📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

WBI Ecclesia | Fokus Masalah vs Fokus Kristus | Pdt. David Herson

WBI Ecclesia49:27

Transcription

Shalom, apa kabar saudara? Bersukacita baik. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, perkenalkan nama saya David Herson. Ini pertama kalinya saya datang melayani di ibadah WBI. Dan terima kasih buat gembala, wakil gembala, staff, koordinator pagi WBI yang menyajikan waktu bagi saya untuk membagikan firman Tuhan.

Saya minta maaf tadi saya datang pakai kacamata, karena dua hari ini tiba-tiba kemarin seharian hari Minggu saya pelayanan. Malam Minggu saya khotbah KKR di GBI Shalom di Tanjung Priok. Minggunya saya khotbah 4 kali di JKI Goceng. Di tempat Pester Joy Israel. Senin pelayanan terus, Selasa pelayanan. Tiba-tiba kemarin dua hari yang lalu saya bangun pagi, mata saya itu bengkak di sebelah kiri. Bengkaknya kenapa ya? Kayaknya digigit serangga. Maunya sih digigit duit, tapi ternyata digigit serangga gitu.

Tapi buat saya, melayani itu bukan justru dalam keadaan baik. Betul, saudara? Kalau saudara bisa melayani, sebenarnya bisa beribadah karena saudara diberkati. Semua orang, everybody, just ya, semua orang bisa melakukan itu. Ada banyak orang melayani karena semua keadaannya baik. Ada ibu-ibu yang datang beribadah ini, ada online juga. Ada yang melayani datang ke rumah Tuhan karena semua keadaan baik. Sore itu saya, saudara, orang melayani Tuhan karena keadaan baik. Semua orang bisa lakukan itu. Tapi pelajari satu hal, pelayanan yang benar itu bukan pelayanan pada pemberian, tapi pelayanan pada pengorbanan.

Apa sih bedanya antara pemberian dengan pengorbanan? Pemberian itu dilakukan karena kita mampu. Jadi pemberian itu lahir dari kemampuan. Tapi pengorbanan itu lahir dari ketidakmampuan. Ketika saudara sebenarnya tidak mampu, sebenarnya saudara sedang sakit, sebenarnya keadaan keuanganmu sedang tidak baik-baik saja, sebenarnya mungkin engkau lagi punya kesibukan yang sangat amat sibuk, tapi saudara memilih untuk berkorban melayani Tuhan. Itu yang luar biasa.

Nah, saya diberi judul hari ini khotbah saya, tema saya tentang fokus ke Tuhan atau fokus ke masalah. Makanya saya beri judul, judulnya adalah cara melihat masalah. Ini penting, saudara. Selama saya ini dua hari ketika mata saya bengkak, saya banyak pakai kacamata hitam ya. Ini kacamata hitam. Nah, tanpa pakai kacamata, saya lihat saudara itu, saya bisa lihat saudara dengan jelas ya. Ibu pakai baju agak kuning, ibu di sebelah pakai baju merah, ibu di sebelah pakai baju putih. Terus apa lagi? Lantainya putih, saya lihat di sebelah hitam, lampu putih di sebelah, timernya warna merah. Kalau saya melihat dengan mata yang jelas, saya bisa lihat semua warna.

Tapi Bapak Ibu yang di belakang, bapak-bapak dan kebanyakan ibu-ibu, kalau saya pakai kacamata hitam nih, karena mata saya sakit nih. Kalau tanpa pakai kacamata, saya bisa lihat warna baju saudara dengan jelas ya. Warna baju ibu biru, agak biru, kuning, ada merahnya. Tapi kalau saya pakai kacamata hitam nih, saya lihat semuanya itu gelap, semuanya hitam. Seringkali kita dalam hidup kayak begitu. Ketika kita melihat persoalan di sebelah kanan dan di sekitar kita, kita selalu melihatnya itu negatif. Bahkan tidak hanya itu, cara melihat kita, cara melihat orang lain juga negatif.

Kalau saudara pakai baju hijau, saudara pakai baju hitam, saudara pakai baju merah. Tapi ketika saya ketemu sama saudara, saya ngomong begini, "Loh, Bu, kok item semuanya?" Yang salah bukan keadaan yang saya lihat, yang salah adalah begini, mata saya, cara melihatnya yang salah. Seringkali dalam hidup, bukan masalah yang menjadi masalah, tapi cara melihat masalah itu yang seringkali menjadi masalah.

Maaf ya, orang Israel itu semuanya. Jangankan orang Israel, kita semua itu suka dengan tanah perjanjian, betul nggak? Katakan amin. Kita suka dengan tanah perjanjian, kita suka dengan berkat. Semua orang, siapapun kalau sudah ngomongin berkat, tanah perjanjian, kelimpahan, rekening BCA semakin bertambah, semua orang suka. Tapi pelajari dalam Alkitab, orang Israel itu sebelum masuk dalam tanah perjanjian, mereka harus masuk di padang gurun.

Pertanyaan saya sederhana, kalau memang Tuhan sayang kepada anak-anak-Nya, kenapa tidak langsung dalam tanah perjanjian? Kalau kalau memang Tuhan sayang nih, Tuhan sayang sama kita, kenapa Tuhan tidak langsung tempatkan di padang rumput hijau, tapi di padang gurun? Kalau memang Tuhan sayang sama kita. Ternyata saya temukan begini, ini nanti masuk di khotbah saya. Memang Tuhan berjanji untuk membawa orang Israel masuk di tanah perjanjian. Tapi maaf, orang Israel memang sudah keluar dari tanah Mesir, tapi orang Israel belum keluar dari mental Mesir. Saudara, jangan tersinggung ya. Ada banyak orang ke gereja tiap minggu, mentalnya masih mental Mesir. Tapi doanya tanah perjanjian. Doanya tanah perjanjian, doanya diberkati Tuhan, tapi mentalnya masih mental Mesir.

