📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Sisi Gelap Dunia Saham

Timothy Ronald15:09

Transcription

Pertanyaan: Semua investor retail di Indonesia, sebenarnya bandar saham itu ada enggak sih? Dan kalau ada pun, siapa sih sebenarnya bandar saham ini? Di sini, gua akan bahas tentang sisi gelap dari dunia saham yang kalian enggak akan ketemu di tempat lain. Karena ini semua yang gua akan ceritakan di video kali ini, itu based on experience gua sendiri. Sebenarnya ini, gua jujur, gua lumayan bertanya-tanya sama diri gua, kenapa gua bikin video ini. Dan akhirnya gua sampai ke konklusi bahwa retail di Indonesia harus tahu tentang kebenaran yang ada di pasar modal Indonesia. Jadi gua sebenarnya sedikit lumayan takut, ya, dalam bikin video ini. Jadi mungkin sebelum kita bahas sisi gelap dunia saham, kita bahas dulu kenapa gua pribadi itu masuk ke dunia saham.

Jadi, kalian banyak yang sudah tahu, gua mulai di saham itu di umur yang relatif muda, ya. Mungkin lebih muda dari sebagian besar orang. Gua sekarang umur 22 tahun dan gua udah sekitar 7 tahun di pasar modal. Jadi gua mulai itu tahun 2015, waktu gua masih di SMP, usia 15 tahun. Memang gua tahu gua sedikit sengklek, ya, di kepala. Jadi gua memang mulai saham tuh awal. Kenapa? Karena ada yang tanya, oh nih dari orang tua lu ya, Bang? Orang tua lu punya sekuritas ya? Enggak gitu ya. Jadi orang tua gua enggak ada hubungannya. Bahkan gua waktu itu sempat dimarahin karena waktu itu gua sempat bolos sekolah untuk trading. Jadi orang tua gua bilang, "Ini lu ngapain sih di depan layar ini? Kan cuma angka-angka, judi, buat apa sih sebenarnya lu ngelakuin hal-hal ini?" Gua waktu itu awalnya baca buku. Jadi gua baca buku tentang orang-orang sukses. Di situ ada Bill Gates, ya kan, ada Enzo Ferrari, ada juga Warren Buffett. Dan Warren Buffett ini yang paling mengambil, ibaratnya, attention gua, atau perhatian gua. Kenapa? Karena dia bisa dengan investasi di saham jadi super kaya. Jadi gua coba dong. Oke, gua cari-cari tuh dari Google, gua cari apa sih itu saham. Jadi, oh saham tuh kepemilikan perusahaan. Gua belajarin semuanya, semua hal tuh gua pelajarin dari technical analysis, ya, fundamental analysis, apapun tentang saham gua kulik. Kalau kalian tanya mungkin buku tentang saham yang gua udah baca, lu mau sebut misalnya Peter Lynch, Warren Buffett, buku tentang Warren Buffett sendiri aja, L ada 50 biji kali gua baca. Dari kayak The Warren Buffett Way, Snowball, semua itu gua udah pernah baca. Sampai akhirnya gua ketemu salah satu buku yang waktu itu orang bilang agak sulit dibaca, yaitu The Intelligent Investor. Nah, di situ gua belajar tuh, oh oh ternyata mis market tuh bekerjanya seperti ini, oh ternyata saham itu bisa dievaluasi, ya, ternyata ada harga intrinsiknya.

