Transcription
Yuk, jadi bagian dari dakwah kami. Dukung operasional dakwah dan sosial kami. Raih pahala amal jariyah yang terus mengalir sampai hari kiamat.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah washolatu wassalamu ala rasulillah. Segala puji dan puja kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, juga sholawat dan taslim kepada Baginda Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kita akan masuk ke sub judul baru, dan ini judul yang cukup menarik, yaitu di pasal ke-9 yang saya baca di sini di belakang. Laki-laki sukses ada istri-istri yang sukses. Sebenarnya kesuksesan banyak kalangan ada di tanganmu. Kesuksesan orang tua pada saat engkau menjadi anak, dengan cara engkau berbakti, kau menunjukkan pelayanan yang terbaik, kepatuhan yang sempurna. Maka dengan itu, semangat sang ayah untuk mencari nafkah, membiayai hidupmu selalu saja ada. Itu juga dengan ibu, selalu menjadikan buah bibir dan kebanggaan tentang kebaikan akhlakmu, sikapmu, baktimu.
Di saat engkau menjadi seorang saudari, engkau bisa menyukseskan saudara-saudaramu dengan terus memotivasi mereka, membantu mereka, mendukung mereka, bertukar pikiran dengan mereka, memberikan support atau dukungan. Itu juga pada saat menjadi seorang ibu kepada anaknya. Berapa banyak anak-anak yang sukses dari tangan ibu-ibu yang luar biasa, punya peran yang sangat besar dalam mendukung, menasehati, memberikan masukan atau menasehatinya, dan banyak lagi hal-hal yang lain. Bahkan seringkali seorang ibu hadir bersama anaknya di alam permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga dia bisa memberikan solusi-solusi atau permasalahan dari apa yang sedang dihadapi oleh anaknya. Puji juga pada saat dia menjadi seorang istri, dan ini yang kita fokus sebenarnya dari sekian banyak contoh-contoh tadi. Orang bisa sukses di belakang seorang wanita muslimah. Pada saat dia menjadi seorang istri, maka di saat itu dia bisa panen pahala dari apa saja yang suaminya lakukan, hanya dengan masalah dukungan, hanya dengan memberikan pelayanan terbaik.
Di saat suami pulang rumah dalam kondisi capek, maka dia telah hadir dengan penampilannya yang menarik, badannya wangi, senyumannya yang menawan. Kemudian hidangan makanan yang hangat, semuanya memberikan suasana baru bagi sang suami yang sedang menghadapi banyak permasalahan di luar sana. Selain dari panasnya cuaca atau malah dinginnya cuaca, kalau tergantung musimnya. Kemudian hiruk-pikuk dari kemacetan jalanan, problematika yang dihadapi dari menumpuknya pekerjaan di kantor, misalnya permasalahan dengan teman-teman atau mungkin dia bagian GI di kantor, misalnya itu pengadaan ya barang misalnya, sehingga dia harus sibuk dengan penagihan utang, menyusun nota-nota, atau seorang akunting yang sibuk dengan laporan perusahaan atau apa saja pekerjaan, atau mungkin security yang harus dia menjaga keamanan setiap saat. Sigap ya, misal, atau aparat pemerintah yang terus banyak sekali tugas-tugas yang harus dilakukan demi untuk maslahat banyak, yang masyarakat di negara tersebut. Maka suasana yang berbeda yang dia temukan di rumah, dari kehangatan-kehangatan sambutan yang tidak ada beban, tidak ada tuntutan, semua itu akan sangat membantu sang suami kembali mempreskan lagi, menyegarkan kembali pikirannya, ya, tubuhnya dengan hubungan intim yang ideal. Dengan bercandaan yang itu tidak ditemukan di luar sana, ya.
