Transcription
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Audzubillahiminasyaitonirrojim. Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirobbilalamin. Assalamualaikum.
[Musik]
[Musik]
[Musik]
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, "Wahai Manusia, beramal-amallah kamu dengan ikhlas. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak menerima amal kamu kecuali didasari dengan ikhlas."
Namun makna daripada ikhlas ini, kalau secara hakikat, kalau secara syariat cuma diucapkan. Yang bagaimana yang sebenar-benarnya ikhlas ini? Yang sebenar-benarnya ikhlas karena ikhlas ini dibagi menjadi tiga bagian namanya.
Sedangkan era seorang Ma'rifat, orang tasawuf, yaitu era muntahi. Lah, seorang fikih ujarnya, tapi ujung-ujungnya ingin mendapatkan pahala dan surga. Itu yang seorang fikih. Bujur makamnya ini di situ. Tapi tingkatkan kepada makam orang tauhid. Orang pikir semut tadi, orang tauhid. Era tasawuf.
[Musik]
Mengharapkan pahala. Kalau orang tauhid, era mengharapkan apa-apa. Tetapi, tetapi kalau akhirnya seorang tauhid ini masih ada wujudnya, masih ada merasa besi wujud. Nah, ini nih.
[Musik]
Kalau era seorang muktadi tadi, makamnya hukumnya kurang tauhid. Siriknya halus sedikit. Kemudian tingkatkan kepada akhirat. Orang tersebut beramal, era tidak mengharapkan pahala. Dia mengharapkan apa-apa. Dan juga kita nya kalau mengharapkan pahala. Kalau Aila seorang fikih, mana minta pahala? Mana minta surga? Mana wujudnya? Seorang masih ada. Nah, jadilah seorang tauhid. Kalau itu makamnya syirik. Syirik nih, jangankan berpahala, malah susah.
Sedangkan seorang tauhid tidak mengharapkan pahala, tidak mengharapkan surga. Tapi wujudnya masih ada, dosa yang sangat besar karena kamu merasa berisi wujud. Makanya dimandiin dengan apa? Guru jika angka hilang, anak-anak keluarkan engkau. Ngerasa daripada engkau. Nah, jadi yang namanya artinya.
[Musik]
Mandi dengan Banyu berwudhu. Sedangkan najis betul itu jangan ada pengakuan diri kita. Dosa-dosa yang sangat besar. Kenapa kita ini hakikatnya kembali kepada Nur Muhammad? Karena kita memang dari apa? Daripada setitik air notepah. Pada hakekatnya daripada Nur Muhammad. Jadi diproses di situ di dalam rahim, diproses menjadi segumpal darah, suku badaging, menjadi tulang, menjadi daging pembungkus. Lalu keluar, keluarnya cuma letaknya masuk ajaran sungguh pedaging. Lalu lahir ke dunia menjadi kekanakan, padahal menjadi remaja, meninggal kembali Nur Muhammad, kembali kepada Nur Muhammad, kepada Allah ta'ala.
Ada inilah kenyataan daripada Nur Muhammad. Dia tidak mengatakan apa-apa, mengharapkan Allah. Makanya kalau orang pikir itu kan anak salat, ieu mengatakan seolah-olah dia berlindung kepada Allah dari perebutan setan yang terkutuk. Namun kita berlindung kepada Allah, jangan ada lagi diri kita. Siapa yang ada? Jelas sekali terkutuk namanya siapa? Nama laksanakan amal ibadah, aku berlindung kepada Allah. Nah, setiap barang yang terlindung, berlindung kepada siapa? Pian berlindung kepada presiden, gubernur yang ada. Yang berlindung kepada rumah yang ada. Yang berlindung kepada Allah. Pian tidak ada. Siapa yang ada? Jadi tidak ada lagi setan yang terkutuk. Biar kali kita sambat setan yang terkutuk. Siapa yang ada? Lah, mau juga pihak Allah. Tidak ada yang sebenarnya maujud, hanya wujud.
Nah, ini penguji kenyataan alat-alat. Kenyataannya memang nyatanya memang nampak orang tasawuf menga rangnya muntahi. Karena dia lagi yang ditiliknya semata-mata karena Allah. Nah, ini. Jadi hanya ibaratnya itu kayaknya tahu bahwa umpamanya secara tersembunyi anak minta upah lagi lawan ampun tanah. Nah, ini perumpamaan orang. Kalau orang nangis, orang memandang artinya sama. Kita diberikan penglihatan, pendengaran. Ini yang paling larang ilmu tingkatan tinggi itu disebut urang dalam. Di dalam artinya pemimpin.
