Transcription
Shalom, salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Kita tiba kembali dalam program pendalaman Alkitab melalui pelajaran sekolah sabat bersama dengan kami Cornelius Media. Kita sudah tiba di pelajaran yang ke-10 dengan tema Sempurna di dalam Kristus.
Mari mempersiapkan diri dengan telah mempelajari pelajaran sekolah sabat ini di tempat kita masing-masing. Oleh kerana program ini tidak menggantikan tanggungjawab peribadi kita. Saya Pendeta Edward Tali Wongso bersama dengan Pendeta Felix Gosal dan Pendeta Widodo Purwanto akan menolong dalam pendalaman Alkitab kita pada kesempatan ini.
Mari kita berdoa. Bapa yang penuh kasih, kami datang kembali kepada-Mu memohon pertolongan Tuhan ketika kami akan mempelajari firman-Mu. Bukalah hati dan fikiran kami. Di dalam nama Yesus kami sudah berdoa. Amin.
Ada empat bahagian dalam program ini. Yang pertama kita melihat dasar Alkitabiah. Yang kedua, kita cuba menggali makna dari ayat hafalan. Yang ketiga, pokok fikiran yang muncul dari pelajaran hari per hari. Dan di bahagian akhir kita tiba kepada aplikasi.
Mari kita mulakan dasar Alkitabiah. Kolose fasal 2. Di dalam Kristus berdiam seluruh kepenuhan keilahian dan orang percaya telah dipenuhi di dalam Dia serta dipersatukan dengannya melalui iman. Paulus menegaskan bahawa keselamatan bukan melalui hukum, tradisi atau asketisme, melainkan melalui karya salib Kristus.
Ibrani 7 ayat 11. Kesempurnaan tidak tercapai melalui Imamat Lewi sehingga diperlukan kebangkitan imam lain menurut peraturan Melkisedek. Ini menunjukkan bahawa sistem lama tidak final dan menunjuk kepada imamat Kristus yang lebih sempurna.
Yesaya 61 ayat 3. Allah mengganti dukacita umat-Nya dengan keindahan, sukacita, dan pujian sehingga mereka disebut pohon tarbantin kebenaran bagi kemuliaan-Nya.
1 Korintus 3 ayat 6. Paulus menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Pelayanan manusia penting, tetapi hasil rohani bergantung pada kuasa Allah.
Ulangan 31 ayat 24 hingga 26. Setelah Musa selesai menuliskan hukum Taurat, kitab itu ditempatkan di samping tabut perjanjian sebagai saksi terhadap Israel. Taurat berfungsi sebagai standard perjanjian dan pengingat kesetiaan umat kepada Allah.
Roma 2 ayat 28-29. Orang Yahudi sejati bukan ditentukan oleh tanda lahiriah, tetapi oleh sunat hati oleh roh.
Roma 7 ayat 7. Hukum itu kudus bukan dosa. Justeru melalui hukum manusia mengenal dosa.
Sekarang kita melihat pengertian judul sempurna di dalam Kristus. Apa pengertian sempurna dalam konteks pelajaran ini? Dalam konteks kitab Kolose sempurna bererti lengkap, dewasa atau matang secara rohani di dalam Kristus. Sesuai dengan Kolose 1 ayat 28. Kolose 2 ayat 6 dan 7. Kesempurnaan bukan bererti tanpa salah secara absolut, tetapi kedewasaan iman yang bertumbuh dalam pengetahuan, dalam kasih, dan dalam keteguhan dalam Kristus.
Mengapa kesempurnaan itu harus di dalam Kristus? Jawabannya, kerana hanya Kristus yang adalah kepenuhan keilahian, satu-satunya sumber keselamatan. Kesempurnaan tidak diperoleh melalui falsafah manusia ataupun melalui tradisi atau asketisme atau bahkan juga ritual, tetapi melalui persatuan dengan Kristus dan kepercayaan penuh kepada salib-Nya.
Apa yang menjadi sempurna? Adakah menjadi sempurna adalah sebuah perintah? Jawabannya adalah ya. Dalam erti panggilan dan tujuan rohani. Paulus mendesak jemaat untuk bertumbuh menuju kedewasaan. Kolose 1 ayat 28, Kolose 2 ayat 6 hingga 7. Sehingga kesempurnaan itu adalah tujuan ilahi yang harus direspons oleh orang percaya. Tetapi itu bukan tuntunan legalistik, melainkan proses yang Allah sendiri kerjakan di dalam diri setiap manusia. Filipi 1 ayat 6.
Bilakah orang Kristian dituntut untuk menjadi sempurna? Kesempurnaan adalah proses seumur hidup hingga hari Yesus Kristus. Filipi 1 ayat 6. Ingat, pertobatan terjadi seketika, tetapi kedewasaan rohani berlangsung terus-menerus. Orang Kristian dipanggil untuk bertumbuh sekarang dan terus bertumbuh hingga kedatangan Kristus.
Apa kira-kira penghalang bagi orang-orang percaya untuk mencapai kesempurnaan? Kalau kita baca Kolose 2, maka ada beberapa penghalang mencapai kesempurnaan. Yang pertama adalah falsafah dan tradisi manusia. Kolose 2 ayat 8. Yang kedua, menaruh percaya pada ritual atau hukum seremonial sebagai dasar keselamatan. Yang ketiga, asketisme atau legalisme. Kolose 2 ayat 22 hingga 23. Yang keempat adalah ajaran palsu yang tidak berpusat pada Kristus. Dan yang kelima, oleh kerana kurangnya pengetahuan akan firman Tuhan. Jadi, apa pun yang mengalihkan fokus dari Kristus menjadi penghalang kedewasaan rohani.
Jika demikian, bagaimana langkah-langkah agar orang Kristian mencapai kesempurnaan? Ada beberapa hal. Yang pertama, dia harus tinggal di dalam Kristus, berakar di dalam Kristus. Yang kedua, dia harus bertumbuh di dalam firman. Melalui firman, dia akan terlindung dari ajaran-ajaran palsu. Yang ketiga, dia harus bertumbuh di dalam iman. Iman yang diteguhkan membuat tidak mudah digoyahkan. Yang keempat, bertumbuh di dalam kasih. Yang kelima, percaya sepenuhnya kepada karya salib Yesus Kristus, bukan hasil usaha manusia. Dan yang keenam, memahami peranan dari hukum moral. Ingat, hukum bukan sarana keselamatan, tetapi penunjuk karakter Allah dan kehendak-Nya bagi kita manusia.
Ellen White dalam Our High Calling 152 mengatakan peranan dari Roh Kudus untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. Dia katakan Tuhan Yesus bertindak melalui Roh Kudus sebab Dialah wakil-Nya. Melalui Roh Kudus Ia menanamkan kehidupan rohani ke dalam jiwa, menghidupkan energinya untuk kebaikan, membersihkannya dari noda moral, dan memberinya kesiapan untuk kerajaan-Nya. Roh Kudus adalah penasihat yang ajaib, tak terbatas dalam hikmat dan kekuatan. Dan jika kita mengakui kuasa Roh-Nya dan bersedia dibentuk oleh-Nya, kita akan berdiri sempurna di dalam Dia.