Anda tahu mental Mesir itu apa? Mental Mesir itu mental budak. Mental Mesir itu yang ditakuti cuma begini, cuma dia takutnya karena ini Musa, kami lapar, Musa kami haus. Makanya banyak orang datang ke gereja itu cuma takutnya masalah lapar dan haus. Saya nggak tahu ini saudara datang hari ini, saudara cari apa? Ada banyak orang datang ke gereja beribadah bukan cari Tuhannya, bukan, tapi cari berkat Tuhan. Saudara harus bedakan. Ibu-ibu harus bedakan. Ini kayaknya susah semua, ini wajahnya nih. Salah khotbah nih kelihatannya. Maaf ya, saya tidak anti dengan berkat, tapi buat saya, Tuhan yang memberkati itu jauh lebih penting daripada berkat yang dia berikan.

Saudara, jangan heran ya dan nggak usah tersinggung, nggak usah dosa. Manusia pertama itu dilakukan, terjadi itu di Taman Eden. Kurang apa sih Taman Eden? Di Taman Eden semuanya disediakan Tuhan. Makanya saya berdoa, ibu-ibu jadilah ibu-ibu yang peka dengan suara Tuhan, yang menerima kabar sukacita dari Tuhan, dan yang menerima firman Tuhan itu seperti Maria. Keselamatan itu lahir karena Maria dengar suara Tuhan. Makanya keselamatan itu dimulai dari seorang ibu namanya Maria, yang peka dengan suara Tuhan. Tapi maaf, dosa juga terjadi karena suara ibu yang tidak peka dengan suara Tuhan. Dengerin apa yang iblis mau. Makanya telinga ibu-ibu dengerin apa kata Tuhan, bukan apa kata iblis. Susah lagi ini wajahnya. Lu salah khotbah nih kelihatannya. Saya nggak tahu ibu-ibu akan jadi ibu-ibu yang mana sih WBI ini? Jadi WBI yang seperti Hawa, telinganya denger apa yang iblis mau, atau seperti Maria yang denger apa yang Tuhan mau? Tak bisa berdoa, semua telinga saudara dengar apa yang Tuhan mau.

Makanya ketika orang Israel sebelum masuk dalam tanah perjanjian, mereka masuk di padang gurun. Untuk apa? Untuk menyingkirkan mental Mesir, mental budak, yang cuma begini, "Musa, kami nanti mati, Musa kami lapar." Bapak Ibu di belakang, bapak-bapak, ibu-ibu yang lebih banyak ini, kalau Anda datang di tempat ini, jangan cuma sekedar menginginkan berkat Tuhan, tapi inginkan sang pemberi berkat dalam hidup Anda.

Makanya saya nggak heran ya, sementara lagi kita akan merayakan Paskah. Ketika Yesus buat mukjizat, ribuan orang datang kepada Yesus. Satu kali dengan 5 roti, 2 ikan, berapa banyak orang? 5000 kan? Yesus bilang begini, "Sesungguhnya 5000 orang ini yang kenyang dengan 5 roti 2 ikan, sesungguhnya mereka datang kepadaku karena mereka kenyang." Pertanyaan saya, di mana 5000 orang waktu Yesus ada di atas kayu salib? Nggak ada, Bu. Kenapa nggak ada? Mentalnya, mental berkat. Mentalnya yang tadi kata Yesus, "Sesungguhnya mereka datang kepadaku karena mereka kenyang." Mentalnya ini loh.

Kekristenan jangan dibangun atas karena berkat. Ibu-ibu mau tahu yang setia dengan salib Yesus siapa? Nama yang pertama disebut dengan nama Maria Magdalena, Maria, Ibu Yesus. Seorang ibu itu akan tetap setia dengan anak apapun yang terjadi. Makanya ibu-ibu, anakmu misalkan bermasalah, punya masalah, jangan tinggalkan, tetap temenin. Karena pada akhirnya, ternyata seorang anak itu tidak butuh diomongin, tapi butuh ditemenin. Kalau ibu-ibu, Anda punya anak rohani, kalau lakukan salah, nggak usah diomelin. Zaman sekarang ya, maaf, kita sibuk ngomongin, tapi kita nggak sibuk nemenin. Kita cuma sibuk ngomongin dosanya. Apalagi zaman sekarang, orang itu agak aneh. Kadang di sebuah persekutuan kita ini kan kawan, apa ya? Kita ini anggota keluarga Kerajaan Sorga. Kita ini anggota keluarga.

Jadi ibu-ibu yang duduk di sebelah kanan dan kiri sekalipun, ibu sebelah matanya sipit, di sebelah agak belok, di sebelah agak lebar, baju di sebelah kiri warna merah, baju sebelah kiri warna hitam, yang di sebelah kayaknya rambutnya keriting, di sebelah lurus. Kita ini semua anggota tubuh Kristus. Yang anehnya gini, kita ngomongnya anggota tubuh Kristus. Tapi harusnya kalau tangan kita waras, kalau kaki kita kotor, apa yang kita lakukan? Apa yang tangan lakukan? Maka tangan akan bereaksi, ambil tisu, dia akan bersihkan nih kaki yang kotor. "Aduh, kotor ya?" Gitu. Itu tangan yang waras. Tapi zaman sekarang aneh. Kakinya kotor, bukan dilap, Bu. Tahu apa yang dilakukan? Dipukul. "Dasar lu kotor, lu penzina, lu pendosa, lo tuh suamimu kurang ajar, lu jauh daripada Tuhan." Maaf ya, jemaat yang benar dia tidak menghakimin, tapi dia nolongin.

