📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Konsultasi Syariah Akidah Ust Dr Maulana

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah1:01:48

Transcription

Ustaz Rofdi, ya, yang ee membersamai saya pada kesempatan kali ini, ya. Walaupun tadi dalam ruangan yang sama, sekarang sudah berada dalam ruangan yang berbeda, ya. Barakallahu fik, Ustaz Rafdi. Jadi, Ustaz Rafdi ini, para pemirsa sekalian, adalah teman satu kantor, ya, di Setiba Makassar. Barakallahu fikum. Para ustaz, ustazah, ikhwah, dan akhwat sekalian yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala.

Tema kita pada kesempatan kali ini adalah terkait nama Allah Subhanahu wa taala, Al-Ghani. Ya, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Maha Kaya. Sekali lagi, pada kesempatan ini saya menegaskan bahwa mengenal Allah Subhanahu wa taala lewat nama dan sifat-Nya adalah tuntutan yang paling wajib. Mengenal Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah tuntutan yang paling wajib bagi seorang muslim. Bahkan dalam Al-Qur'an, ayat-ayat yang paling untuk kita pelajari adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa taala. Ya, ayat-ayat Al-Qur'an yang paling utama adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan pengenalan kepada Allah Subhanahu wa taala.

Oleh sebab itu, ayat yang paling utama adalah Ayat Kursi. Kenapa Ayat Kursi? Karena Ayat Kursi memuat hal-hal yang berkaitan dengan mengenal Allah Subhanahu wa taala. "Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum" sampai "wa huwal aliyul adim." Itu semuanya berkaitan bagaimana kita mengenal Allah Subhanahu wa taala lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Belum lagi kita berbicara tentang surah Al-Fatihah. Kenapa surah Al-Fatihah merupakan ayat yang paling utama? Apa surah yang paling utama? Karena dalam surah Al-Fatihah kita bisa mengenal Allah Subhanahu wa taala lewat nama dan sifat-sifat-Nya. Kenapa surah Qul Huwallahu Ahad dianggap sebagai sepertiga Al-Qur'an? Karena Qul Huwallahu Ahad itu semuanya berkaitan dengan bagaimana kita mengenal Allah Subhanahu wa taala.

Jadi, mengenal Allah Subhanahu wa taala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah amalan yang paling utama dibandingkan dengan amalan-amalan yang lain. Dan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengenalkan Allah kepada kita itu adalah ayat-ayat yang paling utama. Dia lebih utama daripada penjelasan tentang hukum, ee, hukum mencuri, penjelasan tentang hukum-hukum salat, penjelasan tentang hukum-hukum zakat. Ini semua penting, tapi yang lebih penting dari itu semua adalah pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa taala.

Oleh sebab itu, para ulama mengatakan ayat-ayat yang paling utama adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan pengenalan terhadap Allah lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Makanya ayat yang paling utama adalah Ayat Kursi. Karena ia, ya, mengenalkan kita tentang Allah. Dalam Ayat Kursi tidak ada hukum salat, tidak ada hukum zakat, tidak ada hukum-hukum yang lain. Ya, walaupun tentunya hukum salat, zakat ini merupakan kewajiban yang harus dipelajari, tetapi mengenal Allah itu merupakan amalan yang paling utama dan paling pertama bagi seorang. Ya, termasuk mengenal Allah lewat nama dan sifat-Nya, Al-Ghani, yang Maha Kaya.

Inilah yang mendasari Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam sampai mengatakan dalam hadisnya, "Innallaha tis'atun wa tis'una isman." Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, 100 kurang satu. Siapa yang menghafal nama ini? Ya, siapa yang menghafal dan memahami nama-nama yang sejumlah 99 ini, maka ia dijamin masuk surga. Subhanallah. Ya, makanya sangat penting bagi kita semua, para, ee, ikhwah, akhwat sekalian, untuk menghafal nama-nama Allah ini yang 99, termasuk menghafalkan kepada putra-putri kita, ya, tentang urgensi daripada 99 nama. Tapi, ya, ingat, jangan hanya menghafalkan mereka 99 namanya, tapi juga harus memahamkan mereka terkait maknanya. Iya.

Dan di antara 99 nama yang disebutkan, di antaranya adalah Al-Ghani. Al-Ghani terjemahannya adalah Maha Kaya. Para ulama mengatakan bahwa Al-Ghani, nama Allah Al-Ghani, disebutkan oleh Allah pada 18 ayat dalam Al-Qur'an. Disebutkan oleh Allah pada 18 ayat dalam Al-Qur'an. Ya. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa taala dalam surah Yunus, "Subhanahu wal ghaniyu." Kaum musyrikin mengatakan atau kaum Nasrani mengatakan Allah memiliki anak, Maha Suci. Dia, dia Maha Kaya, ya. Dia Maha Kaya.

Juga dalam surah Ibrahim, "In takfuru antum wa ard jamian fainnallaha laghaniyun hamid." Kalau kalian kafir, kalau kalian kafir serta seluruh yang ada di bumi kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.

Juga dalam surah Fatir, "Ya ayyuhan nasu antumul fuqarau ilallah wallahu huwal ghaniyul hamid." Wahai sekalian manusia, kalian itu fakir kepada Allah. Kalian itu semuanya membutuhkan Allah. Sedangkan Allah, Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Apa makna Al-Ghani? Iya, kita sebutkan tadi Maha Kaya. Tapi apa itu Maha Kaya? Maha Kaya artinya, ya, Maha Kaya di sini memiliki beberapa, ee, makna. Makna yang paling pertama adalah Maha Kaya. Di sini adalah bahwa Dia Maha Memiliki segala sesuatu. Sebagaimana tadi dalam surah Yunus ayat 68, "Huwal ghaniyu lahu ma fis samawati wa ma fil ard." Dia Maha Kaya, miliknya segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Jadi, Maha Kaya di sini adalah memiliki seluruh apa yang ada. Ya, Dia memiliki seluruh apa yang ada. Itu namanya Maha Kaya. Itu makna yang pertama.

Makna yang kedua. Iya. Makna yang kedua, ya, diisyaratkan, ya, dalam, ee, surah Fatir ayat 15, "Ya ayyuhan nasu antumul fuqarau ilallah wallahu huwal ghaniyyul hamid." Ya. Wahai sekalian manusia, kalian fakir dan membutuhkan Allah. Sedangkan Allah adalah Maha Kaya yang tidak membutuhkan siapapun. Jadi, yang makna yang makna yang kedua adalah Allah tidak membutuhkan bantuan siapapun. Iya. Allah tidak membutuhkan bantuan siapapun. Itu makna kedua dari Al-Ghani.

