📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

PONDASI PANCANG : part1b_Teori & Hitungan Daya Dukung Sondir - Hinawan T. Santoso, ST, MT

masdosen32:40

Transcription

Baik, rekan-rekan, kita akan lanjutkan ke pembahasan yang berikutnya terkait dengan pondasi pancang, yaitu terkait dengan perhitungan daya dukung tiang pancang. Nah, ini kita akan sampaikan konsep teori dan contoh perhitungannya. Nah, di pertemuan yang sebelumnya, kita sudah membahas secara lengkap terkait pondasi pancang, baik dari isi, fungsi, serta jenis-jenis pondasi tiang pancang. Nah, bagi rekan-rekan yang belum mengikuti video tersebut, bisa klik link di atas ataupun di deskripsi di bawah. Oke, akan coba kita jelaskan secara lebih detail terkait dengan perhitungan daya dukung tiang panjang. Oke, kita [Musik] lanjutkan.

Jadi, kembali saya ingatkan, di pertemuan sebelumnya sudah kita bahas. Jadi, persamaan dari dukung tiang panjang ini juga mengacu pada jenis tiang pancang berdasarkan, ee, cara transfer beban ke dalam tanahnya. Nah, kemarin sudah dibahas, yaitu terkait jenis-jenis tiang panjang. Ada yang namanya npiring pile dan juga friction file. Nah, ini akan kita gunakan juga dalam, eh, perhitungan daya dukung tiangnya. Jadi, saya ulang di sini, yang dimaksud dengan nbiring pile yaitu bila lapisan tanah keras itu terdiri dari suatu batuan ataupun tanah keras. Sehingga nantinya daya dukung tiang ini akan tergantung, ee, pada kekuatan bahan dari tiang tersebut. Maksudnya, ketika nanti beban-beban yang ada ditransferkan ke dalam batuan keras yang dirasa cukup kuat memikul beban, maka kekuatan ini akan dibatasi bukan hanya oleh kekuatan dari batuan tanah dasarnya, tapi juga dari kekuatan bahan tiang itu sendiri. Nah, bila lapisan tanah keras itu terdiri dari lapisan pasir, maka dayi dukung tiang tersebut akan sangat tergantung dari sifat-sifat lapisan pasir, terutama mengenai lapis, ee, kepadatan lapisan pasir ini. Nah, ini juga kemarin sudah kita singgung untuk jenis tanah pasir. Ketika nanti kita pancangkan suatu tiang pancang dalam grup, gitu ya, dalam kelompok, nanti akan, eh, terpadatkan akibat, eh, pengaruh dari kelompok tersebut. Nah, ini nanti akan pengaruh berbeda dengan tiang yang dipancangkan pada lempung, dia tidak terpengaruh kepadatan ini akibat, ee, adanya desakan tanah akibat, eh, grup atau kelompok ti tiangnya.

Nah, untuk dapat menaksir gaya perlawanan dari lapisan tanah keras terhadap ujung tiang, maka dapat dilakukan yang namanya pengujian. Salah satunya yaitu dengan alat CPT atau sondir, atau bisa juga menggunakan SPT atau standar penetration test. Nah, ini teman-teman bisa disaksikan juga di penjelasan saya yang sebelumnya terkait dengan pengujian tanah di lapangan untuk pekerjaan fondasi. Nanti bisa disaksikan di klik link di atas ataupun nanti saya sajikan di deskripsi. Oke, kita lanjutkan. Nah, kembali kita akan bahas untuk nbing pel tadi. Yang harus diperhatikan adalah kita cek atau kita kontrol terhadap kekuatan bahan tiangnya. Jadi, apa yang harus kita cek? Jadi, kita bisa berikan dalam formulasi sebagai berikut, yaitu kekuatan bahan tiang ini yang diizinkan kita sebut sebagai P tiang. P tiang ini adalah perkalian antara tegangan izin dari bahan tiang yang kita gunakan, kita kalikan dengan luasan penampang dari tiang. Nah, ini jadi kekuatan bahan tiang akan sangat tergantung dari dua parameter ini, ya, jadi tegangan izin bahan tiang dan juga luas penampangnya. Nah, untuk material-material yang lazim digunakan, yaitu itu baja dan beton, ini saya sajikan tegangan izin yang diizinkan terjadi pada baja yaitu sekitar 0,35 sampai 0,5 dikalikan dari fy-nya atau kuat lelehnya, gitu ya. Kemudian, untuk izin beton itu sekitar 0,25 sampai dengan 0,33 FC prime-nya atau kuat tekan dari beton pada umur 28 hari.