Makanya akan dengar, Anda akan dengar firman yang agak sedikit berbeda. Kalau Anda cuma mintanya berkat, maaf, saya pendeta yang tidak anti berkat, tapi saya anti dengan orang-orang yang suka dengan berkatnya, tapi nggak suka dengan pribadinya.

Satu kali sehabis dari kantor, saya pulang ke rumah. Saya lihat anak saya lagi main. Waktu saya lihat anak saya lagi main, saya panggil anak saya. Anak saya itu lagi main sama mainan yang kita belikan. Jadi istri saya itu kalau beliin mainan buat anak saya itu pokoknya yang terbaik lah. Anak saya itu pokoknya susu terbaik, mainan terbaik. Anak saya itu lagi main sama mainan yang kita belikan itu. Kalau digoyang-goyang bisa bunyi. Itu anak saya baru usia 1 tahun. Anak saya lucunya minta ampun, lucu, ganteng. Kalau saudara mau tahu, kayak bapaknya. Lahir-lah gitulah kira-kira kayak gitu. Nah, ketika saya baru sampai parkir mobil, saya buka pintu rumah saya, saya lihat anak saya lagi main. Nama anak saya, panggil Bradley. Nggak noleh. Bayangin, ibu-ibu tahu nggak dia kenapa nggak noleh? Sekalipun saya kencang dengan suara saya panggil dia, "Bradley!" Dia nggak noleh. Dia nggak noleh karena dia sibuk sama mainan yang saya berikan. Karena dia sibuk main, dia nggak denger suara bapaknya. Saya panggil lagi suara yang kedua agak kuat, "Bradley!" Nggak noleh, karena dia sibuk main sama mainan yang bapaknya belikan. Sampai istri saya itu bilang begini, "Bradley, itu loh, Dady-mu pulang." Nggak noleh.

Tiba-tiba saya masuk kamar, Tuhan tegur saya, "Eh, David, kamu tahu nggak? Banyak anak-anakku persis seperti anakmu. Ketika nggak punya, minta diberkati. Ketika sakit, minta sembuh. Begitu diberkati, begitu disembuhkan, begitu berlimpah, dia lupa sama suara bapaknya, sibuk sama pemberiannya." Makanya terkadang dalam hidup ya, jangan minta tanah perjanjian kalau nggak siap diproses padang gurun. Karena tanah perjanjian akan menjadi tempat yang paling berbahaya buat saudara kalau proses menyingkirkan mental Mesir itu nggak pernah terjadi. Dan itu terjadi di satu generasi, jutaan orang Israel. Alasan kenapa orang Israel tidak masuk dalam tanah perjanjian. Saudara sudah siap terima firman Tuhan? Katakan amin.

Kita buka Bilangan pasal 14. Kasih salam ke kanan kiri. Ayo kita siap, Bu, dengan didikan Tuhan. Gitu. Bilangan 14 ayat ke-22. Mari kita baca sama-sama, saudara. Satu, dua, tiga. "Semua orang yang telah melihat kemuliaanku terus dan tanda-tanda mukjizat yang kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai aku dan tidak mau mendengarkan suaraku." Apa yang salah dengan orang Israel? Kalau saudara baca ayat ini, ini alasan kenapa Tuhan tidak bawa orang Israel masuk dalam tanah perjanjian. Alasannya apa? Alasannya begini, "Semua orang yang telah melihat kemuliaanku." Mereka lihat kemuliaan Tuhan. Kita ini di gereja ini belum melihat kemuliaan Tuhan, kita baru merasakan kemuliaan Tuhan. Makanya kekristenan itu bukan rasa-rasa, tapi kehidupan. Zaman sekarang kalau tanda orang diurapi, gemetar-gemetar. Nggak ada hubungannya di situ. Tanda orang diurapi itu bukan gemetaran aja. Tanda orang diurapi ini, Bu, hidupnya berubah.

Ada orang yang di gereja begitu didoakan, tapi kalau lihat dosa kok nggak gemetar? Ada orang yang diurapi, nangis-nangis, tapi maaf, pertobatannya nggak muncul. Karena buat saya yang terpenting dalam sebuah pengurapan dan perjumpaan dengan Tuhan, bukan gemetarnya, tapi perubahan hidupnya. Nah, orang Israel, mereka bilang begini, Alkitab bilang begini, "Semua orang yang telah melihat kemuliaanku terus dan tanda-tanda mukjizat." Apa sih mukjizat yang Tuhan buat di padang gurun? Mukjizatnya keren. Mereka lihat mukjizat apa? Mukjizat yang Tuhan kerjakan salah satunya, Musa angkat tongkat, itu laut terbelah jadi dua. Apalagi mereka haus, mereka lapar, ketika mereka lapar, makanan dari surga turun. Ketika mereka haus, Musa ketok batu, keluar bukokan. Ada di situ. Bahasa saya, tapi Tuhan bilang begini, "Namun sepuluh kali mereka mencoba mencobai aku." Bagaimana cara orang Israel mencobai Tuhan? Begini, mereka bersungut-sungut sama Tuhan.