Sedangkan makna yang ketiga, diisyaratkan juga dalam firman Allah dalam surah Ibrahim, "In takfuru antum wa ard jamian fainnallaha laghaniyun hamid." Kalau kalian kafir serta seluruh yang ada di bumi kafir, maka Allah Maha Kaya. Artinya di sini Allah tidak mendapatkan bahaya, tidak mendapatkan mudarat, dari atau tidak mendapatkan bahaya dan mudarat akibat pembangkangan dan kedurhakaan para hamba-Nya. Ya.

Jadi, makna yang pertama, ya, saya ulangi, makna yang pertama dari Al-Ghani adalah Dia memiliki segala sesuatu. "Lahu ma fis samawati wa ma fil ard." Ya, kepunyaan-Nya adalah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Makna kedua, Dia tidak membutuhkan siapapun. Makna yang ketiga, seluruh hamba-Nya, kalau seandainya mereka kafir, maka mereka tidak akan pernah memberikan mudarat kepada diri-Nya, kepada diri atau kepada zat. Ya, ini tiga makna. Al-Ghani, tentunya di sana ada makna-makna yang lain, tapi tiga makna ini adalah makna utama dari dari Al-Ghani.

Tentunya kepemilikan Allah atau yang kita yang kita bisa katakan sebagai kekayaan itu merupakan kekayaan yang sempurna. Ya, kekayaan yang sempurna dari semua sisi. Dari semua sisi, ya. Tidak sama dengan kekayaan makhluk. Kalau para makhluk kaya itu biasanya kayanya cuma harta. Tapi dari segi kesehatan kadang kala dia tidak bisa kaya dari segi kesehatan. Iya. Dari segi hal-hal yang lain, ya. Jadi makhluk itu kekayaannya hanya bisa dilihat dari satu sisi tertentu. Tapi Allah Subhanahu wa taala lebih sempurna. Ya, memiliki kekayaan yang mutlak dan sempurna.

Kita sebutkan tadi bahwa di antara makna Al-Ghani adalah Dia tidak akan diberikan mudarat oleh siapapun. Ya, Dia tidak akan diberikan mudarat oleh siapapun. Ya, ini seringkali disebutkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam beberapa hadisnya. Di antaranya adalah firman, ya, firman Allah dalam hadis qudsi, "Ya ibadi innakum lan tablughu durri fatadurruni, walan tablughu naf'i fanf'uni." Wahai para hamba-Ku, kalian tidak akan mungkin memberikan mudarat kepada-Ku. Dan kalian tidak akan mungkin memberikan manfaat kepada-Ku. Subhanallah. Iya.

Jadi, semua ibadah kita, semua ketaatan kita itu tidak memberikan manfaat apa-apa kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena Allah Maha Kaya, tidak butuh dengan ibadah kita, ya. Tidak butuh dengan ibadah kita, ya. Lalu ibadah kita ini apa manfaatnya? Ibadah kita ini manfaatnya adalah kembali kepada diri kita sendiri. "Lain syakartum lazidanakum." Kata Allah, "Kalau kalian bersyukur, maka Aku akan menambahkan nikmat kepada kalian." Tapi kalau kita kufur, "Fa inna adabi lasyadid." Kata Allah, "Maka azab-Ku sangatlah berat." Jadi, semua ketaatan kita, kesyukuran kita kepada Allah itu tidak memberikan manfaat apa-apa kepada Allah. Bahkan manfaatnya hanya kembali kepada diri kita sendiri.

Ya, Allah mengatakan, kata Allah, kalau seandainya orang-orang manusia pertama dari zaman dahulu sampai pada hari kiamat, dari kalangan manusia dan jin, semuanya berkumpul dan semuanya bertakwa kepada Allah, maka tidak akan memberikan manfaat apapun walau sedikitpun, walaupun sedikit, mustahil. Kenapa? Karena Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan siapa. Jadi, semua ibadah kita itu manfaatnya hanya kembali kepada diri kita sendiri dan tidak kembali kepada Allah. Ya. Dan tidak kembali kepada Allah, ya. Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Allah tidak membutuhkan ibadah kita.

Sebaliknya, para ikhwah dan akhwat serta saudara-saudara sekalian, kitalah yang membutuhkan Allah Subhanahu wa taala. "Ya ayyuhan nasu antumul fuqarau ilallah wallahu ghaniyyul hamid." Wahai sekalian manusia, kalian itu fakir, membutuhkan Allah Subhanahu wa taala. Sedangkan Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan siapapun lagi Maha Terpuji.

Jadi, walika alallahi biiz. Kalau kalian merasa diri tidak membutuhkan Allah, maka Allah sanggup untuk me, ya, mewafatkan kalian dan memunculkan kaum yang lain yang bersyukur kepada Allah, yang merasa fakir kepada Allah, dan hal itu tidak sulit bagi Allah Subhanahu wa taala. Jadi, yang dibutuhkan oleh Allah, yang kita butuhkan dalam kehidupan kita adalah kita harus merasa bahwa diri kita ini butuh kepada Allah Subhanahu wa taala. Kalau ada orang menganggap dirinya tidak butuh Allah, maka orang tersebut telah kufur, ya, telah kufur, ya, kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena seluruh hamba pasti membutuhkan Allah Subhanahu wa taala. Ya, seluruh hamba pasti membutuhkan Allah Subhanahu wa taala.

Ya, dari sinilah konsekuensi dari makna Al-Ghani ini, para, ya, asatidah, para ustaz, para ikhwan dan akhwat. Konsekuensi makna, ya, nama Allah Al-Ghani ini adalah bahwa kita hendaknya selalu merasakan bahwa kita ini butuh kepada Allah. Kalau kalau kita selalu merasa butuh kepada Allah yang Maha Kaya, maka pertama, kita banyak berdoa kepada Allah. Kita banyak berdoa kepada Allah untuk membantu, menolong, ya, dan memberikan inayah-Nya kepada kita semua. Kedua, kita selalu merasakan bahwa kita ini adalah hamba yang hina, rendah, ya. Hamba yang hina yang rendah, ya, yang tidak berdaya, ya. Yang ketiga, karena kita fakir dan membutuhkan Allah, maka kita tidak boleh menyombongkan diri kepada siapapun. Tidak boleh menyombongkan diri kepada siapapun. Tidak boleh berbesar kepala, tidak boleh berbangga. Ya, kenapa? Karena, ya, apa yang menjadi milik kita itu sebenarnya hanyalah dari Allah Subhanahu wa taala dan bersumber dari Allah Subhanahu wa taala. Bahkan walaupun kita memiliki kekayaan yang sangat banyak, kita, ya, mesti yakin bahwa kita masih terus membutuhkan Allah Subhanahu wa taala untuk menjaga harta kita, untuk, ee, memberikan keberkahan kepada kita, dan agar, ya, ee, Allah memberikan taufik kepada kita dalam rangka menggunakan kekayaan tersebut kepada pos-pos kebaikan dan bukan pada pos-pos keburukan.

