📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Pengamat Soroti Pembubaran Diskusi UGM, Minta Mahasiswa dan Pemerintah Introspeksi

GARUDA TV11:17

Transcription

[musik] Dan pemirsa, dalam sepekan gerakan mahasiswa kembali menjadi sorotan. Tentunya fenomena ini menunjukkan tingginya perhatian mahasiswa terhadap negeri ini. Namun juga terdapat dinamika melalui forum diskusi yang belakangan terjadi dan tidak menghasilkan solusi.

Lalu kemudian muncul pertanyaan, bagaimana aspirasi kritik dan ruang dialog dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan solusi yang konstruktif. Dan untuk membahas hal ini telah bergabung bersama kami Direktur Eksekutif Literasi Politik Indonesia Ujang Komarudin. Ya, selamat malam Pak Ujang.

Selamat malam, Mbak Adin. Iya, Pak Ujang. Ini belakang ini kita mengetahui bahwa mahasiswa sering menyampaikan aspirasi melalui aksi demonstrasi selama e empat kali berturut-turut. Begitu ya. Menurut Mas Uj sendiri, apakah ruang dialog antara mahasiswa dan pemerintah saat ini sudah cukup terbukakah?

Ya, di alam demokrasi tentu yang namanya demonstrasi hal-hal yang biasa ya, hal yang umum, hal yang rumrah karena itu juga di jamin oleh konstitusi. Tetapi memang dalam konteks hari ini kita menyaksikan ya ada ee katakanlah minus ee dalam konteks gerakan mahasiswa itu sendiri ya. Dalam konteks diskusi di UGM kita tahu gitu ya ee forum yang harusnya menjadi adu ide dan gagasan. ee dibubarkan oleh ee oknum ya ee teman-teman mahasiswa itu sendiri. Tentu ee itu sangat disayangkan dan sangat merugikan dalam konteks kita untuk bisa menjaga demokrasi itu sendiri.

Saya melihat ee dalam konteks itu maka ya kita sama-sama perlu evaluasi diri gitu. Dari pihak pemerintah juga harus evaluasi, dari adik-adik mahasiswa juga perlu juga introspeksi gitu. karena ee kalau kebenaran itu kan tidak dimonopoli oleh siapapun gitu. Dan dalam konteks bernegara ya mesti terbuka siapapun itu pemerintah ee harus terbuka, teman-teman mahasiswa atau adik-adik mahasiswa juga ee perlu terbuka. Oleh karena itu ee sebenarnya ini momen yang baik ya, momen yang bagus dalam konteks untuk saling mengintrospeksi satu sama lain gitu. Di mana kekurangan.

Tentu gerakan yang bagus dari mahasiswa adalah gerakan moralitas, gerakan intelektualitas. Itu yang menjadi daya tawar, yang menjadi daya dobrak dan kekuatan dari adik-adik mahasiswa. Oleh karena itu, jangan sampai dicederai ya oleh oknum-oknum yang tentu merusak suasana dari katakanlah ide, adu dan gagasan itu. Dan kita tentu mendukung ya apa yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa yang mencerdaskan yang membangun gerakan solidaritas ee dan moralitas bersama untuk menjaga bangsa itu tentu kita hormati sebagai bagian daripada ee apa namanya fungsi kontrol dari kalangan mahasiswa. Tetapi di saat yang sama tentu tadi kalau ada kekurangan, ada minus-minus dari kalangan mahasiswa juga ya kita perlu kritisi bersama.

Nah, gerakan-gerakan mahasiswa itu yang mungkin kalau kita lihat gitu ya ee ada memang keresahan, ada memang kekecewaan gitu dalam konteks ya ee sistem bernegara itu hal yang wajarlah. Pasti pemerintah juga ee tidak sempurna. Ada minusnya, ada kurangnya, ada problematikanya. Oleh karena itu ya ini momentum berbenah gitu, momentum sama-sama untuk tadi mengevaluasi diri masing-masing bahwa ke depan kalau pemerintah dan mahasiswa bersinergi tentu ini menjadi kekuatan tersendiri. Jadi mahasiswa dengan fungsi kontrolnya di jalanan itu bisa mengawasi pemerintah. Di saat yang sama pemerintah juga bekerja lebih baik lagi. Itu kan ee hal yang positif bagi bangsa ini. He.