Apa yang bersungut-sungut? Bagaimana cara mereka bersungut-sungut? Banyak orang tidak sampai dalam tanah perjanjian karena ini sungut-sungut. Alias gini, karena mulut banyak orang nggak bisa melihat kemuliaan Tuhan karena faktor ini. Mulut. Ibu-ibu di sini sih nggak baik semua, tapi maaf, Bu, ibu-ibu itu seringkali kalah di masalah ini. Mulut. Makanya pertobatan yang paling penting buat seorang ibu-ibu. Jangan cuma baptis kaki sama kepalanya. Mulutnya ibu-ibu ini nggak di sini, nggak ada sih. Luar sana, karena faktor mulut seringkali kita kalah sama Tuhan. Karena faktor mulut. Tuhan, aku lapar. Tua, Tuhan. Suamiku, Tuhan. Bu, daripada Ibu protes sama Tuhan tentang suamimu, bagaimana kalau berdoa saja tentang suamimu? Bagaimana cari barang? Kau protes terhadap masalahmu, lebih baik engkau berdoa tentang masalahmu. Makanya banyak orang nih sekarang lebih suka protes sama Tuhan daripada berdoa sama Tuhan. Jangan-jangan doamu adalah seluruh protes-protesmu sama Tuhan. "Tuhan, suamiku kenapa begini? Tuhan, anakku kenapa begini? Rumah tangga kenapa?" Kalau bapak ibu ibu datang ke Tuhan, jangan banyak protes.

Orang Israel itu nggak masuk dalam tanah perjanjian karena mulut. Dan buka, bukankah senjata yang sangat mematikan itu adalah mulut? Ngomongin orang, gosipin orang. Makanya buat saya, Bu, maaf, lidah yang benar tidak hanya memperkatakan firman, tapi melakukan firman. Ketika ada orang yang sakit, Anda tidak akan ngomongin dia, hakimin dia, tapi akan tolong dia. Ketika ada orang yang jauh daripada Tuhan, bahkan pendosa sekalipun. Makanya begini, kenapa Maria Magdalena setia, bahkan ketika Yesus sudah mati di atas kayu salib? Karena tidak ada satupun mulut yang menolong mengasihi dia seperti Yesus. Anda tahu kan ketika Maria Magdalena kedapatan berzina, semua orang mereka sudah ambil batu, ini mau melempari dengan batu. Tiba-tiba Yesus bilang begini, "Barangsiapa yang tidak berdosa, silahkan lempari perempuan ini dengan batu." Maaf ya, mungkin kita ngelihat orang berdosa, tidak melempari dengan batu, kita melempari dengan gosip dan mulut, omongan. Dan semua orang mau menghakimi. Tapi Yesus bilang begini, "Barangsiapa yang tidak berdosa, silahkan lempari perempuan ini dengan batu." Jemaat yang benar ini yang saya bilang, bukan menghakimi, tapi mengasihi.

Nah, hari itu Bilangan 14, tampilkan lagi, orang Israel tidak masuk dalam tanah perjanjian. Yang masih pertama, ayat yang pertama. Kemudian ayat 23. Ayat 23. "Sebelum pastilah tidak akan melihat negeri yang kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka, semua yang menista aku." Lagi nih, ibu-ibu di sini ya, sederhana, Bu. Tobat dari mulut. Bu, bilang ke kanan kiri, "Kok kayaknya sedih semua ya ibu-ibu di sini ya? Apa ya?" Terus, "Semua yang menista aku ini tidak akan masuk." Terus tadi lihat Bu, ayat ke-24. Mari kita baca sama-sama, yuk. Satu, dua, tiga. "Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena ia mempunyai jiwa yang lain, dan ia mengikut aku dengan sepenuhnya." I love this one. Terus akan kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya.

Tuhan bilang begini, ini ayat 24. "Tetapi." Ini bagus banget. Tidak ada kata dalam bahasa Indonesia yang paling dahsyat maknanya kecuali kata "tetapi". Kenapa? Karena kata "tetapi" mampu membatalkan kalimat-kalimat di belakangnya. Contoh, "Kamu cantik, badanmu semampai, tasnya bagus, tapi jorok." Begitu muncul kata "tetapi", cantik dan semampai itu hilang. Makanya begini, jutaan orang Israel itu sudah dibatalkan sama Tuhan. "Tetapi hamba-Ku Kaleb." Keren. Pertanyaan saya, siapa sih Kaleb ini? Ini saya baru masuk di khotbah saya sebenarnya. Kita akan belajar dari seorang yang bernama Kaleb. Siapa sih sebenarnya dalam tanah perjanjian? "Tetapi hamba-Ku Kaleb." Siapa dia? Sebelumnya tidak pernah tercatat Kaleb itu siapa, selain ada dua nama, Kaleb dan Yosua, yang selalu mengikut Musa setiap Musa ketemu sama Tuhan.

Jadi gini, Kaleb dan Yosua itu bukan siapa-siapa. Mereka bukan perwira, mereka bukan anak keturunan raja. Maaf bahasa saya, tapi mereka berdua selalu mengikut Musa setiap Musa ketemu sama Tuhan. Jadi hati yang tua dan Kaleb, mental Kaleb dan Yosua. Kemanapun Musa mau ketemu sama Tuhan, mereka ikut. Sampai satu kali Musa ketemu sama Tuhan di puncak Gunung Sinai, Yosua dan Kaleb itu ada di bawah untuk nunggu Musa. Sedangkan mental orang Israel, Tuhan itu bilang begini, "Musa, bawa umatku untuk berjumpa dengan aku." Orang Israel nggak mau. Kenapa mereka nggak mau? Kalau ketemu Tuhan itu mesti naik ke puncak gunung, berat. Lebih baik kami enak di bawah. Maaf ya, mental-mental di bawah nggak akan pernah ngalamin mukjizat Tuhan.