Jadi, ya, seorang hamba mesti merasakan bahwa dia sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, tidak boleh merasa sombong, tidak boleh merasa berbangga diri, ya. Karena semua yang ada padanya adalah kekayaan dari Allah Subhanahu wa taala. Ya.

Kemudian di antara konsekuensi dalam konsekuensi dalam bentuk amalan kita terhadap keyakinan bahwa Allah Al-Ghani adalah kita hendaknya zuhud dalam arti artian zuhud dan tidak mengharapkan harta orang lain. Ya. Ya. Zuhud dan tidak mengharapkan harta orang lain. Tidak perlu meminta kepada orang lain kecuali pada hal-hal yang mendesak. Tidak boleh, tidak perlu mengemis kepada orang lain. Tidak perlu meminta kepada Allah kecuali pada hal-hal yang dibutuhkan. Ya. Di kenapa? Karena Allah Maha Kaya. Tidak membutuhkan siapapun, ya, tidak membutuhkan siapapun. Oleh sebab itu, kita juga berusaha untuk tidak membutuhkan siapapun kecuali Allah Subhanahu wa taala. Ya. Dan Allah mengatakan, "Was'alullaha min fadlih." Iya. "Was'alullah min fadlih." Mintalah kepada Allah dari karunia-Nya. Mintalah kepada Allah dari karunia-Nya. Ya. Apa maknanya? Artinya tidak perlu kemudian banyak meminta kepada makhluk kecuali kalau memang sangat butuh, dan hendaknya meminta kepada Allah saja.

Ya. Di antara konsekuensi makna, ee, Al-Ghani di sini adalah bahwa seorang hamba hendaknya mencukupkan diri dengan harta-harta yang halal dan menjauhkan diri dari harta-harta yang maksiat. Iya. Harta-harta yang bersumber dari kemaksiatan, ya. Ini juga merupakan konsekuensi keimanan kita kepada Al-Ghani. Bahwa kita tidak membutuhkan harta-harta yang bersumber dari kemaksiatan. Dan inilah yang merupakan salah satu doa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, sebagaimana dalam riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berdoa, "Allahumma inni as'alukal huda wat tuqa wal 'afafa wal ghina." Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan harta yang halal dan jauhkan dari harta yang haram, dan cukupkanlah diriku dengan karunia, dan jangan, ee, jadikan saya sebagai orang yang butuh kepada orang lain. Jangan. Saya hanya butuh kepada-Mu, wahai Allah. Dan ini juga merupakan doa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, ya, agar diberikan rasa cukup, ya. Jadi, Al-Ghani, Al-Ghani, Al-Ghani juga bermakna, ya, cukup, ya, tidak membutuhkan siapapun kecuali kalau dalam konteks makhluk, maka Al-Ghani di sini adalah tidak membutuhkan siapapun kecuali kecuali Allah Subhanahu wa taala. "Allahumma inni as'alukal huda wat tuqa wal 'afafa wal ghina." Ya Allah, saya mohon kepadamu petunjuk, ketakwaan, dan kecukupan. Dan kecukupan, Al-Ghina, kecukupan di sini adalah tidak mengharapkan kecuali Allah Subhanahu wa taala.

Ya, dalam banyak ayat Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa taala selalu menyandingkan makna, ya, selalu menyandingkan nama Al-Ghani ini dengan Al-Hamid. Tadi kita sudah baca, "Wallahu huwal ghaniyyul hamid," ya. "Wallahu huwal ghaniyyul hamid." Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Ya, juga, "Wa innallaha lahual ghaniyyul hamid," ya. Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Ya. Dan jadi dalam beberapa ayat, Allah selalu menyandingkan Al-Ghani ini dengan Al-Hamid. "Fainnallaha laghaniyyul hamid." Ya.

Kenapa? Kenapa Allah selalu menyandingkan, ee, nama Al-Ghaniyu dengan Al-Hamid, menyandingkan Maha Kaya dengan Maha Terpuji? Karena kemahakayaan, para saudara-saudara sekalian, kemahakayaan ini tidak bermanfaat kecuali memberikan manfaat kepada orang lain. Kekayaan tidak akan bermanfaat kecuali memberikan manfaat bagi orang lain. Ya. Jadi, kekayaan itu tidak bermanfaat sama sekali kecuali kalau kekayaan itu memberikan manfaat. Dan inilah sifat mutlak kemahaan Allah Subhanahu wa taala, bahwa Allah, bahwa kemahakayaan Allah tidak begitu saja, tapi kemahakayaan Allah memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, kepada seluruh makhluk-Nya, sehingga Ia berhak untuk, ya, berhak untuk dipuji. Makanya Al-Ghani ini dalam Al-Qur'an kebanyakan atau banyak disandingkan dengan nama Allah Al-Hamid atau yang Maha Terpuji. Karena banyak, ya, orang yang memiliki kekayaan tapi tidak terpuji. Dan kebanyakan orang kaya, kebanyakan orang kaya itu tidak terpuji sama sekali, ya. Kebanyakan orang kaya itu tidak terpuji. Kita bisa saksikan makhluk yang memiliki kekayaan, kita banyak kita bisa saksikan bahwa rata-rata orang yang paling banyak bermaksiat adalah orang-orang kaya, bukan orang-orang miskin. Ya. Ya. Orang miskin kadang tidak punya waktu untuk bermaksiat karena sibuk dengan pekerjaan, mencari nafkah, ya, ee, banyak bersabar. Berbeda dengan orang kaya. Subhanallah, yang membuang-buang hartanya untuk konser musik, ya. Yang membuang-buang hartanya untuk narkoba, narkotik. Yang membuang hartanya untuk miras, ya, mau membuang-buang hartanya untuk begadang di bar, misalnya. Iya. Yang membuang-buang hartanya untuk perjudian, ya, judi bola, judi online, judi lain-lain. Kebanyakanlah orang-orang kaya, ya. Subhanallah.