Jadi selama gua dari 2015, dari gua usia 15 tahun sampai gua 2020, ya, waktu sebelum Covid, gua tuh adalah investor fundamental garis keras. Bukannya gua enggak coba analisa secara teknikal dan lain-lain, gua coba ya analisa teknikal, tapi yang paling stuck di gua adalah gua ngelihat saham itu adalah sebuah bisnis. Jadi itu kepercayaan yang gua punya sampai tahun 2020. Waktu itu gua awal mulai bikin konten di YouTube, gua mulai bikin konten juga di TikTok mengenai saham. Kalau kalian tahu, gua waktu itu masih pakai baju kutang, ya, ngajarin tentang Price to Earning Ratio, ya, Price to Book Ratio. Seiring portfolio gua mulai besar dan gua mulai punya ibaratnya followers di situ, gua banyak mulai ketemu beberapa orang yang di dalam pasar modal. Karena waktu itu gua ngelihat pasar modal tuh dari luar, mungkin kayak kalian. Jadi gua enggak pernah berinteraksi langsung dengan analis dari sekuritas, gua enggak pernah berinteraksi langsung sama bos-bosnya, bahkan yang punya sekuritas, sama direktur-direktur aset management. Gua waktu itu enggak pernah ketemu. Tapi begitu gua ketemu ibaratnya naga-naga di pasar modal ini, jadi banyak persepsi gua justru yang berubah tentang pasar modal Indonesia. Contoh yang sederhana misalnya tentang analisa teknikal yang dulu gua percaya banget. Kayak misalnya, oh gua akan selalu cari tuh kira-kira support resistance di mana, gua bisa buy on breakout di mana. Tapi gua lihatnya sekarang, teknikal tuh malah digunakan oleh yang disebut bandar ini untuk mengelabui retail.

Maksudnya apa? Mereka jadi tahu retail tuh gambar garis di mana, dan mereka kerjanya di mana. Justru mereka pakai, tapi untuk ngelihat retail tuh pasangnya di mana dan cara mikir retail tuh seperti apa. Itu contoh hal-hal yang gua pelajarin. Nah, gua percaya waktu itu bahwa on period of time, ya, saham itu akan selalu balik ke intrinsic value-nya. Sebenarnya gua masih percaya sampai sekarang, tapi di beberapa saham doang dan di market yang efisien. Maksudnya apa? Jadi kita tahu teori Eugene Fama, yaitu Efficient Market Hypothesis, bahwa di hipotesa ini disebutkan, ya, bahwa pelaku pasar itu adalah orang-orang yang rasional dan harga pasar itu merefleksikan dengan semua berita yang ada di saat ini. Jadi ibaratnya enggak mungkin untuk kita bisa ketemu saham yang diskon. Tapi kita tahu di praktiknya hipotesa ini, apalagi di Indonesia, mungkin kalau kalian tanya sama semua fund manager di Indonesia dan semua orang yang main saham cukup lama di Indonesia, saham di Indonesia itu sangat tidak efisien, jauh lah dari orang bilang em efficient market hypothesis. Kenapa? Karena banyak banget ibaratnya individual yang mendapatkan informasi jauh lebih awal dibanding kita investor retail. Banyak sudah tahu, oke saham A ini mau corporate action tanggal sekian, mau rights issue-nya sekian di tanggal sekian, sebelum retail tuh dapat informasinya, sebelum muncul tuh di RTI corporate action, orang udah banyak yang tahu duluan yang dapat informasi, informasinya dibilang A1.