Lalu Pak Ujadi kan seringkiali gitu mahasiswa menuntut agar aspirasi mereka didengar melalui dialog. Tapi baru saja terjadi beberapa hari lalu ruang dialog malah mereka bubarkan. Itu yang terjadi di UGM lalu. Bagaimana Anda melihat kontradiksi ini?

Ya, tentu ini menjadi tadi ya kekurangan ee minus dari katakanlah yang dilakukan oleh oknum ya ee katakanlah mahasiswa karena ini tentu tidak baik dalam konteks untuk tadi menjaga demokrasi agar tetap sehat itu. Karena bagaimanapun kan pihak dari pemerintah gitu ee para kepala badan dan wamen gitu ya dan sekaligus menteri itu kan datang untuk ee berdialog, untuk berdiskusi, untuk mencari solusi, untuk sama-sama membedah apa sih katakanlah persoalan bangsa yang dituntut oleh mahasiswa di saat yang sama juga untuk memperbaikinya gitu. Tentu itu kan forum yang luar biasa baiknya, luar biasa bagusnya untuk ee mencari titik temu antara kepentingan mahasiswa dengan katakanlah kepentingan pemerintah.

Nah, tapi sayangnya kan tadi mungkin karena ada oknum, ada apa namanya ee pihak-pihak yang tanda kutip ya yang membuat ee sehingga acara tersebut ee tidak berlangsung dengan baik. Jadi ini tentu sangat disayangkan. Mudah-mudahan ke depan tidak terjadi lagi. Ee dalam demokrasi perbedaan pendapat itu hal yang biasa. Kerasnya perbedaan pendapat, tajamnya kat perbedaan ide dan gagasan bukan berarti untuk saling ee katakanlah membubarkan atau saling katakan menafikan. Jadi tentu semakin keras perbedaan itu, katakanlah semakin ee katakan perbedaan itu bertolak belakang tentu kan di situ semakin indah karena ee satu sama lain ee mengemukakan argumennya ya tadi agar mencari solusi yang terbaik ya. Tentu ini bagian daripada paradoks ya dalam konteks berdemokrasi ee dalam konteks mahasiswa tentu ee ya kita koreksi bersamalah adik-adik ya kita semua. Saya juga introspeksi dalam konteks tadi ya menjaga ee demokrasi bersama-sama.

Lalu Pak Ujang, bagaimana pejabat publik sendiri merespon kritik ras dari mahasiswa agar substansi persoalannya sendiri itu tidak tenggelam oleh kontroversi begitu ya. Harus terima. apapun kritikannya, sekeras apapun, sekencang apapun. Karena kita tahu tadi ya ee katakanlah ee para pejabat kita yang hadir di UGM juga ee mantan-mantan aktivis tahu persis apa yang pernah dilakukannya di masa lalu gitu. Ee Pak Budiman juga seorang aktivis yang kita tahu masa lalu juga apa namanya sangat keras kepada ee pemerintah di zamannya begitu. Hari ini ketika beliau ada di pemerintahan tentu tadi bagian daripada pengabdian.

Nah, kalau ada kritik kepada beliau gitu ya dan kepada tokoh pemerintah yang lain tentu itu hal yang bagus. Tetapi kan tidak bagus kalau di forumnya itu menjadi ribut, menjadi ricuh, menjadi dibubarkan. ini tentu menjadi catatan kita bersama ya dalam konteks tadi menjaga gerakan mahasiswa agar tetap apa ya ee berkarakter, agar tetap bermoral, agar tetap smart, agar tetap elegan dan di saat yang sama juga agar ee gerakan-gerakan mahasiswa atau diskusi-diskusi yang diadakan mahasiswa itu ee betul-betul mencari solusi atau jalan keluar untuk kepentingan bersama atau untuk kepentingan ee masyarakat, bangsa, dan negara. H.