Nah, sebagai penjelasan supaya lebih jelas, ini saya punya contoh brosur dari Wika beton, gitu ya. Nah, nanti rekan-rekan kalau memang tiang pancang yang akan digunakan adalah hasil pabrikasi atau dari produk pabrikator, berarti kita bisa tinggal me-refer pada tabel ini. Tapi nanti kalau teman-teman memang tiang panjangnya adalah produksi dari kita sendiri, nah, ini wajib untuk dihitung oleh teman-teman menggunakan rumus yang ada ini. Nah, ini disajikan dalam hal ini karena ini dari fabrikator, yaitu dari Wika. Di sini ada tiang pancang bentuk segitiga prress cononkret. Nah, jadi dia pratekan, ya, pracetak pratekan, bentuknya segitiga. Di sini kita punya konkret compresive strengnya adalah fc42 atau, e, kalau dalam bentuk kubus dia 500 kg/cm². Oke. Nah, kalau kita belinya lewat fabrikator, nah, ini biasanya sudah disajikan secara lengkap oleh fabrikator dengan tabel spesifikasi dari tiang pancang yang ditawarkan. Nah, ini mulai dari ukuran, gitu ya, kemudian luas area, kemudian momen inersianya, berat per meternya berapa, kemudian dia masuk ke kelas. Nah, ini ditawarkan ada dua kelas: kelas A dan kelas B. Termasuk juga sudah disajikan hasil pengujian untuk bending momennya pada saat dia crack berapa, ultimate-nya juga disajikan. Nah, kalau di kekuatan bahan tiang, berarti kita tinjunya adalah yang saya berikan lingkaran merah ini adalah allowable compression. Nah, ini adalah yang diizinkan tiang ini menerima beban tekan pada saat nanti kalau kita mendesain secara npiring. Ini satu tiang, ee, bisa sampai 40 ton, ya, yang tipe ukuran 280 dan, eh, bahkan 55 sampai 57 ton untuk yang 320. Termasuk juga disajikan panjang dari file kalau misalkan kita ingin memesan. Nah, dapat kita berikan penjelasan allowable compression ini, ya, rumusnya kita gunakan juga ini. Nanti coba teman-teman hitung, misalkan ini ada 500 kg/cm². Nah, kita gunakan, kalau tidak salah di Wika ini digunakan izin betonnya adalah sekitar 0,267. Nah, nanti dikalikan luasannya, ketemulah yang dimaksud dengan kekuatan terhadap bahan tiang. Dalam hal ini disajikan di sini adalah allowable compressionnya, itu, ya, teman-teman, cara untuk menghitungnya. Oke, saya lanjutkan.