Ada orang yang mentalnya itu di bawah. Tapi Yosua dan Kaleb nggak mau. Sampai kemudian mereka dipilih untuk jadi abdi Musa. Kemana Musa mau ketemu Tuhan, mereka ikut. Saya berdoa hari ini, siapapun Anda yang datang di tempat ini, setiap orang mau ketemu sama Tuhan, deket sama Tuhan, ikut aja, Bu. Nggak usah banyak komplain. Ikut aja. Mentalnya jangan dibawa. Tapi jutaan orang Israel, mentalnya di bawah. Ada banyak orang mentalnya itu di sini. Makanya kalau orang di bawah, dia nggak mungkin bisa melihat masalah itu dengan benar. Hanya orang yang ada di puncak, di atas, melihat semua yang di bawah itu kecil. Tapi kalau saudara mentalnya di bawah, lihat semuanya besar. Apalagi saya, kalau di Jakarta ini tinggal di Kasablanka Mansion, itu kita di lantai 26. Satu kali saya mau ke, dari Kasablanka itu saya mau pelayanan di Saharjo. Mau pelayanan di Saharjo. Satu kali setelah saya di bawah, dia bilang, "Ini Pak, kita mau berangkat jam berapa, Pak?" "Udah tunggu dulu lah ya, tunggu aja dulu. Biasanya masih macet." Tahu saudara, karena pelayanannya tidak terlalu jauh di Saharjo itu kan ada jalan macet samping Kokas itu kan. Tahu nggak apa yang saya lakukan? Saya naik. Saya buka jendela dari lantai 26 dan saya telepon dia di bawah, "Nggak apa-apa, tunggu aja. Itu gerejanya deket kok, nanti kita lewat kiri." Kenapa? Karena dari atas saya bisa lihat mana yang macet dan mana yang nggak macet. Saya belajar. Tapi kalau saya di bawah, saya lihat semuanya macet. Semuanya di depan macet, kanan macet, kiri macet, belakang macet, semuanya. Tapi karena saya di atas, saya bisa lihat, "Oh, nanti ke kiri ini nggak macet, ke kanan langsung tembus." Maaf ya, orang yang ada di posisi di atas pasti bisa melihat masalah dengan cara benar. Tapi kalau di bawah, "Masa kami lapar."

Nah, satu kali Tuhan bilang begini, "Musa, putus 12 pengintai untuk mereka masuk ke tempat yang aku janjikan." Maka diutuslah 12 orang. Di situ ada Yosua, di situ ada Kaleb, dan 10 pengintai. Makanya tadi seperti tema fokus kita itu apa sih? Jangan lihat masalah, fokusnya itu pada Tuhan, pada Kristus. Ketika mereka datang ke negeri itu, 12 pengintai ini bilang begini, "Wah, negerinya subur, anggurnya bagus, tanahnya terbaik, padang rumputnya hijau, semuanya subur." Tiba-tiba 10 orang itu bilang begini, ketika mereka sudah sampai dan mereka pulang dari tempat itu, dari negeri yang dijanjikan Tuhan, Bilangan pasal 13 yang saya sudah siapkan ayatnya. Bilangan pasal 13. Mereka menceritakan kepadanya, ini 10 orang nih, 10 orang ini suara mayoritas. "Mereka menceritakan kepadanya, kami sudah masuk ke negeri ke mana kau suruh kami, dan memang negeri itu apa saudara? Berlimpah dengan susu dan orang suka susu dan madu." Ketika 12 pengintai ini diutus sama Musa, mereka bilang begini, "Memang negeri itu berlimpah dengan susu dan madu." Bahasanya, "Negeri itu penuh dengan kelimpahan." Jemaat Tuhan itu kalau sudah dengar kelimpahan itu suka banget. Sampai kemudian mereka bilang, "Negeri itu berlimpah penuh susu dan madu." Dan inilah hasilnya. Mereka tunjukin Musa, "Inilah hasilnya."

Cuma mentalnya 10 orang itu, dia bilang begini, "Memang sih negeri itu berlimpah susu dan madu, memang penuh kelimpahan, memang penuh dengan berkat Tuhan, tapi..." Kita bilang begini, "Hanya." Batal lagi. "Kamu cantik sih, kamu semampai." Hanya. Bau cantik semampai hilang, Bu. Begitu muncul kata "hanya", begitu muncul kata "tetapi", apa yang mereka imani itu sudah luntur. Banyak orang Kristen modelnya kayak begitu. Percaya diberkati, amin Pak Pendeta. Percaya dipulihkan, amin Pak Pendeta. Percaya suamimu dipakai Tuhan, amin Pak Pendeta. "Hanya," Pak Pendeta, "suami saja." Udah, apa yang saudara imani luntur.

Seringkali, maaf ya, ketika Anda beriman, musuh yang paling berbahaya adalah keadaan. Beriman sih tentang kelimpahan, tapi nggak kuat menghadapi keadaan dan kenyataan. Makanya banyak orang sekarang imannya itu tidak dipengaruhi oleh Tuhan, tapi imannya dipengaruhi oleh keadaan dan omongan orang. Tapi di gereja ngakunya beriman. Maaf ya, kalau Anda masih ngomong beriman, tapi hidupmu dipengaruhi keadaan dan omongan orang, nggak usah teriak panggil nama Tuhan. Itu persis seperti anak saya.