Jadi, kebanyakan orang kaya adalah orang-orang yang tidak terpuji. Dan ini juga sudah disebutkan dalam Al-Qur'an, "Kalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-Nya di bumi, maka mereka akan membangkang." Jadi, semakin Allah melapangkan rezeki kepada seorang hamba, maka dia akan semakin membangkang. Ini terbukti, ya, kecuali sedikit tentunya, kecuali sedikit di antara mereka yang bersyukur. Dan ini terbukti, orang kaya di Indonesia sangatlah banyak. Orang kaya di Indonesia sangatlah banyak. Tapi berapa jumlah mereka yang membayar zakatnya? Sedikit. Iya. Kalau seandainya orang kaya di Indonesia yang membayar zakat, subhanallah, ya. Ya. Tapi sangat sedikit di antara mereka yang bisa membayar zakat harta. Ya. Ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang-orang kaya hanyalah, ya. Ya. Kebanyakan orang-orang kaya tidak memberi, tidak terpuji, dan tidak memberikan manfaat apapun kepada umat, bahkan kepada orang-orang di sekitar. Ya, bahkan kebanyakan orang kaya, subhanallah, waliyadubillah, terjatuh ke dalam banyak kemaksiatan. Iya.

Dan Allah Subhanahu wa taala memiliki kemahakayaan yang sempurna sekaligus pujian yang sempurna. I memiliki kemahakayaan yang sempurna sekaligus, ya, pujian yang sempurna. Titik. Dalam surah Al-Baqarah, Allah juga mengatakan, "Wa allaha ghaniyyun hamid." Subhanallah. Ketahuilah bahwa Allah itu Maha Kaya dan Maha Terpuji. Jadi, subhanallah, Ghaniyyun Hamid ini selalu bergandengan. Attabari, Ibnu Jarir At-Tabari rahimahullah mengatakan, "Wa'lamu ayuhan nasu annallaha ghaniyyun." Ketahuilah bahwa wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Ghaniyyun. Allah itu tidak butuh sedekah kalian. Ya, karena Allah memerintahkan kita untuk bersedekah, tapi Dia tidak butuh sedekah kita. Allah memerintahkan kita untuk berkurban, tapi itu tidak bermanfaat kepada Allah. Ya, itu hanya manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri. Bahkan Allah mewajibkan zakat, mensyariatkan sedekah, mensyariatkan kurban itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita semua, sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita semua agar kita menunjukkan ketakwaan, agar kita menunjukkan, ee, rasa harap, ya, mengharapkan pahala hanya kepadanya. Jadi, manfaatnya adalah kembali kepada para hamba.

Dalam surah Muhammad, Allah juga berfirman, "Wallahu ghaniyyun wa antumul fuqarau." Subhanallah. Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan apa-apa. Sedangkan kalian itu adalah orang-orang yang fakir. Ya, kalian adalah orang-orang yang fakir. Ini menunjukkan, subhanallah, kita ini adalah orang-orang yang, yang fakir. Dalam, bahkan dalam surah Al-An'am, Allah berfirman, "Wa rabbukal ghaniyyur rahmah." Subhanallah. Ya. "Dan Tuhanmu Maha Kaya, pemilik segala rahmat." Pemilik segala segala rahmat.

Oleh sebab itu, ya, marilah kita semua, ya, selalu menghadapkan diri kepada Allah dan selalu merasa bahwa kita ini adalah fakir, ya, sangat membutuhkan Allah Subhanahu wa taala, dan menghayati, ya, bahwa Allah sama sekali tidak membutuhkan ibadah kita. Allah sama sekali tidak membutuhkan ketaatan kita, ya. Tetapi kita sendirilah yang butuh pada ibadah dan ketaatan itu. Barakallahu fikum wa jazakumullahu khairan. Kalau ada pertanyaan-pertanyaan, ya, silakan dipersilakan, ya. Baik yang berkaitan dengan tema kita pada kesempatan ini ataupun tema kita atau tema-tema yang lain, ya. Ee, ya, tidak ada problem, insyaallahu taala. Barakallahu fikum. Jazakumullahu khairan.

Sekali lagi, bahwa mengenal Allah lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya ini lebih utama, merupakan kewajiban yang paling pertama dan paling utama, ya. Karena kita semua tidak bisa mengenal Allah kecuali lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Ya, tentunya kita juga bisa mengenal Allah lewat hamba-hamba-Nya, lewat makhluk-Nya. Tapi mengenal Allah lewat makhluk-Nya itu terbatas, ya. Kita hanya sekedar mengenal makhluk bahwa kalau ada makhluk, maka ada pencipta. Tapi bagaimana caranya mengenal pencipta? Ya, dengan lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Bagaimana cara mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya? Caranya adalah, ya, mempelajari asma-asma al-husna. Mempelajari al-asma al-husna. Makanya tadi kita, ya, ee, awali, ya, bagi yang terlambat datang, bahwa ayat-ayat yang paling utama adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan nama-nama Allah. Dia lebih utama daripada ayat-ayat yang berkaitan dengan zakat, dengan puasa, dengan, ee, dengan, ee, haji, ya, dengan hal-hal yang lain. Makanya ayat yang paling utama adalah Ayat Kursi, karena ia merupakan, ia penuh dengan pengenalan terhadap Allah lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Surah yang paling utama adalah surah Al-Fatihah, karena ia penuh dengan pengenalan terhadap Allah lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Di antara yang surah yang paling utama adalah surah Al-Ikhlas, "Qul huwallahu ahad," karena ia penuh syarat dengan, ee, pengenalan terhadap Allah lewat nama-nama dan sifat-sifat. Jadi, ayat-ayat yang berkaitan dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya itu lebih utama dibandingkan daripada ayat-ayat yang lain, ya, dan lebih wajib untuk dipelajari daripada ayat-ayat yang lain. Barakallahu fikum wa jazakumullahu khairan. Ya, saya kira demikian, Ustaz Rafdi. Kalau ada pertanyaan, dipersilakan.

Masyaallah. Baik, Ustaz. Alhamdulillah, itulah tadi materi pengantar yang telah disampaikan oleh narasumber kita. Selanjutnya, seperti biasa, kita beralih ke agenda utama, yaitu sesi konsultasi. Jadi, kami membuka sesi konsultasi bagi para peserta yang ingin bertanya. Bagi para peserta yang ingin bertanya, silakan diketik di room chat Zoom, di kolom chat di Zoom, atau bagi yang ingin berkonsultasi langsung dengan Ustaz, bisa raise hand, kemudian kami persilakan. Atau jika ingin via WA, bisa menghubungi ke nomor 0813540897. Sekali lagi, bagi yang ingin menghubungi via WhatsApp, bisa ke nomor 08135440897. TIB. Ee, kita ada pertanyaan di Zoom, Ustaz. Pertanyaan dari Ahmad.