Selain dengan cek terhadap kekuatan bahan tiang, karena ini adalah sifatnya adalah npiring, maka kita harus crosek terhadap kekuatan tanah dasarnya atau tanah kerasnya yang nantinya ditumpu oleh ujung tiang pancang. Nah, ini kita sajikan di sini. Ini ada dengan dua data penyedikan lapangan, yaitu yang pertama berdasarkan hasil data sondir atau nilai konusnya, dan yang kedua nanti dengan berdasarkan data nspt-nya. Nah, kita coba tinjau satu persatu. Bila kita dasarkan berdasar data sondir, nah, ini rumusan yang umum digunakan adalah seperti ini. Jadi, qp tiang, qp tiang adalah daya dukung ujung tiangnya, yaitu adalah luas penampang dari ujung tiang dikalikan dengan nilai konus rata-rata dari hosil soundirnya dibagi suatu faktor keamanan. Nah, faktor keamanan ini biasanya diambil, kalau yang untuk daya dukung ujung adalah sebesar 3. Nah, untuk nilai konus atau P tadi atau biasa disebut juga dengan QC, ini digunakan untuk menentukan daya dukung tiang yang sebaiknya diambil rata-rata nilai konus parameter kedalamannya adalah 6d sampai 10d itu untuk di atas tiang, jadi di atas ujung bawah tiang, dan 2D sampai 4D ini di bawah dari ujung bawah tiang, di mana d adalah diameter tiang atau dimensi lebar tiang. Nah, ini bisa kita saksikan bersama. Di samping ini adalah pola keruntuhan. Mungkin kita sudah belajar di pertemuan yang lalu terkait dengan keruntuhan pada pondasi. Nah, ini adalah gambar keruntuhan pada pondasi akibat, ee, beban Q di ujung pondasi tiang pancang, gitu ya. Jadi, kalau kita gambarkan, ternyata pengaruh dari beban Q ini nantinya untuk mendapatkan daya dukung kita, pengaruhnya adalah tadi selain di misalkan ini ujung tiang, gitu ya, di sini adalah ujung tiangnya. Nah, ini selain tadi disampaikan 2 sampai 4D di bawah ujung tiang, ini tanah masih berpengaruh, nah, ini sekitar 2 sampai 4D. Dan juga nanti ada pengaruh di atas dari ujung tiang ini sebesar tadi disampaikan adalah 6 sampai 10d. Jadi, nanti nilai KC rata-rata untuk menentukan kekuatan tanah di ujung tiang pancang kita dengan asumsi n piring, kita tetap harus menghitung rata-rata nilai QC 2 sampai 4D di bawah ujung tiang yang ini, ya, 2 sampai 4, dan kemudian nanti di atas ujung tiang juga kita harus tetap perhitungkan, yaitu sebesar 6 sampai 10. Nah, ini juga kita harus perhitungkan. Oke, kita lanjutkan.

Nah, untuk nilai nspt, nah, ini rumusnya saya ambil dari myhof, yaitu besaran dari daya dukung ujung tiang yaitu adalah 4 kali luasan penampang tiang dikalikan dengan nilai nspt rata-rata di sekitar ujung tiang. Nah, ini yang harus diperhatikan dari rumusan ini, apa, teman-teman, yaitu adalah satuannya. Jadi, rumus ini diturunkan memang secara empiris oleh myhof, di mana untuk nspt, eh, ini kita gunakan luas penampangnya adalah dalam satuan fit kuadr. Jadi, nanti kalau kita menghitung dalam kilogram per cm² ataupun nanti satuannya ton per m², kita harus, ee, konversikan ke dalam fit. Nanti setelah jadi, baru kita bisa ketemu di mana daya dukungnya besarannya seperti yang disyaratkan. Nah, nilai MP ini juga nilainya berdasarkan nilai rata-rata yang sebaiknya diambil pada kedalaman hampir sama tadi, ya, dengan untuk soundir, gitu ya. Jadi, ini ujung tiang, ya, yang sini bagian bawahnya dia juga masih terpengaruh, gitu ya, yaitu sebesar sekitar 2 sampai 4D. Nah, nanti di ujung atasnya ini juga masih berpengaruh sekitar 6 sampai 10d. Nah, ini biasanya diambil rata-ratanya, kadang atas ini 8d, untuk yang bawah ini biasanya ada yang pakai 2D atau yang pakai 4D, silakan tergantung dengan asumsi dan keyakinan dari masing-masing perencana. Oke, kita lanjutkan.