Kita tiba pada ayat hafalan Kolose 2 ayat 16 dan 17. Kerana itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat. Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang sedang wujudnya ialah Kristus.
Nah, mari kita lihat apa masalah yang dihadapi jemaat Kolose saat Paulus menulis surat ini dan mengapa orang-orang di sana mula bimbang tentang makanan, hari raya, dan juga hari Sabat. Nah, saudara-saudaraku yang terkasih, masalah yang dihadapi jemaat Kolose bukan berasal dari satu sumber. Tetapi ini adalah perpaduan yang sangat berbahaya, iaitu di sana ada falsafah Yunani yang menganggap tubuh jahat dan roh itu baik. Kemudian yang kedua di sana ada legalisme Yahudi yang menekankan sunat dan ritual makanan sebagai syarat keselamatan. Dan yang ketiga ada mistikisme yang menyembah malaikat sebagai perantara kepada Allah.
Inti ancaman bukan pada makanan atau hari raya itu sendiri, tetapi ada pesan yang tersirat, iaitu Kristus sahaja tidak cukup. Guru palsu di sana memaksakan mereka untuk mengikuti pelbagai ritual sebagai syarat untuk menjadi orang Kristian sejati.
Nah, kalau begitu apa pengertian makanan dan minuman di dalam konteks ini? Dan sesuai dengan ini 7 Day Adventist Bible Commentary jilid 7 halaman 205-206 di sana mengatakan kata-kata ini tidak diragukan lagi merujuk pada persembahan makanan dan minuman yang dipersembahkan oleh orang Israel sesuai dengan sistem pengorbanan yang dikodifikasi dalam hukum upacara. Orang Kristian tidak lagi berkewajipan untuk melaksanakan persyaratan hukum upacara. Persembahan makanan dan minuman ini telah dipenuhi di dalam Kristus.
Nah, kalau begitu apa pengertian hari Sabat di dalam ayat ini? Adakah Sabat di sini merujuk pada hari ketujuh dalam Minggu? Nah, saudara-saudara, di dalam Alkitab kata sabat sering digunakan untuk merujuk juga pada hari-hari sabat tahunan di dalam kalendar Yahudi. Kita boleh baca itu di dalam Imamat fasal 23 ayat 24 kemudian 32 dan 39. Di dalam Imamat fasal 23 di sana ada kata hari raya, kemudian bulan baru, dan sabat baru. Dan kata-kata ini selalu disebutkan bersamaan sebagai satu rangkaian dari hari kudus tahunan. Dan ini tidak merujuk pada sabat mingguan yang sudah ada sejak penciptaan kejadian fasal 2 ayat 2 dan 3.
Oleh kerana itu, konteks Kolose 2 ayat 16 yang menyebut hari raya, bulan baru, dan juga hari Sabat jelas menunjukkan jika Paulus sedang membahas sistem upacara tahunan yang merujuk pada kitab Imamat. Hari Sabat hari ketujuh ditetapkan pada penciptaan kejadian fasal 2 ayat 2 dan 3. Dimasukkan ke dalam 10 perintah Allah Keluaran fasal 20 ayat 8 hingga 11 dan disebut sebagai tanda perjanjian kekal antara Allah dan umat-Nya. Keluaran 31 ayat 13 dan 17. Sedangkan sabat tahunan adalah bahagian dari sistem korban yang ditetapkan dalam Taurat dan berhenti berlaku setelah Kristus mati di kayu salib. Kolose 2 ayat 14 hingga 17.
Perbezaan ini sangat penting oleh kerana sabat mingguan ini adalah memorial penciptaan dan penebusan yang kekal. Sedangkan sabat tahunan adalah bayangan yang digenapi oleh Kristus. Dan di sini Paulus sendiri tetap memelihara hari Sabat, iaitu Sabat di dalam mingguan setelah dia menulis surat kepada jemaat di Kolose. Bukti bahawa ia tidak mengajarkan bahawa hari Sabat hari ketujuh tidak perlu dirayakan lagi. Kisah fasal 14 ayat 14 kemudian 42 hingga 44 kemudian 16 ayat 13, 17 ayat 2, dan 18 ayat 4. Di sana Paulus secara konsisten beribadah pada hari Sabat hari ketujuh. Bahkan di tengah-tengah jemaat bukan Yahudi. Jika Paulus mengajarkan bahawa sabat mingguan sudah dihapus, ia pasti tidak akan terus melakukannya. Dan fakta ini menunjukkan bahawa Kolose 2 ayat 16 tidak merujuk pada sabat penciptaan atau sabat mingguan, sabat ketujuh, tetapi ini adalah sabat upacara tahunan.
Di dalam Seven Day Adventist Bible Commentary jilid 7 halaman 206. Hari-hari Sabat yang Paulus nyatakan sebagai bayangan yang menunjuk atau merujuk pada Kristus tidak dapat merujuk pada sabat mingguan yang ditetapkan oleh perintah keempat, tetapi harus menunjukkan hari-hari istirahat seremonial yang mencapai perwujudannya di dalam Kristus.
Nah, kalau begitu apa pengertian bayangan dalam ayat ini? Nah, saudara, kata bayangan atau skia ini adalah gambar samar yang menunjukkan pada realiti yang nyata, tetapi bukan pengganti realiti itu sendiri. Di dalam budaya Yunani Romawi, bayangan tidak pernah menggantikan benda asalnya. Bayangan pokok menunjukkan kepada pokok yang nyata. Bayangan salib menunjukkan kepada salib yang nyata. Demikian juga hari raya Yahudi iaitu Paska, Pentakosta, Pendamaian. Itu adalah bayangan yang menunjuk atau merujuk kepada realiti yang nyata, iaitu kematian, kemudian kebangkitan, dan pelayanan Yesus di tempat kudus surgawi. Setelah realiti itu datang, iaitu Yesus Kristus, bayangannya tidak lagi diperlukan, tetapi realitinya tetap kekal.
Sekarang kita masuk pada pokok pembahasan hikmat dan pengetahuan Allah. Apa yang dimaksudkan dengan hikmat dan pengetahuan Allah dan bagaimana kita boleh memiliki serta memahaminya? Hikmat dan pengetahuan Allah sederhananya merujuk pada fikiran-fikiran Allah dan jalan-jalan-Nya yang tak terselami. Roma 11 ayat 33. Oh alangkah dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah. Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya. Firman Tuhan dalam Yesaya 55 ayat 9 mengatakan, "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." Patriarchs and Prophets halaman 116. Tidak ada fikiran yang terbatas yang dapat sepenuhnya memahami keberadaan, kekuatan, kebijaksanaan, atau karya-karya Dia yang tak terbatas.