Yang paling penting gua pelajari selama ini di saham itu adalah dua: satu adalah uangnya masuk, money flow, dan yang kedua adalah kepentingan dari emiten tersebut. Contohnya ada kepentingan politik dan lain-lain, tapi itu mungkin gua enggak bisa bahas, ya, di video kali ini. Nah, hal-hal seperti ini, kalau misal di luar negeri ini juga sebenarnya di Indonesia ada hukumnya di pasaran modal, itu disebut dengan insider trading, di mana dapat informasi lebih dulu tentang perusahaan tuh mau ngapain dan memanfaatkan justru informasi itu untuk melakukan trade, ya. Jadi kalau misalnya kalian kerja di sekuritas, kalian tuh enggak bisa main cuma beli saham kayak kita biasa gitu, kalian mesti report ke atasan kalian. Nah, makanya dilakuin sama orang-orang di sekuritas, mereka pakai friends and family. Jadi pakai nama mamanya, nama adiknya untuk transaksi jual beli saham, dan itu di Indonesia adalah hal yang lumrah. Sedangkan kalau di luar negeri itu tuh sangat diregulasi ketat oleh SEC, ya, Securities and Exchange Commission. Jadi itu sangat diawasin dan itu bisa dikenain insider trading dan banyak hedge fund yang sudah kena. Contohnya seperti SAC Capital-nya Stephen Cohen, berubah jadi family office karena pernah kena charge insider trading, jadi fine luar biasa besar. Indonesia itu enggak punya SEC ini, ya, sebenarnya punya, namanya OJK. Kita bisa lihat ada yang bisa pamandang secara sosial media ini jarang loh, hampir jarang terjadi sebenarnya di US, apalagi di pasar modal, yaitu kalian bisa pamandang dalam suatu saham, ya, dengan memanfaatkan retail untuk buangin barang kalian. Di sini gua akan definisikan saham sebagai barang, ya, karena biasa orang-orang market ngomong saham itu barang. Hal ini bisa terjadi kenapa? Karena banyak investor bodoh di Indonesia. Dengan bikin buku di Instagram, media kalian bisa langsung pamandang retail.

Mungkin banyak dari teman-teman yang sempat ngomong, "Oh, lu pom-pom saham gitu?" Gua misal kemarin bilang di video gua kan, gua cara investasi saham dengan Rp0 juta, ada yang bilang, "Wih, lu pom-pom, Bang Berry? Itu gimana cara di pom-pomnya?" Kalian tuh punya miskonsepsi yang salah tentang kata-kata pom-pom. Jadi pom-pom tuh sebenarnya bukan naikin harga saham ini yang kalian selalu salah. Kalian kira pom-pom tuh artinya gua suruh lu beli, lu beli harganya naik sahamnya, gua cuan. Enggak! Untuk naikin harga saham, kita cari yang biasa di pom-pom lah ya, kalau BRI kan susah pom-pomnya, market cap-nya ratusan triliun. Biasanya di pom-pom tuh 300 miliar. Kalau tanya gua pribadi untuk naikin saham 200-300 miliar itu, gua pakai duit gua sendiri udah cukup, gua enggak perlu kalian untuk beli sahamnya, gua beli sendiri sahamnya naik. Tapi pertanyaannya apa? Kalau gua punya barang, ya kan, gua punya barang nih, sahamnya naik, gua udah ibaratnya gua udah izin nih sama emitennya, gua beli nih, sahamnya naik, ya kan? Karena kan biasanya saham yang 200-300 miliar market cap-nya itu enggak likuid, sahamnya ya, bid offer-nya tipis. Gua beli nih, sahamnya naik, problemnya apa? Gua enggak bisa jualan barangnya gitu karena tipis bid offer-nya. Jadi yang gua perlu, perlu apa? Gua pom-pom ya, gua pom-pom untuk kalian beli di harga yang sudah gua naikin. Jadi pom-pom itu bukan beli pas naik, tapi pom-pom itu gua udah naikin dulu, baru gua suruh kalian beli. Jadi kalian tuh exit liquidity-nya, jadi gua buang barangnya ke kalian, itu baru definisi dari pom-pom. Nah ini banyak banget yang dilakukan sama influencer-influencer sebenarnya di Indonesia. Nah, makin gua terjun ke dalam dunia di capital market ini, semakin gelap ibaratnya dunia yang gua lihat. Jadi cara permainannya, ya, banyak retail yang salah masuk ke permainan ini, ya, dengan tanpa ilmu, ngira ini adalah permainan yang adil. Tapi gua akan kasih tahu kalian sini, permainan di pasar modal tuh tidak adil untuk retail.