Nah, untuk yang tiang jenis kedua, yaitu di mana tadi n Biring, gitu ya, kalau ini tiang didesain berdasarkan lekatan antara tiang dengan butiran-butiran tanah akibat friksinya, maka dinamakan fiction pile. Nah, ini kalau kita menemukan kasus seperti ini, mungkin bisa kita skip kontrol yang pertama, yaitu tinjauan terhadap hadap kekuatan bahan tiang ini dapat diabaikan karena kita tentu saja yakin kalau dengan, eh, friction ini, semua gaya nantinya, eh, dari bahan tiang kemungkinan tidak akan menopang terlalu besar karena nanti akan ditransferkan langsung ke tanah, berbeda dengan yang tadi nbiring tiang mempunyai pengaruh juga karena nanti dia terdesak tiangnya. Nah, daya dukung friction ini bisa dihitung juga berdasarkan data sondir maupun nanti dengan data nspt. Ah, itu, ya. Kalau berdasarkan data sondir, berarti kita nanti mengacunya pada, eh, jumlah hambatan pelekat atau bisa disebut sebagai clif. Nah, kalau kita melakukan uji soundir, biasanya kalau yang sistemnya bikonus, nanti, eh, satu konus yang di ujung itu akan memberikan tahanan ujung, sedangkan yang di konus sekundernya yang lekatannya nanti akan tergambarkan. Nah, rumusannya seperti apa? Jadi, QS adalah daya dukung friksi dari tiang, yaitu sebenarnya rumusannya luasan dari tiang dikalikan nilai C. C ini adalah klif atau jumlah hambatan pelekatnya dibagi suatu angka aman. Nah, luasan dari tiang ini adalah keliling dari tiang dikalikan dengan panjangnya. Nah, ini, ya, teman-teman, nanti bisa dihitung dengan rumusan ini. Nah, angka aman di ini kalau untuk friction pile ini biasanya diambil lebih besar daripada yang n Biring pile tadi. Kalau n Biring tadi tiga, di friction file ini kita gunakan f-nya adalah 5, gitu ya. Oke, kita lanjutkan.

Nah, kalau berdasarkan daya dukung friction berdasar nilai nspt ini oleh mayerhof tahun 1956, juga diberikan rumus umum yang sering digunakan. Kan, cuma di sini dibagi menjadi dua, yaitu tiang perpindahan besar dan tiang perpindahan kecil. Nah, di pertemuan sebelumnya kita sudah membagi tiang pancang ini berdasarkan, ee, volume tanah yang dipindahkan. Nah, ini dibagi ada tiang perpindahan besar, perpindahan kecil, dan juga, ee, tanpa perpindahan, ya. Untuk tiang perpindahan besar ini, biasanya adalah tiang-tiang yang bentuknya ujungnya pejal atau tertutup, biasanya terbuat dari material beton, biasanya ujungnya tertutup, atau bisa juga material baja tapi dilengkapi dengan sepatu atau ujungnya yang ditutup. Nah, ini bisa kita gunakan adalah rumusannya QS itu dari dukung friksi tiang sama dengan luasan tiang dikalikan nilai nspt rata-rata di sepanjang tiang yang ditinjau dibagi dengan angka 50. Nah, sedangkan untuk tiang perpindahan kecil, nah, ini tiang perpindahan kecil berarti dia ketika dipancangkan hanya memindahkan volume tanah dalam, ee, displacement yang kecil, ya. Ini biasanya adalah tiang baja yang berlubang, gitu ya, atau habim profil habim, ataupun tiang beton namun dia tidak ditutup ujungnya, berarti ujungnya terbuka. Nah, ini bisa digunakan rumusan ini, yaitu QS tiang adalah luasan dari, eh, selimut tiangnya dikalikan nilai nspt rata-rata dibagi dengan angka 100. Nah, ini harus diperhatikan juga, sama, ya, teman-teman, yaitu luasan dari selimut ini itu satuannya adalah dalam fed kuadrat, dan nilai nspt yang digunakan adalah nantinya nilai nspt rata-rata di sepanjang tiang yang ditinjau. Biasanya nanti dibagi per segmen-segmen atau layer-layer berdasarkan nilai lekatan dari tanahnya. Nanti akan kita lihat dalam contoh perhitungan.