Paulus menyebut itu sebagai suatu rahsia atau sesuatu yang tersembunyi. 1 Korintus 2 ayat yang ke-7 katakan, "Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahsia yang sebelum dunia dijadikan telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita." Nah, Jack Cotrell dalam College Press and IV Commentary Romans volume 2 mengatakan bahawa hikmat Allah dalam konteks ini merujuk pada pemikiran Allah dalam rencana-Nya untuk keselamatan umat manusia. Sedangkan pengetahuan Allah menunjuk pada kemahatahuan Allah atau pengetahuan-Nya yang menyeluruh tentang segala sesuatu, termasuk tentang pilihan bebas manusia yang Ia pertimbangkan dan sertakan dalam rencana keselamatan itu. Itulah sebabnya dalam Kolose 2 ayat 2 Paulus tegas menyebutkan bahawa Kristuslah rahsia Allah itu.
Jadi pertanyaannya yang lebih tepat, bukanlah apa hikmat dan pengetahuan Allah itu, melainkan siapa hikmat dan pengetahuan Allah itu dan jawabannya ialah Kristus. 1 Korintus 1 ayat 24 menyatakan bahawa Kristuslah kekuatan dan hikmat Allah itu. Mengapa Kristus? Kolose 1 ayat 19 katakan, "Kerana seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia." Kemudian Kolose 2 ayat 3 katakan, "Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta, hikmat dan pengetahuan."
Sekarang bagaimana kita boleh memiliki dan memahaminya? Kita boleh memiliki hikmat dan pengetahuan Allah itu bila kita percaya dan menerima Kristus melalui iman. Kemudian kita boleh memahaminya yang pertama melalui Roh Kudus. 1 Korintus 2 ayat 10, 12, dan 16. Kerana kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh. Sebab roh menyelidiki segala sesuatu bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Kita tidak menerima roh dunia tetapi roh yang berasal dari Allah supaya kita tahu apa yang dikurniakan Allah kepada kita. Sebab siapakah yang mengetahui fikiran Tuhan sehingga Ia dapat menasihati Dia? Tetapi kami memiliki fikiran Kristus. Jadi yang pertama melalui Roh Kudus. Yang kedua, dengan mempelajari akan firman-Nya. Christ Object Lesson halaman 107 katakan, "Alkitab adalah sumber kekayaan yang tidak terkira dari Kristus." Amsal 2 ayat 6. Kerana Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Semakin kita mempelajari firman-Nya, semakin kita akan memahami hikmat dan pengetahuan Allah itu.
Nah, apa keuntungan memiliki hikmat dan pengetahuan Allah? Dan sebaliknya apa kerugian bila tidak memilikinya? Keuntungan yang pertama ialah kita akan memahami rencana keselamatan Allah melalui Kristus dan kemudian kita akan selalu bersyukur. Christ Object Lesson halaman 113 menjelaskan bahawa kebenaran-kebenaran yang sangat penting yang menjadi dasar keselamatan jiwa akan ditanamkan dalam fikiran dan jalan hidup menjadi begitu jelas sehingga tidak ada yang akan tersesat di dalamnya. Melalui iman yang benar. Pengetahuan ilahi akan menjadi pengetahuan manusia. Misteri penebusan, inkarnasi Kristus dan pengorbanan penebusan-Nya tidak akan lagi samar-samar dalam fikiran kita. Mereka tidak hanya akan lebih difahami, tetapi juga lebih dihargai.
Yang kedua, kita akan diubahkan serupa dengan Allah. Dari sumber yang sama, Christ Object Lesson halaman 113. Syurga akan membuka bilik-bilik kasih kurnia dan kemuliaan-Nya untuk dieksplorasi. Manusia akan menjadi sangat berbeza dari apa mereka sekarang. Kerana dengan mengeksplorasi lombong kebenaran manusia akan dimuliakan. Pengetahuan tentang Allah dan Yesus Kristus yang telah Dia utus mengubah manusia menjadi serupa dengan gambar Allah. Ia memberikan kepada manusia kuasa atas dirinya sendiri. Membawa setiap dorongan dan nafsu dari alam bawah sedar di bawah kawalan kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dari fikiran. Ia menjadikan pemiliknya sebagai anak Allah dan pewaris syurga. Ia membawanya ke dalam persekutuan dengan fikiran yang maha kuasa dan membuka baginya harta karun yang kaya dari alam semesta.
Yang ketiga, segala berkat Allah disediakan bagi kita. God's Amazing Grace halaman 178. Melalui anugerah Kristuslah kita menerima setiap berkat. Melalui anugerah itu setiap hari mengalir kepada kita aliran kebaikan Yehova yang tidak pernah putus. Segala sesuatu disediakan bagi manusia melalui kurnia yang tak terkatakan itu anak tunggal Allah. Ia disalibkan agar segala berkat ini dapat mengalir kepada karya tangan Allah. Seven Day Adventist Bible Commentary volume 7 halaman 200 katakan bahawa Kristus adalah tempat penyimpanan hikmat dan pengetahuan. Mereka yang menerima Yesus telah sampai pada sumber segala yang mereka perlukan untuk kehidupan ini dan juga untuk kehidupan yang akan datang.
Intinya disampaikan Paulus dalam 1 Korintus 1 ayat 30, "Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita." Jadi manusia duniawi menurut 1 Korintus 2 ayat 14 tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah ini. Dengan kata lain menolak hikmat dan pengetahuan Allah. Dan tentu mereka tidak memperoleh pembenaran, pengudusan dan menerima manfaat pendamaian dalam penebusan melalui Kristus Yesus. Mereka tidak memiliki pengharapan akan keselamatan dan hidup kekal dalam Kristus Yesus.
Nah, dalam konteks pelajaran sekolah sabat khususnya kitab Kolose, apa sebenarnya kerinduan Paulus dalam mendorong umat percaya mengenal Kristus sebagai hikmat dan pengetahuan Allah? Yang pertama menurut Kolose 2 ayat 2 adalah untuk menguatkan dan mendorong mereka. Yang kedua adalah untuk mempersatukan mereka dalam iman dan kasih Kristian. Dan yang ketiga menurut ayat 4 dan 5 adalah untuk membantu mereka mengenali ajaran-ajaran palsu, hidup tertib, dan teguh dalam iman mereka. Kolose 2 ayat 4 dan 5 katakan, "Hal ini kukatakan supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah. Sebab meskipun aku sendiri tidak ada di antara kamu, tetapi dalam roh aku bersama-sama dengan kamu dan aku melihat dengan sukacita tertib hidupmu dan keteguhan imanmu dalam Kristus." Nah, ketertiban hidup ini berhubungan dengan adanya peraturan gereja dan juga sejalan dengan kehendak Allah yang menginginkan keteraturan dalam tubuh gereja-Nya sesuai dengan 1 Korintus 14 ayat 40 untuk menolong memelihara iman dan juga praktik hidup dari umat-umat percaya.