Kalau anak saya bilang begini, "Papa, besok aku makan apa?" "Papa, tenang nak, bapak model begini akan rela kerja keras buat yang terbaik buat masa depanmu." Besok lagi datang, "Papa, aku besok makan apa? Bagaimana dengan sekolahku?" "Papa, saya akan bilang begini, bapakmu ini rela kerja keras demi masa depan yang terbaik." Hari ketiga, "Papa, aku besok makan apa, Pak?" Lama-lama saya suntik pantatnya. "Kurang ajar kamu ya, kamu nggak kenal sama bapakmu ini?" Maaf saudara, saya hamba Tuhan, tapi saya juga punya usaha. Usaha itu di Sulawesi Tengah, di tengah-tengah hutan di Morowali. Bapak model begini, Bu, saya rela kerja keras demi yang terbaik buat anak saya. Bapak model begini aja tahu yang terbaik, apalagi bapak di surga. [Tepuk tangan] Tapi mentalnya orang Israel. 10 pengintai. "Memang berlimpah, hanya." Coba perhatikan, "Hanya bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat, raksasa." Takut sama raksasa. Benar sih kelimpahan, tapi ada raksasanya. Terus dia bilang begini, "Hanya bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat, dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar. Juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." Jadi 12 pengintai ini ketika kembali, 10 nya bilang begini, "Musa, Musa, Musa, negerinya subur, kelimpahan susu dan madu banyak di sana, tapi musuhnya besar." Ketika mereka tahu musuhnya besar, mereka ketakutan. Padahal saudara harus ingat, tidak akan pernah ada promosi Tuhan tanpa Goliat dan musuh yang harus dihancurkan.

Kalau saudara sedang menghadapi padang gurun, selalu ada tanah perjanjian yang Tuhan akan sediakan. Makanya Tuhan tidak promosikan Daud sebelum Daud ketemu dengan Goliat. Saudara, promosi Tuhan untuk Daud masuk di Israel itu kapan? Bukan ketika diurapi dengan tabung Samuel datang bawa minyak. Bukan kan? Samuel datang kan? Mana anakmu Isai? Datanglah Daud, terus diurapi, langsung dia jadi perwira atau raja? Nggak. Pengurapan-pengurapan itu tidak langsung. Yang membuat Daud sampai diurapi, sampai jadi perwira, sampai jadi raja adalah begini, promosi itu datang ketika dia ketemu sama Goliat. Jadi kalau saudara sedang menghadapi Goliat dalam hidup saudara, itu adalah cara Tuhan mempromosikan hidup. Nggak usah takut dengan raksasa dan Goliat, karena di belakang raksasa dan Goliat, di balik sebuah pertempuran, selalu ada kemenangan yang Tuhan akan kerjakan dalam hidup saudara.

Makanya ketika semuanya bilang begini, "Di sana besar, musuhnya besar." Fokus mereka, fokusnya sama masalah. Tapi bagaimana dengan Kaleb? Langsung tampilkan Kaleb bilang begini, "Ketika 10 dia bilang begini, 'Kami takut, nanti kami mati di sana, raksasa memang susunya berlimpah, tapi di sana besar.'" Ayat yang ke berikutnya, Bilangan 13. "Kemudian Kaleb mencoba menentramkan bangsa itu di hadapan Musa, katanya, 'Baiklah kita maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan menang.'" Ini poin saya. "Hanya orang yang kenal dengan Tuhan, mereka punya kepastian iman dalam kemenangan." Padahal 10-10 nya takut. Tahu nggak bedanya Kaleb dan Yosua dengan yang kubu sebelah? Tampilkan, tampilkan, tampilkan. Berapa banyak Yosua dan berapa banyak kubus sebelah? Ini kubu sebelahnya ada 10. Yang 10 ini bilang begini, "Kita akan mati, kita akan hancur di sana, besar, bisa ada raksasa." Dua orang ini bilang begini, "Kita akan maju, karena kita pasti akan mengalahkannya." Iman yang benar tahu Tuhan yang benar. Dan ketika saudara percaya dengan iman, apapun masalah saudara, pasti bisa mengalahkannya. Yang kadang kita dipengaruhi sama suara mayoritas. "Potensi besar dan celakanya adalah suara jutaan itu lebih ngikutin suara mayoritas." "Besar masalah kita, besar." Dua orang ini minoritas. Makanya buat saya, saya nggak peduli dengan mayoritas. "But for me, one man with God is majority." Satu orang itu dengan Tuhan itu mayoritas. Makanya sekalipun saudara mungkin minoritas, bahkan seorang diri, tapi kalau Tuhan bicara, apa lakukan. Dan itu yang terjadi di murid-murid Tuhan.

Ketika mereka sedang mengayuh perahu, 5 menit lagi saya selesai. Ketika mereka sedang mengayuh perahu, satu kali Yesus berjalan di atas air. Pasti Bapak Ibu pernah baca tentang cerita itu kan? Ketika Yesus berjalan di atas air, murid-murid ribut. Ketika mereka lihat Yesus berjalan di air, tidak hanya mereka ribut, mereka teriak, "Hantu!" Nggak masuk di kepala saya sih. Tidur dengan Yesus, makan dengan Yesus, pelayanan dengan Yesus, melayani bersama-sama dengan Yesus, lihat mukjizat Yesus. Tapi begitu Yesus berjalan di atas air, mereka teriak, "Hantu!" Kalau saya jadi Yesus, agak tersinggung juga sih. Coba bayangkan, Yesus berjalan di atas mukjizat, tiba-tiba Yesus berjalan di atas air, tiba-tiba murid-muridnya bilang begini, "Hantu, hantu!" Kalau saya jadi Yesus, saya datang ke hantu, "Kurang ajar kau bilang hantu!" Kenapa mereka bilang hantu? Sederhana, nggak mungkin itu Yesus. Tiba-tiba ada suara minoritas namanya Petrus. Saudara, Bapak Ibu, bisa cek baik nanti di rumah. Tiba-tiba Petrus bilang begini, "Semuanya teriak, 'Bantuan!'" Tiba-tiba Petrus bilang begini, "Tuhan, itukah Engkau?" Yang lain teriak, "Hantu!" Yang lain teriak, "Tidak mungkin!" Satu orang ini bilang begini, "Tuhan, itukah Engkau?" Dijawab sama Yesus, "Ya, ini Aku. Datanglah."