Saham itu, ya, gua kasih analogi mungkin yang paling gampang kalian ngerti adalah kayak kita main pingpong sama kaca. Kalian main pingpong pakai kaca, tapi ngelihat diri kalian sendiri, tapi di belakangnya. Jadi kaca itu bisa tembus gitu ya, bisa tetap main ya, belakangnya itu adalah orang yang kalian gak tahu siapa lawannya. Kalian cuma bisa lihat diri kalian sendiri di kaca, tapi kalian gak bisa lihat belakangnya itu siapa. Itu kayak kalian buka sekuritas kalian dan mulai trading. Jadi yang buat bilang scalping itu gampang dan lain-lain, hati-hati karena banyak yang sebenarnya ngajarin scalping, tapi sebenarnya itu adalah kerjasama dengan sekuritas atau dibuat sama sekuritas gitu di belakang meja pingpong tadi. Itu bisa aja robot, ya kan, misal kita main pingpong deh, bisa aja robot, ya kan, bisa aja juara dunia gitu dan kalian bisa dibantai. Gu kalau dapatnya juara dunia, tapi bisa aja orang kayak kalian lagi yang sama-sama bodoh, sama-sama enggak ngerti apa-apa. Jadi itu sebenarnya analogi paling baik kalau gua jelasin tentang main saham ini. Gua kasih contoh aja ya, gimana caranya permainannya enggak adil. Kalau kita sekarang kan kita udah tahu mata retail tuh semacam, ah ditutup lah, broker summary itu udah ditutup segala macam. Tapi uniknya gini, bandar itu bisa ngelihat saham lu apa. Jadi bandar itu bisa ngelihat barang-barang lo apa, tapi lu gak bisa ngelihat barangnya di apa. Maksudnya apa? Kalau kalian tahu saham itu kan ada DPS kan, Daftar Pemegang Sahamnya. Kalau kalian beli agak gede, misalnya gua beli gede lah, misalnya 30M, 50M, Timothy Ronald itu bakal muncul di DPS-nya. Jadi T+2 nanti bandar tuh bisa ngelihat barang gua, oh ini dia beli nih, pakai misalnya pakai BCA, pakai RHB gitu. Jadi gua itu bisa di-tracking sama bandar, tapi kita gak bisa ngelihat dia balik gitu. Jadi itu menurut gua permainannya gak adil karena kita lihat saham itu sebenarnya adalah zero-sum game.

Banyak yang bilang, misalnya contohnya saham tuh sebenarnya kebutuhan kolektif, tapi di sini gua bisa bilang secara jujur, ini gua enggak akan kira gua akan pernah ngomongin di publik, tapi saham itu adalah zero-sum game, di mana kalau misalnya kalian untung, di satu sisi ada yang rugi. Ya kayak tadi main pingpong, kalau ada yang menang ada yang kalah. Jadi kalau di saham itu kan perangnya sama kan, kalian lihat order book-nya tuh. Setiap kalian mengambil keuntungan sahamnya naik 20%, pasti ada yang beli di harga yang kalian beli dan nanti pas sahamnya turun dia rugi. Jadi it's always a zero-sum game, entah kita ngambil uangnya dari orang lain. Nah ini banyak banget nih yang menciptakan ilmu-ilmu yang menurut gua unik gitu, contohnya ada yang pakai ilmu bandarmologi, ya kan, ada yang coba untuk men-tracking misalnya ini bandarnya siapa, dengan melihat misalnya, oh ini Credit Suisse, foreign nih, bandar nih asing nih gitu kan. Terus ada yang bilang misalnya, oh kalau misalnya P.D, ya kan, Indo Premier itu adalah retail, ya. Di sini gua bisa kasih tahu itu adalah cara yang sangat konyol. Kenapa? Karena bandar itu, kalau kalian pernah tahu cara kerjanya, kalian enggak akan tahu cara tracking dia gimana. Kenapa? Karena sekuritasnya enggak satu. Jadi dia kalau akumulasi barang, contohnya, jadi bandar itu suka akumulasi di saat barang itu masih illiquid, ya. Jadi misalnya barang-barang bagus, harga Rp2.000, Rp3.000, bandar tuh akumulasi. Nah, akumulasi gimana caranya? Dia enggak bisa langsung beli Rp100K kita, kenapa? Karena size-nya gede, ratusan sampai triliunan, dia harus masuknya kecil-kecil ya. Ini masuknya bisa prosesnya mingguan nih, ngumpulin ngumpulin barangnya ini. Jadi itu bisa masuk pakai broker lain, ya, di crossing ke sini, masuk lagi pakai broker. Enggak mungkin kalian bisa tracking. Jadi enggak ada fungsinya sebenarnya kalian coba cari-cari bandar dengan cara kayak gitu, karena ilmunya mereka tuh jauh gitu. Jadi kalian enggak akan bisa lah intinya tracking dengan cara begitu, tapi bukan berarti itu ilmunya salah, ya. Kalian, kita bisa pakai untuk ngelihat money flow-nya ke mana, karena money flow itu enggak akan bohong, net buy dan net sell tuh enggak akan bohong.