Baik, terima kasih pendeta. Sekarang kita tiba kepada tema berakar dan bertumbuh di dalam Kristus. Menurut Kolose 2 ayat 6, apa sebenarnya prinsip utama dari kehidupan seorang Kristian? Rasul Paulus menyatakan bahawa sebagaimana kita telah menerima Kristus sebagai Tuhan, maka kita juga harus hidup tetap di dalam Dia. Kalau kita menerima Kristus, bererti kita menerima dua hal. Yang pertama adalah peribadi-Nya, kemudian juga adalah ajaran-ajaran-Nya. Jadi, kita perlu tinggal di dalam Kristus.
Kemudian yang berikut adalah erti metafora berakar di dalam Kolose 2 ayat 7. Apa ertinya? Metafora tanaman yang digunakan ini menggambarkan bahawa orang percaya itu berakar dalam Kristus sebagai sumber kehidupan. Orang percaya itu bertumbuh melalui firman dan pengaruh Roh Kudus dan kemudian menjadi teguh dan tidak mudah diombang-ambingkan.
Seterusnya, apa makna teologis dari frasa mati terhadap diri sendiri? Mati terhadap diri sendiri bererti kita menyerahkan kehendak peribadi kita kepada Kristus. Lukas 9 ayat 23 bererti kita tidak lagi hidup berpusat pada ego kita manusia. Lalu kemudian bererti kita hidup dalam ketergantungan penuh kepada anugerah Allah. Dan ini adalah inti dari pertobatan yang sesungguhnya.
Mengapa proses mati terhadap diri sendiri itu harus berlangsung terus-menerus? Jawabannya adalah oleh kerana dosa dan ego terus berusaha untuk bangkit kembali. Jadi walaupun dimatikan, tetapi dosa akan berusaha untuk hidup kembali. Yang kedua, pertumbuhan rohani itu tidak statik, tetapi dia bersifat progresif. Yang ketiga, setiap hari kita harus memilih hidup di dalam Kristus. Hidup setiap hari adalah pilihan yang sedar.
Apa tanda bahawa seseorang itu betul-betul berakar di dalam Kristus? Ada beberapa tanda. Yang pertama, ia stabil dan cenderung bertumbuh di dalam iman dan kepercayaannya, bukan malah menurun. Yang kedua, dia kukuh dan tidak mudah terseret oleh ajaran baru, ajaran yang sifatnya sensasional atau kontroversial. Kemudian orang ini akan menghasilkan buah roh di dalam kehidupan sehari-hari, kasih, sukacita, damai sejahtera dan seterusnya.
Ellen White dalam God's Amazing Grace halaman 197 membuat analogi tentang pertumbuhan orang Kristian dengan sebuah tanaman. Dia katakan, "Tanaman tumbuh dengan menerima apa yang telah Allah sediakan untuk mempertahankan hidupnya." Demikian pula pertumbuhan rohani dicapai melalui kerjasama dengan kuasa ilahi. Seperti tanaman yang berakar di tanah, demikian pula kita harus berakar di dalam Kristus. Seperti tanaman yang menerima sinar matahari, embun, dan hujan, demikian pula orang Kristian harus menerima Roh Kudus.
Kita tiba pada pokok diskusi mengenai dipakukan pada kayu salib. Nah, di dalam Efesus fasal 2 ayat 14-15, Paulus mengatakan jika Kristus membatalkan hukum Taurat dan segala ketentuannya untuk mempersatukan Yahudi dan bukan Yahudi. Nah, mengapa hukum ini disebut tembok pemisah?
Nah, saudara-saudaraku yang terkasih, di bait suci Yerusalem zaman dulu ada tembok batu nyata yang memisahkan halaman orang Yahudi dari halaman orang bukan Yahudi atau bangsa lain. Selain tembok pemisah ini, sistem upacara telah dijadikan sistem hukum yang membuat dua kelompok ini tidak boleh bersatu dalam persekutuan. Sehubungan dengan ini, Seven Day Adventist Bible Commentary jilid 6 halaman 1009 mengatakan jika menjelaskan jika ada pembatas di dalam bait suci yang memisahkan pelataran orang bukan Yahudi dari pelataran orang Yahudi.
Tetapi perlu diingat bahawa sistem upacara sebagaimana yang diberikan Allah tidak menciptakan permusuhan yang digambarkan Paulus di sini. Penafsiran yang diberikan orang Yahudi terhadapnya atau tambahan yang mereka buat dan sikap eksklusif dan bermusuhan yang mereka adopsi sebagai akibatnya adalah dasar dari permusuhan tersebut. Setiap orang bukan Yahudi yang ingin bergabung dengan persekutuan Israel dihadapkan pada sistem persyaratan hukum yang rumit. Dan sistem Yahudi dengan demikian berdiri sebagai penghalang yang tak teratasi, tembok pemisah yang mencegah orang bukan Yahudi menerima penyembahan Allah yang sejati. Orang Yahudi membenci dan jijik terhadap jiran mereka yang bukan Yahudi. Dan sebaliknya, orang bukan Yahudi membenci dan menghina jiran mereka yang Yahudi.
Tetapi kita belajar bahawa kematian Yesus di kayu salib telah merobohkan tembok ini dengan cara iaitu Yesus telah menggenapi hukum upacara dan kematian-Nya sebagai domba Paska yang sesungguhnya. Oleh kerana itu, hukum yang dibatalkan di sini adalah hukum upacara yang digenapi Yesus disalib. Dan ini berbeza dengan 10 perintah Allah. Yang dihapus adalah tembok ritual yang memisahkan dan yang tetap ada adalah hukum moral yang menyatukan semua manusia di bawah standard kekudusan Allah.
Nah, mungkin kita bertanya mengapa kita perlu memahami jika yang dipakukan di salib adalah hukum upacara bukan 10 perintah Allah? Adakah ada bahaya jika kita menyamakan keduanya? Nah, saudara, tentu ada bahaya. Ada tiga bahaya jika kita menyamakan hukum upacara dengan hukum moral. Bahaya yang pertama, jika 10 perintah Allah sudah dihapus di salib, maka kita kehilangan cermin untuk melihat dosa kita sendiri. Tanpa hukum moral yang menyatakan jangan bersinang, jangan mencuri, jangan mengingini, kita tidak akan sedar jika kita perlukan pengampunan. Menyamakan hukum upacara dengan hukum moral bererti kita sementara menghilangkan fondasi Injil itu sendiri.
Kemudian bahaya yang kedua adalah ini dapat mengaburkan perbezaan antara yang sementara atau bayangan dan yang kekal iaitu realiti. Hukum upacara adalah bayangan yang merujuk kepada Kristus yang akan datang. Setelah Kristus datang dan mati di kayu salib, bayangan itu tidak diperlukan lagi. Tetapi 10 perintah Allah ini adalah cermin karakter Allah yang kekal, tidak berubah sebelum atau sesudah salib dan menyamakan keduanya. Bererti kita menganggap bahawa karakter Allah itu dapat berubah setelah salib dan sebelum salib. Ibrani 13 ayat 8 menegaskan bahawa Kristus tetap sama baik semalam mahupun hari ini dan hingga selama-lamanya. Hukum-Nya adalah cermin dari karakter-Nya. Kalau Yesus tetap sama, hukum-Nya juga tidak pernah akan berubah.