Nah, yang ketiga atau yang terakhir, yaitu apabila memang asumsi kita si tiang panjang ini mendapatkan dua daya dukung, yaitu nbing dan friction file. Jadi, eh, dengan lihat ilustrasi ini, selain dia mendapatkan tanah keras, misalkan di sini tanah pasir, ya, dia mendapatkan gaya perlawanan daya dukung ujung, dia juga mendapatkan gaya lekatan atau friksi dari, misalkan di sini tanah lempung. Kalau kasusnya seperti ini, maka kita juga perlu melakukan perhitungan sebagai berikut. Nah, jadi kita kombinasikan. Apa yang harus kita lakukan? Ini karena ada tahanan ujung atau perawan ujung, maka kita harus mengetahui dari kekuatan bantiangnya. Rumusannya sama, ya, dengan yang di depan tadi, di mana P tiang adalah tegangan izin dari bahan tiang dikalikan luas penampang dari tiangnya. Nah, ini juga kita harus perhatikan. Setelah itu, apabila kita tinjau tadi dengan kekuatan dari bahan tiang, yang kedua adalah kekuatan dari tanahnya. Nah, kebetulan di sini kalau kita dapatnya atau kita gunakan data sondir, maka rumusan yang bisa kita gunakan adalah sebagai berikut. Nah, ini dibagi ada beban sementara. Kalau beban sementara ini nanti yang membedakan dengan beban-beban lainnya, misalkan tetap atau statis maupun dinamis, adalah angka amannya. Nah, untuk beban sementara ini, nantinya yang, ee, daya dukung ujungnya itu adalah dibagi dua dan selimutnya dibagi 5. Kalau beban tetap ini biasanya di daya dukung ujungnya dibagi 3, selimutnya atau friksinya dibagi 5. Nanti yang beban dinamis ini jauh lebih besar, misalkan gempa, ya, daya dukung ujungnya dibagi 5, sedangkan di daya dukung friksi atau lekatannya dibagi 8. Nah, sebagai informasi di sini, teman-teman, nilai karena sudah dibagi dengan angka aman, maka yang didapatkan di depan ini adalah nilai daya dukung allowable atau izin dari tiangnya. Jadi, kalau bisa kita, ee, rumuskan secara lebih singkat, jadi Q allowable tiang ini adalah gabungan antara daya dukung ujung dari tiang ditambahkan daya dukung selimut dari tiang yang sudah dibagikan dengan angka SF tadi, ya. Oke, itu kalau data sondir.

Nah, selanjutnya kalau data nspt, ini juga sama kasusnya, dibagi menjadi dua kriteria, di mana tadi ada tiang perpindahan besar dan tiang perpindahan kecil. Yang membedakan, tadi, ya, tiang perpindahan besar itu rumusannya adalah dibagi yang selimutnya ini dengan 50, yang untuk daya dukung friksinya. Untuk daya dukung ujungnya, rumusnya adalah sama 4 kali luasan tiang dikalikan dengan nilai rata-rata SPT di ujung tiangnya. Nah, perpindahan kecil ini tadi yang membedakan adalah ini dibagi yang unsur untuk lekatannya adalah dibagi 100. Nah, yang membedakan dengan data sondir tadi, karena di sini belum dibagikan dengan suatu angka aman, maka yang kita dapatkan di depan ini adalah Q Ultimate dari tiang. Sehingga nanti kalau kita ingin mengetahui dari daya dukung izin atau allowable dari tiang, maka kita harus membaginya dengan suatu angka aman atau safety factor. Nah, ini biasanya digunakan angka amannya untuk perhitungan pondasi adalah 2,5 sampai dengan 4. Nah, nanti ini tergantung dari kondisi data tanah, lokasi yang dimaksud, kemudian nanti juga, eh, judgem dari perencana atau engineer yang melakukan perencanaan. Oke, kita lanjutkan.