"Bismillah. Maaf, Ustaz. Mengapa ada yang harus diuji dengan kemiskinan? Terkadang usahanya untuk merubah nasib menjadi orang yang memiliki uang yang cukup sudah luar biasa yang dikerahkan. Ibadah sudah dimaksimalkan, tapi ekonomi pas-pasan. Mohon nasihatnya, Ustaz. Barakallah fik."

Subhanallah. Iya. Memang hal yang perlu untuk ditanamkan pada diri kita, pada anak-anak kita, pada generasi-generasi muda kita adalah bahwa dunia ini merupakan tempat ujian, bukan tempat untuk mendapatkan balasan. Ya. Jadi, ketika Anda beribadah, jangan sama sekali mengharapkan untuk diberikan balasan di dunia. "Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsan 'amala." Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. Jadi, dunia ini adalah darul amal, tempat untuk kita beramal, dan bukan tempat kita untuk mendapatkan balasan dari Allah. Satu-satunya, ya, tempat untuk kita mendapatkan balasan dari Allah adalah akhirat, karena dia adalah darul jaza, ya, darul jaza.

Jadi, kalau kita beribadah, rajin beribadah, rajin salat, rajin puasa, ya, tetapi kita diuji dengan kemiskinan, maka yakinlah, ya, yakinlah bahwa memang di dunia ini adalah tempat kita, ya, tempat kita untuk mendapatkan ujian dari Allah. Karena memang kita tidak, Allah tidak menjanjikan untuk mendapatkan, untuk memberikan balasan kita di dunia ini. Allah tidak berjanji. Ya, jadi yakinilah, kalau kita banyak beribadah lalu kita miskin terus, yakinilah bahwa pahala yang Allah siapkan untuk kita di hari di akhirat kita itu lebih banyak. Ya, lebih banyak dan lebih besar, ya. Lebih banyak dan lebih besar. Oleh sebab itu, satu-satunya cara adalah bersabar kepada Allah. Bersabar kepada Allah. Ya, walaupun kita sudah cukup luar biasa mengerahkan tenaga, mengerahkan pikiran, mengerahkan biaya, tapi kondisi kita begitu begitu saja. Itu adalah ujian dari Allah.

Bahkan Allah mengatakan, Rasulullah dalam hadisnya mengatakan bersabda, "Innallaha idza ahabba 'abd an ibtalahu." Kalau Allah mencintai seorang hamba, maka Dia mengujinya. Maka Dia mengujinya. Subhanallah. Maka Dia mengujinya. Diuji dengan apa? Dengan segala macam ujian. Jadi, ee, itu yang pertama, ya, itu yang pertama, bahwa, ee, dunia ini tempat kita untuk mendapatkan ujian dari Allah. Yang kedua, bahwa ujian itu merupakan tanda Allah cinta kepada kita. Ya, kalau kita rajin beribadah lalu mendapatkan ujian terus, itu pertanda Allah cinta kepada kita. Tapi kalau kita malas-malas beribadah lalu mendapatkan ujian, itu artinya teguran. Itu artinya teguran. Iya.

Kemudian yang ketiga, ada banyak hikmah di balik ujian. Kenapa ada hikmahnya? Ya, jangan sampai Allah menginginkan kita agar tidak kaya-kaya. Agar Allah menjauhkan kita dari berbagai macam kemaksiatan. Betapa banyak, betapa banyak orang pada awalnya miskin, dekat dengan Allah, tapi ketika kaya dia menjadi orang yang paling bermaksiat kepada Allah. Banyak sekali, ya. Bukan hanya satu dua, ya. Bukan hanya satu dua orang. Bukan hanya satu dua kasus. Banyak sekali. Ketika diuji dengan kemiskinan, dia bersabar. Masyaallah, sangat luar biasa. Tapi ketika kekayaan datang kepada dirinya, maka dia berubah menjadi, dia berubah menjadi orang yang sangat bermaksiat kepada Allah. Contohnya Qarun. Contohnya, contohnya Qarun, ya. Ketika belum kaya, masyaallah, sangat luar biasa ibadahnya. Tapi ketika kaya, lihat, ya, apa yang dia lakukan. Sangat ingkar kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Dan ini banyak contohnya, banyak, ya.

Oleh sebab itu, ya, ee, ini yang pertama tadi kita sebutkan, itu adalah ujian dari Allah Subhanahu wa taala, ya. Dan harus bersabar. Dunia ini adalah tempat kita untuk diuji oleh Allah Subhanahu wa taala, bukan tempat untuk kita diberikan balasan, ya. Yang kedua, ya, ee, apa tadi kita sebutkan, ya, sebagai, ee, bahwa di balik ujian memiliki banyak hikmah, ya. Memiliki, ee, banyak hikmah.

Lalu mungkin akan bertanya, "Kenapa sebagian orang yang rajin beribadah mereka mendapatkan kekayaan, balasan dari Allah Subhanahu wa taala?" Ya, ada beberapa orang kaya beramal dengan amalan tertentu, misalnya, ya, dengan rajin beribadah, rajin bersedekah, akhirnya mendapatkan, ya, mendapatkan balasan dari Allah dilipat gandakan pahalanya. Kita katakan bahwa mungkin saja, ya, mungkin saja Allah memberikan sebagian, ya, Allah memberikan sebagian, ee, balasan amalannya di dunia, ya. Allah memberikan sebagian balasan amalannya di dunia juga untuk hikmah tertentu. Juga untuk hikmah tertentu supaya dia bisa rajin bersedekah, supaya dia rajin, ya, ee, rajin beramal saleh. Atau Allah mengetahui bahwa hati orang ini kalau diberikan kekayaan, maka dia tetap akan bersyukur kepada Allah. Dan hati orang ini berbeda dengan hati kita. Hati kita mungkin kalau Allah berikan kekayaan, mungkin saja kita akan banyak bermaksiat kepada Allah. Jadi, ada hikmah-hikmah tertentu.

Kedua, ya, kedua, mungkin Allah memberikan sebagian balasan kepada orang ini di dunia, ya, dan di hari kiamat kelak, ya, Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan balasan, ya, yang tidak banyak, yang tidak, yang tidak banyak, karena sebagiannya sudah diberikan di dunia. Sedangkan kita yang tidak diberikan balasan apa-apa oleh Allah, maka di hari kiamat kelak Allah akan memberikan kita balasan yang lebih sempurna dibandingkan, dibandingkan dengan orang tersebut. Dan banyak hikmah lainnya. Dan banyak dan banyak hikmah lainnya. Ya, tentunya, ya, ee, apa yang kita sebutkan telah cukup, insyaallahu taala. Barakallahu fikum.