Petrus tidak akan pernah ada cerita Petrus berjalan di atas air kalau Petrus tidak keluar dari perahu. Maaf ya, seringkali saudara tidak melihat mukjizat Tuhan karena yang jadi penghalang adalah suara di dalam perahu. Suara manusia, suara mayoritas. "Nggak mungkin kamu gagal, nggak mungkin nanti kamu mati, gagal, kamu mati, mati, gagal, gagal, gagal." Suara mayoritas itu terdengar di dalam perahu. Tapi tiba-tiba suara minoritas bilang, "Ini Tuhan, itukah Engkau?" "Ya, ini Aku. Datanglah." Mungkin ini yang terjadi. Mungkin ketika Petrus dia langkahkan kakinya keluar dari perahu, kan nggak akan mungkin kan ada cerita Petrus berjalan di atas air kalau Petrus tidak keluar dari perahu. Tapi mungkin semua teriak, "Hantu!" Ketika Petrus dia langkahkan kakinya keluar dari perahu, mungkin tangannya ditarik sama teman-temannya. Ibu-ibu tahu nggak kenapa Petrus berjalan di atas air? Karena yang pertama dia dengar Yesus, dan yang kedua dia lihat Yesus. Orang yang dengar dan lihat Yesus, pasti hidupnya akan berjalan di atas.

Ibu-ibu, ketika hidupmu dengar dan lihat Tuhan, firman Tuhan, percayalah hidupmu pasti dalam mukjizat Tuhan. Tapi ada musuh yang paling berbahaya ini yang saya mau katakan buat saudara, bapak ibu. Terutama ketika Petrus berjalan di atas air, kok bisa Petrus tenggelam? Petrus tenggelam karena satu faktor saja. Ketika dia lihat Yesus, dia berjalan di atas air. Alkitab mencatat dengan jelas, koreksi saya kalau saya salah, maka dirasa-rasanya tiupan angin itu sangat kuat. Betul nggak? Petrus jatuh tenggelam itu karena satu faktor. Perasaan. Maaf ya, saya ini kaum saya ini kuat di logika, tapi kaum di depan mata saya ini kalah di perasaan. Makanya melihatnya, Bu, kalau melihat item, lepas kacamatanya. Halo, betul? Anda tahu nggak kenapa Hawa jatuh dalam dosa? Dia tahu kok itu salah, tapi iblis berhasil untuk memainkan perasaannya. Dia kaum saya ini selalu dikalahkan di unsur logika, tapi kaum yang saya lihat cantik semua di depan mata saya ini kalah di sini. Perasaan. Kira-kira tahu nggak Hawa bahwa itu salah? Tahu. Dimainkan perasaannya. "Oh, nggak, nanti kalau kamu makan, kamu lihat kemuliaan lah." Bahasanya kayak begitu. "Kamu akan seperti Tuhan." Makanya maaf ya, mall-mall itu barang-barang branded diciptakan untuk memainkan perasaan para wanita.

Bertobat. Makanya maaf ya, setan buat berbahaya buat ibu-ibu. Aduh, Bu, jangan setan dedemit pocong itu mah setan bego. Maaf, Bu. Kalau ada setan datang, aku pocong, itu bego, karena apa? Ibu-ibu pasti tengking. Betul nggak? Tapi setan-setan yang diskon 70%, 80%, terus lupa. Iya kan? Lupa kan? Kalau suamimu di tengah hutan itu banting tulang, patah tulang, kau gesek lah kartu kreditnya. Padahal suamimu di dalam hutan, dia sedang gesek kepalanya. Maaf, Bu, jangan sibuk merangi model-model roh-roh model kayak begitu. Sibuk perangi tentang keinginan dagingmu. Dan celakanya nih, ibu-ibu lagi ini. Nggak apa-apa lah, di sini bukan ibu-ibu, di sini sana. Celakanya dia udah makan, dia nggak pengen dianya sendiri. Dia kasih juga ke suaminya karena cinta. Lupa lagi nih. Karena cinta. Kan sayang, aku makan enak, loh. Sayang, makan dong. Ya mungkin khawatiran Adam sih mau ngomong, "Kamu tahu nggak firman Tuhan?" Cuma dia udah karena cinta. Dibungkus cinta. Segala sesuatu yang dibungkus cinta itu menipu. Kadang dimakan juga. Selesailah mereka berdua.

Tak bisa berdoa. Ibu-ibu di tempat ini tidak seperti Hawa, tapi seperti Maria, yang didengar bukan iblis, tapi suara dari Tuhan untuk mendatangkan kemuliaan. Ya, makanya hari ini saya nggak peduli masalah ibu-ibu apa. Saya nggak tahu Goliat di rumahmu apa. Saya nggak tahu raksasa di rumahmu apa. Tapi yakinkan bersama dengan Tuhan, kita pasti akan mengalahkannya. Dan itu terjadi ketika Yosua dan Kaleb punya fokus yang benar tentang Tuhan. Bukan masalah, bukan keadaan. Fokusnya ke Tuhan. Orang lain bilang, "Suara mayoritas, kita akan mati, kita akan mati." Mereka berdua, "Bersama dengan Tuhan, kita akan menang." Jutaan, puluhan ribu perwira di Israel ketika muncul Goliat, Goliat bilang begini, "Mana Goliat? Dia hina Allahnya Israel." Semua prajurit Israel mereka pipis di celana. Tiba-tiba datanglah satu orang. Nggak kenal siapa dia. Tiba-tiba bilang begini, "Aku hadapi orang ini ya." Sampai kakaknya itu bilang begini, "Eh, kamu ngapain ke sini? Kamu mau mengintip kami? Kami mau memata-matai kami?" Tiba-tiba satu orang ini, satu orang ini tidak pernah jadi perwira dan prajurit perang. Satu orang ini tuh cuma hobinya cuma menyembah Tuhan. Terus kadang kalau ada singa dan beruang, dia lawan itu aja. Tiba-tiba ketika Goliat datang, satu orang ini bilang begini, "Udah, aku yang hadapin."