Lalu bagaimana seharusnya mahasiswa sendiri menyikapi forum yang pandangannya berbeda dengan mereka, Pak? Apakah lebih efektif dilawan dengan pembubaran atau dengan argumentasi dan debat terbuka?

Ya, yang bagus adalah kalau ide dan gagasan ya tentu dijawab dan dibalas dengan ide dan gagasan lagi. Ee tulisan ya dibalas dengan tulisan lagi. Itulah ee forum akademik, forum intelektual yang tentu kita sama-sama tahu ya harus saling menghargai. Itu tidak boleh gitu ya. Perbedaan pendapat ee perbedaan pandangan ataupun ide itu dibalas dengan katakanlah kericuhan atau pembubaran. Ee kita tahu bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual yang tentu mereka juga menjadi katakanlah calon pemimpin-pemimpin ee masa depan bangsa. Tentu tadi ya gerakannya harus berkarakter gitu. Forum-forum diskusinya juga harus intelektual. Harus menghargai pendapat siapapun termasuk harus menghargai pendapat dari kubu pemerintah yang memang diundang ya oleh mereka sendiri ya. kita semua cari jalan keluarnya lah, cari titik temunya lah karena sama-sama anak bangsa kan yang di pemerintahan juga ee beliau-beliau dulu mantan aktivis yang sering demo ya, yang sering diskusi yang sekarang sekarang sedang mengabdi di bangsa negara ya teman-teman mahasiswa juga tetap kritis, tetap katakanlah ya ee punya pandangan yang independen. Tapi di saat yang sama juga kita harus menjaga karakter mahasiswa yang smart, yang katakanlah bermoral, yang tadi anti kekerasan begitu.

Ee Pak Ujang, tapi menurut Anda apa yang jadi tantangan terbesar dalam membangun komunikasi yang sehat untuk mahasiswa sendiri dan pemerintah?

Ya, sederhana sih membangun kepercayaan. Kalau pemerintahnya bisa dipercaya oleh publik, oleh mahasiswa, maka di situ akan ada titik temu, gitu ya. trust itu menjadi penting. Oleh karena itu, apa yang menjadi tuntutan, apa yang menjadi catatan dari mahasiswa tentu harus didengarkan ya dan harus dijalankan oleh ee pemerintah. Nah, di saat yang sama juga jangan lupa ee mahasiswa juga perlu introspeksi gitu bahwa tindakan-tindakan kekerasan gitu, tindakan-tindakan ee tanda kutip ya provokatif ee tanda kutip juga tindakan-tindakan yang mengarah kepada konflik harus dihindari. Karena bagaimanapun kita jaga persatuan bangsa, kita jaga forum-forum diskusi intelektual itu dengan cara-cara yang elegan, yang baik sehingga tadi tercipta atau menemukan solusi ee atas permasalahan-permasalahan bangsa gitu kan. Kalau ribut gitu loh, kalau ricuhu, kalau ada pembubaran kan substansinya tidak dapat, solusinya juga tidak terselesaikan. Oleh itu, mari kita jaga forum-forum intelektual, forum-forum diskusi adik-adik mahasiswa dengan cara-cara yang smart begitu agar memang ee teman-teman mahasiswa bisa mengingatkan pemerintah dengan cara-cara yang baik. He, Pak Ujang, ini berarti kita sama-sama gitu mengetahui bahwa memang kritik juga kan merupakan ee bagian penting gitu ya dalam demokrasi. Namun tantangan berikutnya adalah bagaimana kritik itu juga diartikan sebagai masukan yang membangun lalu juga memberikan solusi yang ee bermanfaat begitu ya Pak Ujang. Terima kasih, Pak Ujang sudah bergabung bersama kami untuk membahas hal ini.

Sama-sama Mbak Ani. selalu