Baik, Ustaz. Ee, syukr atas jawaban yang disampaikan. Semoga dari penanya jelas atas jawaban yang disampaikan oleh narasumber. Kemudian kita beralih ke pertanyaan selanjutnya, Ustaz. Pertanyaan yang diajukan oleh Ilham Idrus Thahir.

"Bismillah. Mau bertanya, Ustaz. Bagaimana definisi sabar ketika mendapatkan ujian? Apakah menceritakan ke orang lain mendapatkan solusi dan bantuan itu masih termasuk sabar atau tidak? Masyaallah."

Masyaallah. Iya. Bersabar, ya, itu adalah, ee, bersabar artinya tetap, ya, tetap artinya tidak kesal dengan ujian yang menimpa kita. Itu namanya kesabaran. Tidak kesal, tidak marah dengan ujian yang menimpa kita. Tetapi sebaliknya, kita tabah. Itu namanya sabar. Kalau kalau ada orang yang ditimpa musibah lalu mencaci maki, maka itu namanya tidak sabar. Itu namanya tidak, tidak sabar. Atau ketika ada orang yang ditimpa musibah lalu mengeluh. Lalu mengeluh. Iya. Mengeluh bukan dalam rangka mencari solusi, tapi mengeluh, ya. Mengeluh saja tanpa, ya, mengeluh saja. Ya, maka itu tanda bahwa dia tersebut, orang tersebut tidak sabar.

Adapun kalau menceritakan kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan solusi dan bantuan, maka itu, maka itu, ya, ee, termasuk dalam kesabaran, termasuk dalam bentuk kesabaran dan tidak keluar dari kesabaran. Jadi, kalau kita menceritakan, ya, kondisi kita demi mendapatkan solusi, maka ini masih dalam lingkup kesabaran. Masih dalam lingkup kesabaran dan tidak masuk ke dalam, ee, apa namanya, keluhan yang menafikan kesabaran atau tidak masuk ke dalam keluhan yang, ee, tercela, ya. Jadi, apa yang antum tanyakan ini, ya, dia masuk dalam kesabaran karena, ya, dalam rangka, dalam rangka mencari solusi. Adapun kalau mengeluh kepada orang lain, mengeluh begitu saja tanpa ingin mencari solusi, ya, maka ini termasuk tanda ketidaksabaran. Termasuk tanda ketidak, ketidaksabaran. Baik.

Barakallahu fik. Tib, Ustaz, eh, syukran atas jawaban yang disampaikan. Selanjutnya kita beralih ke pertanyaan yang disampaikan oleh Iwan. Pertanyaannya, "Afwan, Ustaz, apa maksud hadis Nabi yang mengatakan bahwa ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa taala. Di antaranya fakir yang tidak sombong. Pertanyaan kami, fokus ke maksud dari fakir yang sombong itu detailnya seperti apa, Ustaz?"

Fakir yang sombong. Iya, orang fakir yang sombong. Kenapa orang yang, orang fakir yang sombong itu sangat dimurkai oleh Allah Subhanahu wa taala? Iya. Kenapa orang fakir yang sombong itu sangat dimurkai oleh Allah? Karena, ya, dia mengumpulkan dua sifat tercela. Yang pertama kesombongan. Yang pertama kesombongan. Iya. Kemudian yang kedua adalah kedunguan, kebodohan. Iya. Dia tidak punya apa-apa tapi malah sombong. Ya, tentunya orang yang kaya lalu sombong itu tentunya tercela. Ya, itu tercela. Tapi, ya, dia memiliki, ee, ya, faktor untuk sombong. Dia memiliki hal yang, ya, memiliki hal yang, hal untuk disombongkan itu kekayaan. Tapi fakir yang sombong, ya, itu adalah, ya, dia tidak memiliki suatu hal yang, yang bisa disombongkan tapi malah sombong. Jadi, selain dia sombong, dia juga adalah orang yang, ya, dialah dia, dia juga adalah orang yang dungu. Orang yang, yang dungu, ya. Oleh sebab itu, Allah sangat benci kepadanya. Allah sangat benci kepadanya dan tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa taala. Ya, itu, ya. Jadi, dia mengumpulkan dua keburukan. Baik.

Barakallahu fik. Tib, Ustaz. Syukran atas jawaban yang telah disampaikan. Ee, kita beralih ke pertanyaan yang lain. "Afwan, Ustaz, izin bertanya. Poin kedua dari makna Allah Maha Kaya adalah Allah tidak membutuhkan siapapun. Mohon penjelasannya, sedikit lebih dalam, Ustaz. Karena jika memang Allah tidak membutuhkan siapapun, maka kenapa masih ada malaikat yang membantu untuk mengatur alam semesta ini atau kami salah memahami? Mohon penjelasannya, Ustaz."

Barakallah fik. Iya. Allah tidak membutuhkan siapapun. L kenapa ada malaikat yang, yang menurut, ya, ada malaikat yang diutus oleh Allah ke bumi, ada malaikat yang diutus oleh Allah untuk mencabut nyawa. Ada malaikat yang diutus oleh Allah untuk mencatat amalan yang baik dan amalan yang saleh. Ya, amalan yang saleh dan amalan yang buruk. Pada hakikatnya Allah tidak butuh itu semua. Allah bisa saja mengerjakan semuanya. Ya. Dan memang demikian, ya. Jadi, ya, Allah itu semua di, Allah mengetahuinya. Hanya saja pekerjaan malaikat, pekerjaan malaikat itu, ya, pertama, pekerjaan malaikat itu, beban-beban para malaikat itu, baik ada atau tidak ada, itu sama saja bagi Allah. Jadi, pekerjaan malaikat Jibril yang turun ke dunia untuk memberikan wahyu kepada para nabi, malaikat Mikail untuk menurunkan hujan, malaikat pencabut nyawa, itu ada atau tidak ada, itu sama saja bagi Allah. Ada atau tidak ada, itu sama saja bagi Allah. Itu perlu diketahui. Yang kedua, pekerjaan-pekerjaan tersebut itu dibutuhkan oleh malaikat dan tidak dibutuhkan oleh Allah. Jadi, ketika Jibril menurunkan wahyu ke dunia, yang butuh pekerjaan itu adalah Jibril, bukan Allah. Iya. Ketika Mikail diutus oleh Allah untuk menurunkan hujan, memberikan rezeki ke bumi, yang membutuhkan pekerjaan itu adalah Mikail, bukan Allah. Malaikat pencabut nyawa ketika mencabut manusia, nyawa manusia, yang membutuhkan pekerjaan itu adalah malaikat, bukan Allah. Kenapa, ya? Apa alasannya? Karena pekerjaan-pekerjaan ini adalah ibadahnya para malaikat. Semua pekerjaan ini adalah apa? Ibadahnya para malaikat. Iya. Jadi, ketika Jibril menurunkan wahyu, itulah ibadahnya Jibril. Ketika Mikail, ketika pencabut nyawa datang mencabut nyawa, itulah ibadahnya malaikat. Ketika malaikat Malik menyiksa orang-orang yang masuk neraka, itulah ibadahnya para malaikat. Ya.

