sejauh mana engkau mengamalkan" apa yang kau amalkan dari yang kau dengarkan nasihat-nasihat kebaikan dari Al-Qur'an dan Sunah. Di situlah rahasia firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 66. "Dan sekiranya mereka melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)." Sekiranya mereka mengerjakan apa yang mereka dengar, kebaikan nasihat dari Al-Qur'an dan As-Sunah, itu menjadi modal kebaikan mereka. Dan menjadi penegak komitmen mereka, ketegaran mereka dalam membela prinsip-prinsip kebenaran. Mudah-mudahan singkat materi khotbah yang khatib sampaikan menjadi ilmu yang berkah. Di sinilah fungsi Al-Qur'an tadi menjadi penawar obat bukan hanya fisik tetapi psikis.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sesungguhnya (Al-Qur'an ini) adalah peringatan bagi alam semesta, dan sesungguhnya ia adalah Al-Qur'an yang mulia lagi bijaksana. Dan aku memohon ampun kepada Allah untuk kalian dan seluruh kaum Muslimin, maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Segala puji dan syukur bagi Allah, selawat dan salam atas Rasulullah, serta atas keluarga dan sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti jejak langkah dan sunahnya. Kemudian, wahai saudara-saudaraku seiman, bertakwalah kepada Allah. Takwa adalah kunci kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia, "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim." Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penghormatan yang setulus-tulusnya. Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan ridailah ya Allah, para pemimpin kami Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat. Dan muliakanlah mereka dengan kemurahan dan kemuliaan-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Dan tolonglah saudara-saudara kami kaum Muslimin dan para mujahidin di Palestina, khususnya di tanah Gaza. Ya Allah, jadikanlah Engkau penolong dan pelindung bagi mereka. Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, hancurkanlah musuh-musuh mereka. Guncangkanlah pijakan mereka dengan guncangan yang dahsyat. Ya Allah, cerai-beraikanlah persatuan mereka dan hancurkanlah mereka. Ya Allah, cerai-beraikanlah persatuan mereka dan hancurkanlah mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Mulia lagi Maha Agung. Ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Dan bersyukurlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menambah (nikmat) kepada kalian. Dan mengingat Allah adalah lebih besar. Dan tidak ada yang menahan mereka (burung-burung) di udara kecuali Yang Maha Pengasih. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.