[Musik]
[Musik]
Jadi di sinilah artinya Ayla seorang muktadih nyaman meminta pahala. Kalau kita kembali kepada hakikat seorang ada ganal Banar siriknya. Tingkatkan kepada era seorang tahu. Orang tahu ini semata-mata karena Allah. Aku karena meminta pahala, aku kalau minta surga. Tapi ujud seorang merasa ada syiriknya ta halus, tak baik. Padang ikhlas orang mukta dipikir tadi. Nah, tapi belum sempurna. Sempurnakan kepada elah seorang tasawuf. Akhirnya seorang tasem ini, dia tidak menilik apa-apa. Hanya pandangan kepada Allah lah. Mau juga kelakuan-kelakuan Allah. Kalau ini memang sudah wujud Allah, siapa namanya? Siapa ini kenyataan kejahirin daripada rohani. Kelakuan rohani. Siapa roh itu? Roh itulah sifatnya Allah yang bernama Muhammad.
Inilah kalau secara syariat, Rasul di hari kiamat itu syariat bujur aja. Kalau hakikat yang namanya syafaat ini sekarang Muhammad. Yang namanya syafaat itu berhimpun kepada Muhammad. Kalau syariat sapaan dari kiamat betul itu syariat. Kalau hakikat syafaat sekarang. Apa yang dimaksud dengan Syafaat? Syafaat itu ada berhimpun dengan Muhammad. Contoh itu yang namanya siapa? Berarti lah sempurnakan kepada Muhammad. Yang mendengar Muhammad, roh yang berbicara Muhammad, roh yang keluar masuk. Carilah syafaat Muhammad ada pada diri, bukan keluar. Jadi siapa tadi intinya berhimpun kepada Muhammad. Kepada Muhammad tuh kasih sayang sini nikmat nanti ada terhingga. 6 turun naik apa? Nah, berkat Bang yang kita saruan membedakan bulik itu berkat.
Jadi siapa tadi berhimpun kepada Muhammad. Sedangkan ikhlas tadi sanggup menerima kenyataan Allah. Maksudnya karena Allah yang salat. Nah, itu maksudnya menerima kenyataan Allah yang melihat. Nah, itu yang namanya ikhlas. Bukan disambar biarkan karena punya aku ya saja. Biarkan darah itu. Tapi piano tasawuf karena memiliki apa-apa. Hanya di ciliknya Allah. Pada hakikatnya inilah.
Jadi yang pertama seorang tauhid, yang ketiga ya seorang tasawuf. Oleh seorang fikih, elasmong tadinya mengharapkan pahala, mengharapkan surga, dirinya merasa ada. Kemudian meningkat kepada ayah seorang tauhid, orang mutawasit. Jadi ujarnya saja aku kan mengharapkan apa-apa daripada Allah ta'ala. Tapi ujud seorang masih ada. Belum sempurna. Sempurnakan kepada Aila seorang tasawuf. Ikhlas orang muntahi ingin mengerjakan amal ibadah, tidak menilik apa-apa. Hanya ditiliknya Allah semata. Bilanya Allah semata-mata apa? Nah, kita minta pahala lagi. Diri kita karena diri kita sudah panah di dalam lautan akhirnya. Lalu amalnya begitu. Amalannya tasbih, abbas, sholawat. Sama aja seperti yang penting artinya yang menggawe bukan shalawatnya, bukan dzikirnya, bukan tasbihnya. Tapi siapa yang berzikir? Siapa yang Bertasbih? Siapa nama baca sholawat? Siapa yang salat? Itu Muhammad, sifatnya Allah ta'ala.
Kesimpulannya Muhammad. Jadi berhimpun kepada Muhammad. Lalu Muhammad kayak tangan bergerak karena roh, mata melihat karena ruh, telinga mendengarkan.
[Musik]
Kamu dapat berhimpun kepada Muhammad, maka kainnya akan selamat di bawah naungan Muhammadur Rasulullah. Wallahualam. Al Fatihah.