Dan bahaya yang ketiga, jika kita menyamakan hukum upacara dengan hukum moral, kita sementara membuka pintu bagi antinomianisme, iaitu hidup tanpa standard moral. Jika orang percaya berfikir bahawa hukum sudah dihapus di salib, maka mereka mudah terjebak dalam pemikiran. Kerana saya telah diselamatkan oleh kasih kurnia, saya bebas berbuat dosa. Memahami perbezaan antara hukum upacara dan hukum moral melindungi kita dari dua ekstrem, iaitu legalisme bergantung pada ritual untuk diselamatkan dan antinomianisme iaitu mengabaikan kekudusan kerana merasa sudah diselamatkan.
Kita pindah pada pokok pembahasan bayangan atau substansi. Apa yang dimaksudkan dengan bayangan dan apa yang dimaksudkan dengan substansi? Seven Day Adventist Bible Commentary volume 7 halaman 206 menjelaskan bahawa bayangan adalah simbol yang melambangkan atau menunjuk pada sesuatu yang real atau wujud nyatanya. Merujuk pada kata Yunaniskia, bayangan bererti sesuatu yang tidak memiliki substansi penuh, hanya gambaran sementara dan menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar atau wujud dari apa yang dibayangkan atau dilambangkannya.
Nah, contoh lain penggunaan kata Yunaniskia atau bayangan dalam Alkitab terdapat dalam Ibrani 8 ayat 5 yang berbicara tentang bait suci dan pelayanan-Nya. Dikatakan bahawa pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di syurga. Sama seperti yang diberitahukan kepada Musa ketika ia hendak mendirikan kemah. Ingatlah demikian firman-Nya bahawa Engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepada-Mu di atas gunung itu.
Nah, dalam konteks Kolose 2 ayat 16 dan 17, Paulus mengatakan, "Kerana itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru, ataupun hari Sabat. Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang. Sedang wujudnya ialah Kristus." Saudara, frasa semuanya itu hanyalah bayangan skia merujuk pada hukum makanan, hari raya Yahudi, bulan baru, serta sabat-sabat seremonial. Seven Day Adventist Bible Commentary volume 7 halaman 206 kembali menambahkan bahawa upacara-upacara Yahudi hanyalah gambaran atau bayangan dari kenyataan surgawi. Dan upacara-upacara itu bukan salah atau sia-sia, tetapi sifatnya sementara dan menunjuk ke depan kepada wujud nyata yang akan datang.
Ibrani 10 ayat 1 katakan, "Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan sahaja dari keselamatan yang akan datang dan bukan hakikat dari keselamatan itu sendiri. Kerana itu dengan korban yang sama yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bahagian di dalamnya." Itulah sebabnya pada Kolose 2 ayat 17, Paulus dengan jelas dan tegas mengatakan bahawa wujudnya ialah Kristus. Jadi substansi yang dimaksudkan di sini kata Yunaninya soma secara harfiah bererti tubuh atau wujud nyata yang dalam hal ini ialah Kristus sendiri.
Nah, jika bayangan adalah gambaran samar maka wujud adalah realiti sesungguhnya. Paulus mengatakan bahawa Kristus adalah realiti yang selama ini ditunjukkan oleh bayangan-bayangan tersebut. Seven Day Adventist Bible Commentary volume 7 halaman 206. Berbeza dengan bayangan, Yesus adalah kepenuhan kenyataan. Kepada-Nyalah setiap gambaran menunjuk dan di dalam-Nyalah setiap simbol mencapai kepenuhannya. Hidup, pelayanan, dan kerajaan Kristus adalah kenyataan. Jadi, Yesuslah dalam kehidupan pengorbanan dan pelayanan-Nya yang merupakan wujud dari apa yang digambarkan dalam upacara-upacara Yahudi sesuai dengan yang diatur dalam hukum Taurat.
Nah, pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan hukum makanan haram atau halal serta hari Sabat? Dalam konteks Kolose 2 ayat 16 dan 17, Seven Day Adventist Bible Commentary volume 7 halaman 205 hingga 206 memberi penjelasan yang cukup tegas bahawa yang pertama nasihat Paulus di sini tidak diragukan lagi merujuk pada persembahan makanan minuman yang disajikan di bait suci oleh orang Israel sesuai dengan sistem persembahan korban yang diatur dalam hukum upacara. Dan itu bukan tentang haram dan halal yang aturannya sudah ada jauh sebelum ada hukum upacara. Sebagaimana dinyatakan dalam Kejadian 7 ayat yang kedua. Dan menurut Paulus, orang Kristian tidak diwajibkan lagi untuk melaksanakan persyaratan hukum upacara, termasuk mempersembahkan makanan dan minuman yang pemenuhannya ada dalam Kristus.
Yang kedua, bahawa ketentuan atau aturan yang berisi perintah untuk merayakan pelbagai hari raya atau festival seperti hari raya Paska, hari raya roti tak beragi, Pentakosta, hari pendamaian, dan hari raya pondok daun sesuai dengan yang tercatat dalam Imamat fasal 23 termasuk bulan baru atau hari pertama setiap bulan atau biasa disebut hari bulan baru sesuai dengan bilangan 10 ayat 10, 28 ayat 11 juga 1 Samuel fasal 20 ayat 5 dan Yesaya 66 ayat 23 telah digenapi dalam wujud nyatanya yakni Kristus sendiri.
Yang ketiga, mengenai hari-hari sabat yang dinyatakan Paulus sebagai bayangan yang menunjuk kepada Kristus tidak dapat merujuk pada sabat mingguan atau sabat hari yang ketujuh yang ditetapkan oleh perintah keempat. Sebab itu telah ada sejak penciptaan, tetapi mengacu pada hari-hari istirahat upacara menurut Imamat 23 ayat 6 hingga 8, 15, 16, 21, 24, 25, 27, dan 28 yang mencapai penyempurnaannya di dalam Kristus dan kerajaan-Nya.