Jadi, yang pertama, Allah, ya. Baik ada malaikat atau tidak ada, Allah bagi sama saja bagi Allah. Sama saja bagi Allah. Yang kedua, iya, yang kedua, bahwa, ya, ee, pekerjaan-pekerjaan malaikat itu, ya, pekerjaan-pekerjaan malaikat itu adalah ibadahnya para malaikat sendiri. Ibadahnya para malaikat sendiri. Iya. Yang ketiga, bahwa Allah, ya, Allah, ee, tidak butuh itu semua. Tidak butuh. Ya, itu semua dan bahkan malaikat sendiri. Malaikatlah yang butuh dengan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Malaikatlah yang butuh dengan pekerjaan-pekerjaan tersebut, ya. Jadi, ada atau tidak ada malaikat, ya, itu sama saja bagi Allah. Adapun kata membantu, sebenarnya membantu itu, ya, dalam tanda petik, bukan membantu secara hakiki, bukan. Ya, itu hanya artinya para malaikat beribadah dengan tugas itu. Beribadah dengan tugas itu, ya. Semoga bisa dipahami, ya, agar tidak disalahpahami bahwa Allah membutuhkan ini, membutuhkan ini. Tidak, ya. Allah sama saja baginya ada malaikat Jibril atau tidak ada, sama saja bagi Allah. Hanya saja tugas itulah yang menjadi ibadahnya malaikat Jibril, ya. Karena Jibril membutuhkan, membutuhkan tugas itu. Ya, Jibrillah yang membutuhkan tugas itu. Bukan Allah yang butuhkan, ya. Barakallahu fik, ya. Semoga bisa dipahami, insyaallah.

Ya, salah satu contohnya misalnya, misalnya sebagai salah satu contoh misalnya dalam kehidupan kita, misalnya saya sendiri, misalnya, misalnya saya sendiri, ee, misalnya ada teman-teman, misalnya ada murid-murid saya, saya bisa saja membeli sesuatu di, misalnya di, di, di tempat perbelanjaan, saya bisa pergi sendiri. Saya bisa pergi sendiri tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Tapi ada murid saya, misalnya, ya, yang membantu, yang dalam tanda petik, yang, yang membelikan, yang berbelanja untuk saya, ya, yang berbelanja untuk saya. Bukan berarti saya tidak mampu untuk belanja, tapi dia merasa bahwa itulah tugas dirinya, bahwa itulah tugas tugasnya. Jadi, saya merasa dia ada atau tidak ada, sama saja bagi saya, ya. Hanya saja dia itu merasa bahwa tugas, ya, tugasnya adalah berbelanja. Tugasnya adalah berbelanja untuk, untuk saya. Tapi saya sendiri, dia ada, ada atau tidak ada, sama saja bagi saya. Itu salah satu contoh kecil, ya, ee, dalam kehidupan. Tentunya kalau Allah itu, ya, tidak bisa dibandingkan dengan itu, tidak bisa disamakan dengan contoh kecil itu. Allah lebih besar, lebih sempurna, dan lebih, ya, ee, apa, ee, lebih dahsyat, ya, ee, zat dan sifat-Nya. Barakallahu fikum. Mana Ustaz Rafdi? Ini, Afan Ustaz, ya, keluar tadi beliau. Ee, kayaknya, subhanallah, kayaknya sinyal Setiba ini bermasalah. Barakallahu fik.

Tib, tadi ada sedikit, e, masalah teknis. Kita lanjut ke pertanyaan yang disampaikan oleh AS. "Ustaz, kami ketika melakukan kebaikan dan ketika kami melalui ujian yang Allah berikan, kami bersabar dengan itu sampai-sampai di ujungnya kami telah menerima balasan dari Allah. Mengapa Allah begitu cepat membalasnya di dunia, Ustaz? Kami khawatir, Ustaz. Nanti di akhirat kami dapat apa, Ustaz? Karena kami pikir semua telah kami terima balasannya di dunia."