Sampai cerita lengkapnya itu, Saul itu mau kasih pedang dan jubahnya kan? Ditolak sama Daud. Ibu-ibu tahu nggak kenapa Daud menolak pedang dan jubah Saul? Karena dia nggak terbiasa pakai jubah dan pedang. Dia cuma gembala kambing domba. Dia cuma bawa senjata yang selama ini dia pegang. Apa sih senjata yang selama ini ibu-ibu pegang? Memang senjata itu tidak kalah keren, tidak sekeren pedang. Memang senjata itu senjata sederhana, tapi Daud tahu sebenarnya yang dia bawa itu bukan senjata ini, tapi senjata ini loh, yang atas nama Tuhan. Makanya ketika Goliat di depan mata, kau lihat teriak begini, "Eh, anjing, kok sehingga engkau datang kepadaku tidak membawa pedang, tapi bawa ketapel, bawa umpan." Makanya Goliat, "Anjing ke aku, kalau saudara nggak dua kali, satu kali aja kok bisa tepat pada sasaran dan Goliat jatuh." Gini, yang membuat tepat pada sasaran itu bukan lemparan Daud, tapi "Aku mendatangi engkau dalam nama Tuhan." Setiap orang yang datang dalam nama Tuhan, selalu tepat sasaran untuk mengalahkan musuh. Berita. Tepuk tangan buat Tuhan Yesus.

Saya undang pemusik buat bangkit berdiri. Saya suka dengan lagu ini. Saya undang saudara bangkit berdiri. Pengusir maju ke depan. Saya suka banget dengan lagu ini. Lagu ini ngajarin ke kita bagaimana kita fokus ke Tuhan, bukan masalah. Dan sekalipun dalam hidup kita nggak ngerti apa yang Tuhan. Sering ku tak mengerti jalan-jalanmu Tuhan. Bagai di belah. Coba begini. Jangan banyak tanya. Tanpa seribu tanya. [Musik] Dari awal lagi kita nyanyikan. [Musik] Dalam hidup kita nggak ngerti, bahkan cara dan jalannya. [Musik] Gelap. Ini yang Daud katakan, "Sekalipun aku dalam lembah kelam, aku tidak takut bahaya." Tanpa seribu. [Musik] Tetap percaya saja. Sungguh sempurna. Mari angkat tangan di hadapan Tuhanku. Ajarku memahami semua yang Kau ini, agar hidupku puaskan hati-Mu. [Musik] Sepenuh hati menghamba. Serahkan diri. Kenapa karyamu? Sering ku tak mengerti. Sering ku tak mengerti. Terkadang kita punya masalah, persoalan. [Musik] Tapi satu hal. [Musik] Sekalipun kita di belantara gelap, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Yang penting nggak usah banyak tanya. Percaya saja. Namun tetap percaya. Sejakku Tuhan sempurna. Semuanya. Angkat tangan kita. Katakan, "Ajarku memahami." Agar ku memahami. Agar hidupku. [Musik] Kenabi yang mengangkat tangan. Yang mau menyembah Tuhan. Ajarku, ajarku memahami semua yang. Agar hidupku. Aku rela Tuhan. Seperti. [Musik] Ibu-ibu yang datang hari ini, saya tidak tahu apa kuliah permasalahan yang ibu-ibu alami. Tapi ijinkan saya datang dan berdoa. Akan kedua tanganmu di hadapan Tuhan. Yang datang pagi hari ini, yang mungkin kau sedang menghadapi masalah di mana suara mayoritas berkata, "Tidak mungkin, kamu akan gagal, musuhmu besar." [Musik] Tapi iman kita harus seperti Yosua. "Sekalipun besar, aku pasti akan mengalahkan." Ibu-ibu yang mau didoakan, angkat tangan kananmu. Taruh tangan kiri di dalammu. Dan saya akan berdoa buat siapapun yang tangannya terangkat. Yang saat ini berdoa dalam nama Yesus. Aku berdoa kepada Allah. Setiap mereka yang mengangkat tangan mereka tahu mereka beruntung dalam. [Musik] Kurang lebih lebih sama dalam nama Yesus. [Musik] Agar hidupku. Dalam nama Yesus. Ingatkan bahwa iman itu tidak terpengaruh dengan omongan orang. Dalam nama Yesus. [Musik] [Musik] Memahamimu. Terima kasih, Bapak. [Musik] Ada Tuhan yang besar dalam hidupmu. Jangan pernah takut. Dibalik raksasa dan Goliat yang kau hadapi, ada kemenangan yang Tuhan janji atasmu. Kau pasti mengalahkan. Kau pasti menang. Dalam nama Yesus. [Musik] Agar hidupku puaskan hatimu. [Musik] Bagimu aku bisa. Kembalikan Worship leader, silahkan. [Musik] Diri. [Musik]