Sekarang apa implikasi rohaninya bagi kita? Upacara-upacara Yahudi yang merupakan bayangan atau gambaran telah menyelesaikan fungsinya dan sekarang Kristus. Kenyataan yang sesungguhnya telah datang. Dan dalam menemukan Kristian Kristus, orang Kristian berpaling dari garis-garis bayangan yang hanyalah simbol atau gambaran dan kini berjalan dalam kepenuhan kehadiran ilahi melalui Kristus. Namun demikian, dalam seluruh argumen ini, Paulus sama sekali tidak meremehkan atau meniadakan tuntutan dekalog atau sabat hari yang ketujuh. Dalam pandangan Paulus, hukum moral adalah kekal dan juga sempurna. Menurut Roma 3 ayat 31 dan Roma 7 ayat yang ke-12. Seven Day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 10 katakan hukum upacara yang menunjuk kepada Kristus secara alami berakhir ketika Kristus memenuhi gambaran-gambaran dalam hukum tersebut. Hukum sivil Yahudi telah sebahagian besar lenyap seiring dengan hilangnya kedaulatan bangsa tersebut. Namun perintah-perintah moral yang merupakan cerminan karakter Allah sama abadinya dengan Allah sendiri dan tidak pernah dapat dicabut. Kita di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Namun itu tidak membuat kita melanggar hukum-hukum Tuhan. 10 hukum moral untuk kita berbuat dosa terhadap Allah sendiri.
Berikutnya kita akan melihat tema perintah-perintah manusia. Nah, menurut Kolose 2 ayat 20 hingga 23, apa sesungguhnya yang Paulus kritik di dalam ayat ini? Kalau kita baca baik-baik bahawa Paulus mengkritik pelbagai larangan seperti jangan jamah, jangan kecap atau jangan sentuh. Paulus menyebutkan ini sebagai ajaran dan perintah manusia. Praktik tersebut memang terlihat bijaksana dan rohani, tetapi tidak memiliki kuasa untuk mengalahkan hawa nafsu duniawi.
Apa hubungan antara roh-roh dunia ini dan upacara-upacara Yahudi? Kalau kita baca dalam Kolose 2 ayat 8 dan ayat 20, Paulus menyebut praktik-praktik legalistik itu sebagai bahagian dari sistem dunia yang sementara. Ditegaskan juga dalam Galatia 4 ayat 3 dan 9, unsur-unsur tersebut termasuk dalam tatanan lama yang telah digenapi di dalam Kristus. Jadi, upacara-upacara itu adalah bayangan, bukan realiti kekal.
Peristiwa apa yang menandakan berakhirnya sistem upacara ini? Jawabannya adalah ketika Yesus mati, tabir Bait Suci terbelah dua. Kita baca di dalam Matius 27 ayat 51. Lalu ada nubuat di dalam Daniel 9 ayat 27 menunjukkan penghentian korban dan persembahan. Ini menandakan bahawa sistem bayangan telah mencapai penggenapannya.
Apa kira-kira bahaya kalau orang Kristian masih tetap mempertahankan upacara-upacara tersebut? Nah, yang pertama boleh berubah menjadi beban rohani. Kemudian dapat menumbuhkan kesombongan rohani. Lalu yang ketiga, bahkan tanpa sedar dianggap itu berjasa untuk keselamatannya.
Apa yang apa yang dimaksudkan Paulus dengan perintah-perintah manusia? Perintah-perintah manusia yang dia maksudkan adalah regulasi atau aturan-aturan agama yang tidak lagi bersumber pada autoriti Allah dalam konteks keselamatan, melainkan berasal dari tradisi atau interpretasi manusia. Jadi, Yesus sendiri menegur praktik ini. Kalau kita baca di Markus 7 ayat 1 hingga 13. Pada waktu tradisi manusia menggeser hukum Allah, maka Yesus menegur dan berbicara dengan keras.
Stephen Cole dalam How Not to Be Godly dalam dia mengulas Kolose 2 ayat 20 hingga 23 mengulas tentang aturan-aturan atau perintah-perintah manusia ini. Dia katakan kemungkinan besar ertinya seperti yang disetujui oleh sebahagian besar terjemahan moden adalah bahawa meskipun aturan-aturan guru-guru palsu tersebut tampaknya mempromosikan kesalehan, tetapi pada kenyataannya aturan-aturan tersebut tidak berguna melawan kesenangan daging. Banyak orang yang salah memahami bahawa legalisme berada pada satu hujung lalu kemudian kebebasan berlebihan berada di hujung yang lain. Lalu kasih kurnia sebagai titik keseimbangan di tengah. Tidak demikian. Sebenarnya legalisme dan kebebasan tanpa batas adalah dua sisi dari syiling yang sama. Mengapa? Kerana duanya beroperasi di dalam daging. Oleh kerana itu, Yesus menuduh para Farisi yang legalistik sebagai orang-orang yang telah penuh dengan kesenangan diri, segala kekotoran, dan ketidaktaatan terhadap hukum. Matius 23 ayat 25, 27, dan 28.
Kalau begitu, kerana Paulus berkata demikian, adakah bererti hukum Allah itu telah dihapuskan? Jawabannya, tidak. Hukum moral 10 perintah itu bersifat kekal. Sementara hukum upacara yang berhubungan dengan korban ritual dari Bait Suci itu bersifat tipologis dan itu telah digenapi di dalam Kristus. Jadi Kolose 2 berbicara tentang sistem bayangan bukan penghapusan hukum moral Allah.
Jika demikian, apa yang menjadi satu-satunya dasar keselamatan? Menurut Rasul Paulus, yang menjadi keselamatan itu adalah karya Kristus yang objektif. Tiga hal. Yang pertama adalah kematian-Nya yang menggantikan kita. Yang kedua adalah kebangkitan-Nya yang menjamin kemenangan kita. Dan yang ketiga adalah pendamaian-Nya yang cukup dan sempurna. Jadi keselamatan itu bukan berdasarkan upacara, ritual, prestasi rohani atau kebaikan moral. Tidak. Transformasi moral itu adalah buah dari keselamatan, bukan dasar keselamatan.
Legalisme itu berbahaya di zaman lalu dan juga tetap berbahaya di zaman ini. Mengapa berbahaya? Kerana legalisme menggeser fokus dari Kristus kepada diri sendiri. Yang kedua, legalisme menjadikan perbuatan kita sebagai dasar penerimaan Allah. Dan yang ketiga, legalisme mengambil peranan Roh Kudus di dalam membimbing hati nurani. Dan ini bertentangan dengan Injil anugerah.
Bagaimana kita dapat terhindar dari legalisme moden? Stephen Cole dalam How Not to Be Godly mengulas Kolose 2 ayat 20 hingga 23. Dia mengatakan, "Aturan buatan manusia dan pembatasan luar mereka tidak dapat mengatasi daging." Jawabannya adalah hanya Roh Kudus yang tinggal di dalam kita yang dapat membuat kita kudus dengan menghasilkan buahnya iaitu pengendalian diri. Legalisme berbahaya. Kita harus berhati-hati. Dan satu-satunya pengharapan kita hanyalah Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita.
