Transcription
Setiap kali pria itu berburu, dia dengan sabar menunggu mangsanya mendekat. Saat suara semakin dekat, dia dengan cepat membidik. Namun, dia sadar sosok yang mendekat itu bukan mangsa. Itu adalah seekor harimau. Tatapannya terkunci padanya, seolah siap menerkam kapan saja.
Pria itu tidak menarik pelatuk karena tak jauh dari sana ada dua anak harimau. Jika dia bertindak gegabah, mereka mungkin tidak selamat hari itu. Jadi, dia menyesuaikan bidikannya, menghindari titik vital. Namun, induk harimau itu ketakutan dan semakin agresif. Ia berusaha untuk melindungi anak-anaknya. Matanya tidak menunjukkan tanda mundur.
Jack awalnya berniat pergi. Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari samping. Induk harimau itu tumbang seketika. Dua anaknya langsung berlari mendekat. Anak yang bermata satu mengeluarkan auman kecil. Suaranya seolah sedang mempertanyakan Jack dan juga meluapkan rasa sakit karena kehilangan induknya.
Saat itu juga Pit, orang yang menembak berjalan mendekat. Wajahnya tanpa belas kasihan. Dia bahkan ingin melukai anak-anak itu. Untungnya Jack menghentikannya. Melihat sikap Jack, Pete terpaksa mundur. Untuk membiarkan mereka tetap hidup, Jack membawanya ke sebuah gua. Begitu meletakkannya, anak harimau yang penakut langsung masuk. Tapi anak bermata satu masih memperlihatkan giginya dan menggeram.
Karena merasa bersalah, Jack tidak langsung pergi. Ia menangkap ayam hutan dan meletakkannya di mulut gua lalu mundur untuk mengawasi. Mereka mencium bau makanan dan keluar. Setelah memastikan aman, mereka menyeret makanan ke dalam. Tindakan kecil ini meski tak cukup untuk meredakan rasa kehilangan. Hanya itulah yang bisa Jack lakukan.
Musim semi tiba cepat, namun dia terus memikirkan mereka. Dengan rasa cemas dan gelisah, dia kembali ke gua dan hanya terkejut melihat pemandangan di depannya. Anak yang dulu penakut, tergeletak, tak bernyawa, dan anak bermata satu sudah lama menghilang.
Bertahun-tahun kemudian, berita harimau menyerang desa pun menyebar. Saat Jack tiba, ia melihat Pete duduk di tanah. Wajahnya penuh ketakutan dan dengan bekas cakar di wajah. Dalam pelukannya ada istrinya yang sudah tak bernyawa. Dia menunjuk ke arah desa dengan tangan gemetar. Istri dan anak Jack masih ada di sana.
Dia meraih senapannya dan berlari ke desa. Namun tak jauh berjalan, suasana sekitar mendadak mencekam. Udara seakan membeku. Ia menahan napas. Melihat gerakan yang samar, ia langsung menembak ke arah itu tanpa ragu. Saat hendak memeriksa, geraman rendah terdengar dari belakang. Jack tidak berani menoleh. Namun, ia bisa merasakan seekor harimau besar berdiri tak jauh. Anak harimau bermata satu telah tumbuh menjadi raja gunung.
Raja harimau itu merasakan kehadiran yang familiar. Ia tidak menyerang, hanya berbalik dan pergi. Jack merasa bebannya terlepas. Namun, pikiran mengerikan terlintas. Jika harimau itu ada di belakangnya, siapa yang tadi tertembak? Ia kembali ke lokasi perlahan melihat sosok yang tergeletak. Jack terdiam seakan disambar petir. Itu adalah istrinya.
Sejak saat itu, Jack merasa kehilangan jiwanya. Dia meninggalkan tim berburu, hanya fokus merawat putranya. Namun, Pete, yang juga kehilangan orang tercintanya tidak menyerah. Permusuhannya dengan raja harimau telah resmi dimulai. Yeah.