Pertanyaan paling besar, ya, bandar itu sebenarnya siapa? Gua mungkin enggak bisa jawab di sini ya, siapa bandar itu, tapi gua akan kasih hint-nya. Bandar itu, bandar terbesar dari suatu saham ini, kalau di Indonesia ya, adalah owner-nya itu sendiri. Bingung enggak kalian? Bandar terbesar dari suatu saham itu justru owner emiten itu sendiri. Kenapa? Ini gua kasih contoh ya, misalnya gua punya uang Rp20M nih ya, gua punya uang Rp20M, gua beli saham yang lagi tidur nih, saham yang kayak market cap-nya 400-500M, gua beli nih. Menurut kalian apa yang akan terjadi? Misalnya gua enggak izin sama owner-nya, gua bakal diguyur habis, Bos. Jadi gua beli nih Rp20M nih, naikin harganya, itu gua pasti diguyur sama nih yang duit gratis buat dia, saham gua tidur dikasih Rp20M sama orang ya gua sikat lah barangnya. Itu tuh hal-hal yang terjadi. Jadi kalian tuh enggak bisa kalau bilang value investing, ya, cari barang-barang kecil, kalian harus izin sama emitennya sebenarnya. Nah, sebenarnya banyak contoh-contoh kayak itu yang masih wah beredar di Bursa ya, mungkin gua enggak bisa sebut, tapi gua akan coba pakai contoh yang sudah hang aja. Contohnya kayak misalnya Hanson International, MYX, ya kan, saham-sahamnya Benny Cho, itu bandarnya siapa ya? Owner-nya sendiri gitu. Bandar saham itu lah ya, owner-nya sendiri, karena dia yang bisa te-talk paling enak. Tapi kenapa pertanyaannya owner bisa main sahamnya sendiri? Kan itu insider trading? Ini Indonesia, balik lagi ya, kan bisa pakai KTP orang, beli KTP orang Rp300.000 dapat gitu kan, kalian mau bayar nominee setahun paling Rp1 juta gitu, udah bisa dapat banyak kan, akun-akun buka sekuritas A, B, C, sampai K, RF, buka kan YP, semua bisa buka semua. Jadi hal kayak itu tuh gampang di Indonesia.