Kita tiba pada pendalaman. Apa yang dimaksudkan dengan higher criticism? Dan apa perbezaan higher criticism dengan orang Kristian yang membaca Alkitab secara kritis? Bilakah sikap kritis menjadi berbahaya bagi iman? Nah, saudara-saudaraku yang terkasih, ada tiga hal yang perlu kita fahami mengenai hal ini. Yang pertama, higher criticism ini adalah pendekatan yang mempertanyakan inspirasi dan kesatuan Alkitab dengan asumsi bahawa kitab-kitab di dalam Alkitab hanyalah hasil pemikiran manusia. Higher criticism ini muncul di Eropah pada abad ke-18, abad ke-19 dengan asumsi dasar. Yang pertama, mukjizat tidak mungkin terjadi. Yang kedua, Alkitab ditulis oleh banyak penulis dengan agenda-agenda mereka yang berbeza. Dan yang ketiga, cerita-cerita dalam Alkitab seperti penciptaan air bah hanyalah mitos yang dikembangkan oleh komuniti Yahudi.
Dan pendekatan ini sering menggunakan teori yang dinamakan dengan dokumentari hipotesis yang mendakwa jika kitab kejadian itu ditulis oleh empat penulis yang berbeza yang hidup ratusan tahun setelah Musa. Padahal Yesus sendiri menyebut jika Musa adalah penulis kitab Taurat. Dan pendekatan ini atau higher criticism ini tentu berbahaya kerana pendekatan ini menolak kemungkinan penyataan dan juga inspirasi ilahi pada Alkitab.
Kemudian yang kedua membaca Alkitab secara kritis yang sihat ini bererti mempelajari konteks sejarah, mempelajari budaya, mempelajari bahasa asal tanpa menyangkal keilahian Alkitab. Dan perbezaan utama dari higher criticism dengan orang yang belajar Alkitab secara kritis itu terletak pada prinsipnya. Yang pertama, higher criticism ini memulakan dengan asumsi bahawa Alkitab adalah buku biasa sehingga segala sesuatu harus dibuktikan secara akal. Sedangkan studi Alkitab yang sihat itu mula dengan iman, percaya jika Alkitab adalah firman Allah dan berbicara melalui penulis manusia pada zaman-zaman tertentu.
Kemudian yang ketiga, kritik boleh menjadi berbahaya bagi iman ketika ada tiga hal. Yang pertama, kita menggantikan autoriti Alkitab dengan autoriti akal sihat manusia. Yang kedua, kita memisahkan sejarah dengan iman. Dan yang ketiga, kita mempertanyakan kebenaran yang ada di dalam Alkitab. Ellen White di dalam The Acts of the Apostles halaman 474 perenggan yang pertama mengatakan karya kritik Alkitab tingkat tinggi atau higher criticism dalam membedah, berspekulasi dan merekonstruksi menghancurkan iman pada Alkitab sebagai wahyu ilahi. Ia merampas kuasa firman Tuhan untuk mengawal, mengangkat, dan menginspirasi kehidupan manusia.
Nah, saudaraku yang terkasih, banyak orang mengatakan jika Alkitab penuh dengan kontradiksi. Oleh kerana itu, apa yang perlu kita lakukan saat kita membaca Alkitab yang terlihat kontradiksi? Nah, ada dua hal yang penting yang perlu kita fahami. Yang pertama, Alkitab tidak berisi ayat-ayat yang saling bertentangan. Firman Allah menyatakan karakter Allah yang tidak berubah dan tidak bertentangan satu dengan yang lain. Yang berbeza di sini adalah perspektif atau gaya penulisan atau butiran yang tidak lengkap yang sering disalahfahami sebagai kontradiksi.
Nah, contoh klasik kita boleh buka di dalam Matius fasal 27 ayat 5. Di sana menyebut jika Yudas menggantung diri, sedangkan kisah di dalam, sedangkan informasi dalam Kisah fasal 1 ayat 18 menyebut jika Yudas jatuh dan perutnya pecah. Terlihat seperti kontradiksi, tetapi ini bukan kontradiksi, tetapi ini adalah dua perspektif yang saling melengkapi. Seperti dua saksi di dalam pengadilan. Yang satu mereka melihat peristiwa yang sama tetapi mereka memberikan saksi atau kesaksian dari sudut pandang yang berbeza. Laporan mereka berbeza tetapi tidak bertentangan. Di sini Yudas gantung diri tetapi kemudian tubuhnya jatuh sehingga perutnya pecah.
Itu yang pertama. Yang kedua, di dalam membaca Alkitab kita perlu memahami prinsip-prinsip membaca Alkitab. Prinsip ini perlu kita gunakan saat membaca Alkitab dan bukan menggunakan kemampuan serta kepintaran kita. Nah, ada beberapa prinsip tetapi yang salah kita akan bahas hanya dua sahaja. Yang pertama itu adalah prinsip yang disebut dengan analogia scriptura. Prinsip ini adalah prinsip yang memberikan kita pemahaman bahawa Alkitab itu tidak pernah bertentangan dengan dirinya sendiri. Dan justeru Alkitab akan menjawab dirinya sendiri.
Kemudian prinsip lain itu kita boleh temukan di dalam 1 Korintus fasal 2 ayat 14. Di sana dikatakan manusia yang tidak mengenal Roh tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah kerana hal itu baginya adalah suatu kebodohan. Jadi prinsip ini memberikan kita informasi pada saat kita baca Alkitab kita perlu menjadi rohani. Kita perlu kuasa Roh Kudus agar supaya ketika kita menjadi rohani, kita dapat memahami hal-hal yang rohani.
Nah, oleh kerana itu, apa sahaja tips praktikal yang dapat kita lakukan saat kita menemukan ayat-ayat yang sepertinya bertentangan di dalam Alkitab? Yang pertama, jangan langsung menyimpulkan Alkitab salah. Yang kedua, periksa latar belakang sejarah budaya. Kita tidak hidup dalam budaya yang sama dengan budaya Alkitab. Cari tahu budaya Yahudi. Cari tahu tradisi perkahwinan kuno, hukum sosial pada zaman itu, dan lain-lain. Kemudian yang ketiga, periksa dulu konteks ayatnya. Baca ayat sebelum, baca ayat sesudah. Bila perlu kita baca seluruh konteks, seluruh fasal dan lihat kepada siapa ayat itu ditujukan. Yang keempat, kadang-kadang pertentangan itu muncul kerana masalah terjemahan. Jadi jika memungkinkan kita boleh periksa bahasa asal Alkitab. Kemudian yang kelima, kita perlu juga untuk bandingkan ayat itu dengan seluruh konsep atau tema di dalam Alkitab. Kenapa? Kerana Alkitab akan menjelaskan dirinya sendiri. Dan yang terakhir, yang keenam, tetap bersikap rendah hati dan terus belajar.
Ellen G. White di dalam Faith and Works halaman 77 perenggan 3 mengatakan, "Semoga Tuhan membantu kita menjadi pelajar Alkitab hingga anda dapat melihat sendiri alasannya dan firman Tuhan dalam kitab suci. Jangan percayakan penafsiran Alkitab kepada manusia mana pun." Dan ketika anda dapat melihat ini, anda mengetahuinya sendiri dan tahu bahawa itu adalah kebenaran Allah.