Nah, ini untuk memperjelas dari pemaparan teori yang saya sampaikan sebelumnya, kita akan coba untuk mendeskripsikan atau menggambarkan contoh perhitungan daya dukung dengan studi kasus soal di bawah ini. Nah, diketahui data sondir dan boring itu seperti tersaji pada gambar di samping. Jadi, di gambar di samping ini, teman-teman, adalah data hasil sondir dan boring. Hanya data boringnya ini kita tidak mempunyai data nspt-nya, tidak dilengkapi dengan nspt. Jadi, nanti yang akan kita gunakan adalah data soundernya. Ini akan kita gunakan untuk menghitung daya dukung pondasi tiang. Oke, bisa kita perhatikan, teman-teman, bagi yang, eh, belum ataupun yang pernah melakukan hasil uji Sir, hasilnya seperti ini, ya. Jadi, ini ada dua garis, di mana garis yang tebal ini yang tidak putus-putus ini, ya, ini adalah hasil uji sondir untuk tekanan ujung konusnya. Nah, ini bisa kita lihat atau kita baca dengan parameter yang di atas ini, yaitu tekanan konus dalam satuan kg/cm². Nah, sedangkan yang titik-titik ini adalah jumlah hambatan pelekat. Ji kumulatif, ya, dari kedalaman 0 sampai kedalaman yang ditinjau, ini adalah jumlah hambatan pelekat. Dan kita bisa baca parameternya dengan melihat pada angka di bawah ini. Nah, ini satuannya juga kg/cm². Nah, direncanakan akan digunakan pondasi tiang pancang bentuknya persegi dari beton prikes. Diketahui tegangan izin betonnya tadi, ya, teman-teman, yaitu 60 kg/cm² pada kedalaman 22 m, dan ukuran penampang tiangnya adalah 40 x 40 cm. Jadi, tiangnya ini, teman-teman, kita plotkan di dalam grafik, gitu ya. Ini kira-kira kalau kedalaman 22 m adalah sampai di posisi ini, sehingga nanti kita akan mempermudah untuk membaca nilai konus rata-rata di ujung tiang ataupun nanti, ee, hambatan pelekatnya. Seperti apa instruksinya? Hitung beban yang diizinkan bekerja pada tiang panjang tunggal tersebut. Nah, caranya gimana, teman-teman? Nah, ini kalau secara sekilas, ya, kita lihat tiang pancang ini, kalau kita plotkan di dalam hasil dari soundir itu, ternyata di ujungnya ini sudah menyentuh angka di tahanan konus ujungnya sekitar nilainya berkisar antara 50 sampai 60, 55 lah, tapi dengan diperdalam kembali ini sekitar 130-an. Nah, ini menandakan ujungnya ini sudah mendekati tanah keras. Biasanya yang dinamakan tanah keras kalau nilai sernya sudah lebih dari 150, dan indikasinya sudah akan memasuki tanah keras. Namun, karena mungkin keterbatasan alat, datanya hanya sampai di kedalaman 23 m. Nah, di