Ya, masyaallah. Masyaallah. Ya, tidak demikian juga, ya. Tidak demikian. Jadi, selalu berhusnudan kepada Allah Subhanahu wa taala. Kadang kala kita mendapatkan balasan di dunia ini karena Allah menginginkan, ya, hikmah tertentu. Tapi kalau kita tidak mendapatkan balasan, berhusnudan kepada Allah bahwa balasan yang akan kita dapatkan di akhirat adalah lebih besar, lebih banyak. Tapi kalaupun Allah memberikan balasannya di dunia, maka yakinlah bahwa itu adalah balasan yang sedikit. Balasan yang, yang sedikit. "Wallahu huwal ghaniyyul hamid." Artinya Allah itu Maha Kaya. Iya. Maha Kaya. Jadi, balasan yang Allah berikan itu adalah balasan yang sedikit, ya. Dan tentunya, kalau balasan yang Allah berikan kepada Anda, Anda syukuri, ya, Anda syukuri, maka pahalanya akan lebih besar. I, maka pahalanya akan lebih besar. Lebih besar. Oleh sebab itu, jangan terlalu banyak khawatir, ya. Selama harta yang datang itu disyukuri kepada Allah, disyukuri dalam, dalam artian apa? Memuji Allah Subhanahu wa taala dan menggunakannya pada pos-pos kebaikan dan bukan pos kemaksiatan, maka yakinlah bahwa harta tersebut merupakan sarana, sarana untuk Anda masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa taala. Iya. Tapi kalau sebaliknya, harta tersebut digunakan pada pos-pos keburukan, maka yakinlah bahwa, ya, harta tersebut merupakan sarana Anda untuk masuk neraka. Waliyadubillah. Ya, oleh sebab itu, keadaan mukmin yang dimudahkan oleh Allah, yang dimudahkan oleh Allah adalah keadaan yang baik selama dia bersyukur. Makanya dalam sebuah hadis, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam Sahih Muslim, ya, Rasulullah bersabda, "Ajaban li amril mukmin, wa laisa lidzalika illa lil mukmin." I, sangat menakjubkan keadaan seorang mukmin, dan itu hanya bagi seorang mukmin, bukan orang lain. I, "Fa in amratahu sharrat, fa shakkara, fa kana khairan lah." Kalau dia diberikan kemudahan oleh Allah, kelapangan oleh Allah, rezeki yang banyak kepada Allah, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Subhanallah. Jadi, kalau kita mendapatkan balasan dari Allah, lalu kita bersyukur, lalu kita bersyukur, maka itu suatu kebaikan. Yakinlah bahwa itu suatu kebaikan. Ya, yang buruk itu kalau kita tidak bersyukur. Dan syukur itu, kita sudah sebutkan, memuji Allah Subhanahu wa taala dan menggunakan harta tersebut untuk pos-pos kebaikan, dan bukan pos-pos keburukan. Kalau menggunakan harta pada pos-pos keburukan, maka itu merupakan sebuah kekufuran nikmat. Sebuah kekufuran nikmat. Dan, ya, kalau kita mendapatkan harta lalu bersyukur kepada Allah, maka yakinlah bahwa itu merupakan kabar gembira dari Allah agar Allah menambahkan, ya, pahala, ya, untuk diri kita. Dan karunia Allah yang paling besar adalah syukur. Ya, karunia Allah yang paling besar adalah syukur. Jadi, syukur kita itu lebih besar, karunia yang paling besar dibandingkan, ya, harta. Jadi, ketika kita mengucapkan alhamdulillah, itu karunia yang lebih besar daripada harta rezeki yang kita dapatkan. Ya, makanya dalam sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah, ya, Rasulullah wasallam bersabda, "Alhamdulillah," atau sebagaimana hadis Rasulullah wasallam, "Siapa yang diberikan karunia rezeki oleh Allah, lalu dia mengucapkan alhamdulillah, maka kata alhamdulillah itu adalah karunia nikmat yang paling besar dibandingkan daripada rezeki yang dia dapatkan." Kenapa? Karena ucapan alhamdulillah, rasa syukur kepada Allah itu lebih besar, ya, lebih utama karunia yang paling utama dibandingkan daripada harta itu sendiri. Barakallahu fik.

Tib, tib, Ustaz. Syukran atas jawaban yang disampaikan. Ee, mungkin kita, ee, berikan satu pertanyaan lagi, Ustaz. Ini pertanyaan lanjutan dari pembahasan yang tadi tentang fakir yang sombong. Pertanyaan itu, "Contoh fakir yang sombong bagaimana, Ustaz? Apakah ketika diberi santunan lalu ia tolak, termasuk bagian dari fakir yang sombong atau tidak?"

Oh, iya. Fakir yang sombong, ya, banyak terjadi pada zaman sekarang. Subhanallah, ya. Sudah fakir malah menyombongkan diri, ya. Menampakkan diri sebagai orang yang kaya. Subhanallah, ya. Banyak, ya, manipulasi sama, apalagi zaman medsos, ya. Sudah ada orang yang jelek, tapi, apa namanya, menyombongkan diri karena punya aplikasi yang bisa memperindah wajahnya, misalnya, ya, misalnya itu sebagai salah satu contohnya, ya, bukan contoh fakir, ya, salah satu contoh manipulasi sama dengan orang yang, yang fakir, yang miskin. I, dan ini banyak sekarang. Sudah fakir, tapi malah menampakkan diri seakan-akan dia adalah orang yang kaya. Iya. Ya. Banyak kekurangan dia. Banyak kekurangan. Pinjam sana sini, ya. Pinjam sana sini, pinjam mobil, seakan-akan dia adalah orang yang kaya. Padahal pada hakikatnya dia adalah orang miskin. Ya. Pinjam perhiasan dan sebagainya untuk, ya, menyombongkan diri bahwa dia adalah orang kaya. Ternyata dia adalah orang miskin. Ini banyak, ini. Inilah contoh fakir yang sombong. Inilah contoh fakir yang, yang sombong.

Adapun orang fakir yang menolak diberikan santunan, adapun orang fakir yang menolak untuk diberikan santunan, ya, maka tidak bisa dianggap sebagai orang yang sombong. Tergantung pada niatnya. Kalau niatnya dia tidak mau mendapatkan santunan karena ingin makan dari harta jerih payahnya sendiri, maka ini tidak bisa dianggap sebagai kesombongan. Ya, ini bisa dianggap sebagai kehati-hatian, sebagai al-af, ya. Al-falah, iya, ya, apa namanya? Berhati-hati agar, ya, berhati-hati, ya, agar, ee, harta yang masuk pada dirinya, harta yang dia dapatkan itu murni dari diri kepanya sendiri, misal. Iya. Adapun kalau dia menolak santunan orang lain, ya, sambil menyombongkan diri, bahwa dia juga mampu dan sebagainya, maka tentunya ini merupakan sebuah kesombongan. Sebuah kesombongan, ya. Tapi kalau dia tidak mau mendapatkan santunan karena merasa diri bahwa dia masih sanggup, ya, bahwa dia ingin berhati-hati tidak mendapatkan harta dari orang lain, maka ini tentunya bukan merupakan kesombongan.

Tib, tib, Ustaz. Ee, syukran atas jawaban yang disampaikan. Alhamdulillah, sahabat konsultasi syariah, tibalah kita di akhir agenda kita. Ee, kami telah menemani Sahabat Konsultasi Syariah selama 1 jam, mulai dari jam 0.15 sampai sekarang 9.15. Kami ucapkan syukrakumullahu khairan kepada pemateri kita atas materi yang telah disampaikan dan ilmu yang diberikan, dan juga kepada para sahabat, para sahabat konsultasi syariah yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir dan bertanya seputar materi kita tentang akidah. Adapun untuk beberapa pertanyaan yang telah disampaikan oleh sahabat konsultasi syariah yang di luar tema atau tidak berkaitan dengan tema, itu akan kami sampaikan ke, ee, materi yang terkait. Oke, kita tutup materi kita. Kita tutup majelis kita dengan masing-masing membaca doa kafaratul majelis. "Subhanakallahumma wabihamdik, asyhadu alla ilaha illa anta, astagfiruka wa atubu ilaik." Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Aya, barakallah.