Gimana caranya sistem kerja bandar? Jadi sistem kerja bandar itu gua akan bagi menjadi dua yang paling gampang adalah: satu, bandar yang ngampok, sama bandar yang pintar untuk maintain harga. Nah, bandar yang ngampok ini gimana ciri-cirinya? Sahamnya naikin tinggi, udah sekali, D beres, ya, itu itu gampang, itu gak usah penjelasan. Yang kedua adalah gini, gua kasih contoh misalnya sahamnya dia beli di harga 700, saham itu naik sampai 2600, itu dia dapat spread margin kan di situ, pas harga 2600 dia jualin tuh barangnya, itu dapat margin, sahamnya turun lagi misalnya ke 1000, let ke 1000 lah, sahamnya turun ke 1000. Biasanya kalau bandar yang pamandang udah dia selesai, gu gua udah an gede. Nah, tapi bandar yang pintar yang maintain harganya, dia akan masuk di harga 1000 pakai spread harga yang tadi. Jadi udah con ni, con-nya dipakai untuk masukin ke sahamnya lagi. Nah, tapi untuk naikin misalnya dari 1000 ke 3000, apakah dia butuh semua uangnya yang tadi dari 700 sampai 2600? Jawabannya: enggak, dia cukup beli sedikit-sedikit. Jadi 1000 sampai 1100, retail bakal ngikut ke 1300, 1300 dia masuk lagi, 1400 retail bakal ngikut lagi, ya. Jadi cuma perlu pupuk kecil-kecil aja begitu. Dia turun kan, dia punya cuan gede, dia tinggal pupuknya kecil-kecil, ya. Jadi cara mainnya kayak gitu. Nah, itu bisa bikin harga sahamnya rata gitu dan ngikutin fundamentalnya karena begitu dia overprice, bandar jualan, ya kan, pas dia di bawah dia akumulasi. Jadi dia ranging belinya tuh jauh, ranging belinya antara dia distribusi sama akumulasi itu jauh, distribusi, akumulasi, distribusi, akumulasi. Nah, ini yang kalian harus ngerti dalam money flow di saham, fungsi kita tahu ini adalah apa, untuk kita mengetahui kepentingan owner dari emitennya, ya, biasa. Karena kalau kita mau cari saham yang cuan, harus cari emiten ini kepentingannya apa. Nah, kita kan tahu beberapa saham, ya, kayak misalnya BCA, BRI, BNI gitu, kita bisa invest untuk jangka panjang. Tapi untuk sebagian besar, ya, mungkin 95% saham di Indonesia itu kalian harus tahu money flow-nya seperti apa, kepentingannya apa. Jangan coba-coba main sama small cap yang kalian enggak ngerti. Paling simpel kita ngelihat misalnya, kalau misalnya contoh, ya, maksudnya money flow atau apa, kalau misalnya kita lihat saham ini masuk ke MSCI malah biasanya turun. Kalau Indonesia unik kan, MSCI adalah indeks dunia di mana kalau misalnya orang secara pasif investing, misalnya beli di Blackrock, beli ETF kayak iShares gitu kan, itu dia beli MSCI gitu. Jadi beli basket of index-nya Indonesia, tapi uniknya saham Indo begitu masuk ke MSCI, biasa ada yang buang barang, yaitu bandar lokal. Jadi kalian cari misalnya kayak ARTO gitu kan, ARTO sampai masuk MSCI baru buang, ya kan, misalnya ADMR nih, nanti misalnya masuk MSCI baru buang. Jadi caranya itu adalah kalian ngelihat ya, justru bandarnya ini jualannya di mana, karena dia kalau misalnya dia pegang gede dia enggak bisa jualan kayak gua bilang tadi, pom-pom tuh butuh orang yang beli kan, kalau ah dapat ke MSCI udah diambil sama asing itu enak buangnya. Nah, jadi sebenarnya pertanyaannya di Indonesia tuh, kalian indeks apakah sesusah itu? Ya enggak, kalau kalian punya yang namanya black edge-nya, ya. Jadi kalian punya informasi yang orang lain enggak punya. Tapi sebenarnya layaknya semua negara berkembang, ini adalah hal yang justru sebenarnya biasa aja dan lumrah. Walaupun sebenarnya kita main pingpong sama kaca, kita enggak tahu belakangnya siapa, tapi sebenarnya tergantung kan kita sendiri main pingpongnya sejago apa. Apa? Jadi saudara bisa menang, mau kalian lawan bandar, kalian lawan retail kayak kalian, tergantung seberapa jago kita main pingpongnya dan ilmu kita sejauh apa.