sini juga kita punya hambatan pelekat, ternyata ini juga bekerja. Jadi, nanti kita akan hitung di sini menggunakan asumsi bahwasanya tiang pancang ini didesain untuk nbing dan friction file. Nah, coba kita lihat, ya, teman-teman. Nah, asumsi, jadi tadi saya sampaikan, tiang pancang ini akan mengalami nbing dan friction file, sehingga kita perlu cek nih yang pertama. Karena nanti nbing pengaruh, kita harus cek terhadap kekuatan bahan tiangnya. Jadi, teman-teman, kita hitung. Tadi kita sudah punya tegangan izin bahan, kita kalikan luasan tiangnya, gitu ya, sehingga kita dapatkan nilainya di sini adalah 96 ton untuk kekuatan bahan tiangnya. Kemudian, selanjutnya kita cek terhadap kekuatan tanah. Nah, kekuatan tanah tadi ada dua, yaitu tahanan ujung n piring dan friction atau lekatan. Nah, kita hitung dulu untuk tahanan ujung. Nah, ini caranya adalah tadi disyaratkan nilai konus rata-rata dari kedalaman tiang pel di 22 m, yaitu bisa tadi 6 sampai 10, ya, dan bawahnya adalah sekitar 2 sampai 4. Nah, ini kita ambil saja maksimumnya 10d ke atas dari ujung tiang dan 4D ke bawah dari ujung tiangnya. N, kita kembali ke soal. Nah, ini sekitar, kalau tadi 40 cm kalikan 10, ya, kita sekitar 4 m akan kita tinjau, ee, untuk kita ambil rata-rata dari soundirnya. Dan kalau tadi 4D ke bawah itu sekitar 1,6 m, nah, atau kita ambil sekitar 2 m di sini. Nah, ini nilai rata-rata dari masing-masing sondir ini bisa kita lihat dengan grafik ini. Mungkin tidak perlu terlalu detail, kita per 1 m saja. Nah, ini kita baca di 18 berapa, 19 berapa, 20 berapa, 21, 22 berapa, dan kemudian nanti juga di 23 dan 24. Nah, ini kemungkinan karena di 24 sudah tidak ada data, nah kita samakan saja dengan kedalaman yang di 23 m. Sehingga ini jumlahnya, atau rata-rata ini, kita jumlahkan, kita bagi dengan kedalamannya, sehingga nanti akan kita dapatkan rata-rata dari nilai tahanan ujung sondirnya. Nah, ini kita jumlahkan, tadi kita baca sekitar 37, 37, 40, ada nilainya 8, 10, 125, 125. Nah, kita bagi kedalamannya tadi sekitar 7 m, nah ini kita dapatkan nilainya 54,5. Nah, ini adalah nilai dari tahanan ujung atau qc-nya atau p-nya. Nah, ini kita masukkan ke dalam rumusan tadi. Q ujung tiang adalah luasan dari penampang ujung tiang kalikan nilai P atau konus tadi dibagi angka amannya, kita ambil tiga di sini. Nah, kita masukkan angkanya, kita dapatkan ternyata besaran dari tahanan ujung tiang daya dukungnya dari n Biring, ya, itu 29 ton. Oke, kita lanjutkan.