Saudaraku, sebagai penutup dan aplikasi dari apa yang kita pelajari dan diskusikan bersama, mengapa sempurna dalam Kristus itu penting dalam kehidupan kita sebagai orang Kristian? Dan adakah hal itu mungkin sebab kita ini orang berdosa dan penuh dengan kelemahan? Kita saudaraku perlu memahami bahawa konsep kesempurnaan dalam Kristus yang diangkat Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose sama dengan konsep kesempurnaan dalam Kristus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, iaitu berbicara tentang kedewasaan atau kematangan dalam pemikiran Kristian. Dan hal ini tidak hanya penting, tetapi juga mungkin kerana Yesus sendiri mengatakan dalam Matius 5 ayat 48, "Kerana itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa-Mu yang di syurga adalah sempurna."
The Signs of the Times, 17 Julai 1901 katakan bahawa mereka yang melayani Allah harus bertekad mencapai kesempurnaan. Kebiasaan buruk harus dikalahkan. Kebiasaan baik harus dibentuk. Dan di bawah bimbingan guru terbesar yang pernah dikenal dunia, orang Kristian harus terus maju dan berkembang menuju kesempurnaan. Ini adalah perintah Allah. Dan tidak seorang pun boleh berkata, "Saya tidak boleh melakukannya." Sebaliknya, ia harus berkata, "Allah mengharuskan saya untuk sempurna dan Dia akan memberi saya kekuatan untuk mengatasi segala hal yang menghalangi kesempurnaan. Dia adalah sumber segala hikmat dan juga segala kuasa."
Namun demikian, kita diingatkan juga dalam buku Yesaman 66 bahawa mereka yang telah merasakan kuasa Allah yang menyucikan dan mengubah tidak boleh terjatuh ke dalam kesalahan berbahaya dengan berfikir bahawa mereka bebas dari dosa, bahawa mereka telah mencapai keadaan kesempurnaan tertinggi dan berada di luar jangkauan godaan. Standard yang harus dijaga oleh seorang Kristian adalah kemurnian dan keindahan karakter Kristus. Setiap hari ia dapat mengenakan keindahan baru dan memancarkan kepada dunia semakin banyak lagi citra ilahi.
Nah, bagaimana proses seseorang menjadi sempurna dalam Kristus? Apa yang harus dilakukan? Pertama, iaitu kesedaran atas dosa dan kelemahannya. Dan yang kedua, percaya serta menerima Kristus sebagai Juruselamat peribadinya. Steps to Christ halaman 62 katakan, "Kerana kita berdosa dan tidak suci, kita tidak dapat sepenuhnya mentaati hukum Allah yang suci itu. Kita tidak memiliki kebenaran sendiri untuk memenuhi tuntutan hukum Allah. Namun, Kristus telah menyediakan jalan keluar bagi kita. Ia hidup di dunia ini di tengah cubaan dan godaan seperti yang kita hadapi. Ia hidup tanpa dosa. Ia mati untuk kita dan sekarang Ia menawarkan untuk mengambil dosa-dosa kita dan memberikan kebenaran-Nya kepada kita. Jika kamu menyerahkan dirimu kepada-Nya dan menerima-Nya sebagai Juruselamatmu, maka meskipun hidupmu mungkin penuh dosa, demi Dia kamu dianggap benar. Karakter Kristus menggantikan karaktermu dan kamu diterima di hadapan Allah seolah-olah kamu tidak pernah berdosa."
Yang ketiga, kita harus mengalami proses penyucian atau yang biasa disebut sanctification. Messages to Young People halaman 35 katakan bahawa kebenaran yang membenarkan kita adalah kebenaran yang dikenakan bagi kita oleh anugerah Allah. Kebenaran yang menguduskan kita adalah kebenaran yang ditanamkan dalam diri kita oleh anugerah Allah. Yang pertama adalah menjamin status kita bagi syurga. Dan yang kedua adalah menjamin kelayakan kita bagi syurga. Dalam hal ini menurut Ellen G. White dalam buku That I May Know Him halaman 130, kita harus memiliki iman kepada-Nya yang bekerja melalui kasih dan membersihkan jiwa. Kesempurnaan karakter didasarkan pada apa yang Kristus lakukan bagi kita. Dan jika kita terus-menerus bergantung pada karya penyelamatan sang Juruselamat dan mengikuti jejak-Nya, kita akan menjadi seperti Dia, suci dan tak bernoda.
Itulah sebabnya pada praktiknya kita dinasihati melalui buku Reflecting Christ halaman 37 bahawa kita harus bekerjasama dengan Allah. Hati dan fikiran harus dibersihkan dari segala hal yang menuntun pada kejahatan. Firman Allah harus dibaca dan dipelajari dengan keinginan yang tulus untuk memperoleh kekuatan rohani darinya. Firman ini adalah roti surgawi. Mereka yang menerimanya dan menjadikannya bahagian dari hidup mereka akan tumbuh kuat dalam kekuatan Allah. Pengudusan kita adalah tujuan Allah dalam segala perlakuan-Nya terhadap kita. Ia telah memilih kita sejak kekekalan agar kita menjadi kudus. Dan Kristus menyatakan, "Inilah kehendak Allah itu, iaitu pengudusanmu. Adakah juga kehendakmu agar keinginan dan kecenderunganmu disesuaikan dengan kehendak Ilahi?" Ini yang boleh kita jawab dan mencabar kita untuk menyerahkan hidup kita kepada-Nya.
Jadi, kita harus terus berdoa dan berserah. Kita tidak boleh menyerah, kecewa dan putus asa. Sebab pena inspirasi katakan dalam Christ Object Lesson halaman 65 bahawa pada setiap tahap perkembangan hidup kita boleh sempurna. Asalkan tujuan Allah bagi kita terpenuhi, maka akan ada kemajuan yang terus-menerus. Sebab pengudusan atau sanctification itu adalah pekerjaan seumur hidup. Prinsipnya adalah biarkan Kristus melalui Roh Kudus menuntun dan terus memerintah dalam hati. Paulus katakan dalam Galatia 2 ayat 20, "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."
Mari kita tunduk kepala dan kita satu di dalam doa. Bapa kekal Allah kami yang bertakhta dalam kemuliaan syurga. Terima kasih oleh kerana pengorbanan Yesus kami boleh mendapatkan kesempatan untuk memperoleh hidup yang kekal. Kami memperoleh kesempatan untuk disucikan dan dibentuk karakter kami serupa dengan karakter-Mu ya Tuhan. Kami berdoa kiranya Roh Kudus-Mu meteraikan apa yang kami pelajari ini di dalam hati dan fikiran kami dan memberi kami kuasa untuk mempraktikkan itu di dalam tingkah laku kehidupan kami setiap hari. Bapa di syurga, bentuk kami sesuai dengan kehendak-Mu dan tolong kami setiap hari untuk boleh menjadi sempurna sama seperti Engkau sempurna. Inilah doa kami ya Tuhan. Ampuni kami dari dosa kami. Dalam nama Yesus Kristus kami sudah berdoa. Amin.