Nah, kita juga perlu menghitung karena tadi asumsi nbing dan friction, yang kedua adalah akibat dari friction itu sendiri. Caranya gimana? Yaitu kita harus menghitung nilai klif rata-rata atau nilai jumlah hambatan pelekat rata-rata di sepanjang tiang tersebut. Nah, panjang tiang ini kita bagi menjadi lima bagian. Nah, pembagian ini kita dasarkan biasanya berdasarkan harta soundir yang kita peroleh. Jadi, kalau teman-teman bisa perhatikan, ya, di sini kan kita punya data soundir untuk jumlah hambatan pelekatnya, gitu ya. Nah, ini nilainya kita biasanya membaginya berdasarkan kemiringan, karena kemiringan ini menentukan, e, jenis tanahnya biasanya berpengaruh. Nah, dalam hal ini, misalkan ini untuk hambatan pelekat yang pertama, kita punya nilai yang ini, kemiringannya. Nanti yang kedua adalah ini, ini nanti kita punya kemiringan lagi, ini, kemudian kita punya kemiringan lagi, ini, kita punya kemiringan lagi, yang terakhir ini. Jadi, kita bagi ini menjadi lima bagian. Nah, ini kita lihat, teman-teman, kita sudah bagi tadi berdasarkan nilai tadi. Di sini kita punya lima layer: 0 sampai 3 m, ini kita hitung nilai c-nya. Berarti tadi kita baca sekitar nilainya 135, kita kurangkan dengan inisialnya kan nol tadi, ya, kita bagikan dengan kedalamannya 3 m, kita dapatkan nilainya 0,45 kg/cm². Demikian seterusnya sampai kedalaman terakhir tadi kita punya 20 sampai 22, nah, ini nilai rata-ratanya adalah 0,4 kg/cm². Nah, nilai-nilai ini yang nanti kita gunakan untuk menghitung dari daya dukung akibat friction. Nah, kita masukkan dalam rumus, ya. QS tadi adalah luas selimut atau keliling kalikan panjang dikalikan dengan nilai klif rata-rata atau lekatan rata-rata dibagi suatu angka faktor aman. Nah, ini dalam hal ini kita ambil 5. Nah, kita masukkan kelilingnya ini kan 40 x 4 tadi, ya, karena persegi, 160. Nah, ini panjang per masing-masing bagian layer tadi, kita kalikan dengan nilai clifnya. Nah, ini kita semua masukkan nilai-nilai yang ada tadi, kita bagi sf-nya 5, didapatkan 17,18 ton. Sehingga kalau kita mau menghitung daya dukung dari tiang tadi, gitu ya, ini sebenarnya bukan Ultimate, ya, daya dukung allowablenya karena sudah kita bagi SF, yaitu sebesar 29 + 17,18 = 46,18 ton. Nah, tadi di soal diminta adalah beban neto yang diizinkan. Nah, ini perlu kita kurangi dengan berat sendiri dari tiang, yaitu 0,4 x 0,4 kalikan panjangnya 22 kalikan berat jenis beton bertulang ini sekitar 2.400, nah, sama dengan 8,45 ton. Sehingga nantinya, kalau diminta beban itu yang diizinkan bekerja adalah, n, sama berat tadi, ya. Ini adalah daya dukung allowablenya dikurang dengan berat tiangnya, sehingga didapatkan 37,73 ton. Nah, ini kita cross chek terhadap kekuatan bahan tiang, jadi kita dapatkan 96 ton, sehingga kita dapatkan nilai ini adalah oke karena masih di bawahnya. Nah, nanti teman-teman, yang diizinkan bekerja adalah 37,73 ton. Nah, kalau misalkan teman-teman nantinya di dalam mendesain, misalkan suatu pilar jembatan, gitu ya, ternyata beban di pilar jembatan tersebut adalah misalkan ada 120 ton, gitu ya, berarti kita cuma tinggal bagi saja 120 ini dengan nilai 37. Nah, kira-kira, ya, kita dapatkan angkanya adalah, ya, sekitar 4, gitu ya, atau 3,5. Nah, kita bulatkan menjadi 4, berarti nanti tiang pancang yang dibutuhkan adalah ada empat biji untuk satu pilar tersebut. Nah, nah, mungkin seperti itu perhitungannya. Nah, perhitungan itu nanti kita akan lebih detailkan lagi terkait juga dengan efisiensi dari tiang pancang kalau dia bekerjanya dalam suatu kelompok. Nah, dalam hal ini, ini kan baru tiang daya dukung dari tiang tunggal. Nah, nanti kalau tiang kelompok seperti apa, akan kita pelajari di pertemuan yang berikutnya. Nah, mungkin cukup sekian pembahasan kita terkait dengan daya dukung tiang pancang, baik teori maupun perhitungannya. Nah, kita akan lanjutkan kembali nantinya di pertemuan yang akan datang dengan membahas kelompok tiang, dan juga nanti terkait dengan metode pelaksanaan dan pengawasan dari pekerjaan pondasi tiang pancang ini. Oke, teman-teman, terima kasih atas perhatiannya. Jangan lupa untuk terus mengikuti update video dari channel Mas dosen. Jangan lupa like, subscribe, comment, dan share. Terima kasih atas perhatiannya. See you on next video. Bye.