Sekali lagi saya ingatkan, wahai muslimah, betapa banyak laki-laki yang akhirnya, karena tidak menemukan ini dari istrinya, maka mereka yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ke mana arahnya? Menuju ke tempat perempuan-perempuan, tanda kutip, penghibur. Kenapa dikatakan perempuan penghibur, perempuan malam? Ya, karena memang mereka mengisi kekosongan itu dari para istri mereka. Pada saat menyambut tamunya dengan penampilan yang paling seksi, dengan badan yang paling wangi, dengan senyuman yang paling menawan, dengan manjanya, dengan rayuannya, dengan segala macam yang dari awal bahasan buku ini sudah kami selalu titik beratkan, harusnya ada padamu, wahai para istri. Itu bagaimana kamu bisa meraih itu, kegiatan atau contoh-contoh sikap seperti ini yang nanti akhirnya engkau hadir dalam kehidupan suamimu dengan itu, meraih itu, sehingga akhirnya suami tidak berpikir untuk ke tempat-tempat yang seperti tadi. Bahkan mungkin ada di antara kaum muslimin yang beriman pun kepada Allah, tapi karena yang dia temukan setiap kali pulang rumah, wajah yang cemberut, mata yang melotot, lisan yang tajam, penampilan yang berantakan, makanan yang tidak hangat, tidak ada sama sekali kata-kata cinta, kata sayang, ya, kehangatan. Suami pun kalau mau tidur malah marah-marah, udah pulang telat malah tidur, dan segala macam. Tidak ada sentuhan jari-jari jemarimu yang lentik dan bagus itu, dengan pijit-pijitan di tubuhnya yang membuat dia hilang dari penatanya, sehingga akhirnya mereka berpikir sederhana, menikah lagi, bermasalah dengan istri tanpa permasalahan, akhirnya pergi ke tempat-tempat wanita penghibur tadi. Dia berpikir, "Ya sudah, dengan ini saya bayar sejam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, selesai, saya dihibur, terpenuhi biologi saya." Padahal haram sebenarnya dalam agama Islam, dan dia tahu ketuhanan, tapi kenapa dia lakukan? Karena tidak temukan ini, ada kekosongan di sini yang harusnya diisi oleh seorang figur istri, dan ini berbahaya sekali, berbahaya sekali. Istri mendapatkan dosa karena dia memang tidak melayani dengan baik suaminya, terus selagi suami juga dapat dosa karena dia melakukan perbuatan haram. Tentu suami tidak layak harusnya mengerjakan ini, ya, tapi dia terpaksa karena kondisi dan keadaan.
Tapi di saat seorang suami pulang, dari membuka, membela pintu pun, istri yang mengambil alih untuk membuka pintu. Kemudian dengan senyuman yang ya menawan, dengan penampilan yang indah, ya, bau mulut, nafas tidak ada sesuatu yang mengganggu suami, disambut dengan hangat, mungkin dibantu bukain sepatunya, kaos kakinya diangkatin, barangnya dia masuk ke dalam rumah yang nampak penataan yang rapi, wow, yang wangi. Kemudian meja makan sudah tetap terapi dengan makanannya hangat, persilahkan suami mau langsung makan, mau bersih-bersih dulu, ya, paling tidak kalau mau makan dulu, ingatkan saja mungkin bisa cuci tangan. Udah disiapin sabunnya yang baunya segar, ya, bukan sabun asal-asalan, pilih wangi yang paling tepat untuk cuci tangan. Sekecil apapun pengorbananmu akan berpengaruh pada kejiwaan suami, sabun yang dipilih baunya mungkin apa yang suami suka, mungkin aroma buah-buahan, apel, strawberry atau yang lainnya yang kira-kira cocok, ya, tanyakan pada dia, walaupun hal kecil, jangan anggap remeh. Setelah itu dicuci tangan, mungkin dia makan teman nih, dia sendokkin nasinya, sendokkin lauknya. Kalau dia bilang, "Biarin saya ambil sendiri," nggak apa-apa, jangan paksakan, jangan tersinggung. Kalau dia mau disendokin, disiapkan apa yang dia suka, selalu ada. Atau misalnya dia ingin bersih-bersih, "Saya bersih-bersih dulu," baik, berikan dia kesempatan untuk itu, mungkin dia kurang nyaman pada saat Anda tiba-tiba mau merapat dengan dia, baik, jangan buru-buru. Ada sebagian suami mungkin karena dia terbiasa dengan bersih, dia juga ingin membalas dan merespon rapinya dan wanginya istrinya dengan hal yang sama, maka dia langsung ke kamar mandi dulu, dia bersih-bersih, dia rapi-rapi, mungkin bisa saja. Atau ada juga sebagian suami tidak, mungkin dia merasa lapar, mungkin bagi dia duduk dulu bercengkrama, ngobrol ya sama istri dan anak adalah hal yang didahulukan, kemudian positif saja, yang penting dia sudah cuci tangan dan dia pastikan memang diaman untuk dekat dengan istri dan anak-anaknya, maka tidak ada masalah. Tapi ini semua rangkaian yang sederhana, simple, tapi berefek sekali. Kalau saya di posisi seorang suami mendapati pelayanan seperti itu, untuk berbeda, saya spontansi pada saat itu melupakan tentang kepenatan di luar sana tadi, yang 8 jam di tempat kantor, belum jalanan, belum cuaca, belum segala macam gangguan-gangguan yang lainnya.
Kemudian kalau mau bersih-bersih, sudah masuk kamar mandi, handuknya sudah tertata rapi yang bersih, yang wangi, cium handuk itu, pastikan baunya tidak ya tidak busuk ya, dan handuk yang bersih yang wangi, pakai pewangi yang bagus ya, sabun dan shampo tertata dengan rapi. Termasuk hal kecil, botol-botol shampo dan sabun itu bersihkan, saudariku, karena banyak diantara muslimah dia biarkan saja, mungkin karena dipikir sudah sampo sama sabun cuma tinggal dipencet, ya, kalau yang cair misalnya, ya, nggak masalah. Padahal di sekitar botol itu mungkin banyak bercak-bercak kotor, mungkin ada debu. Kenapa nggak dibersihkan? Di saat kamu mandi saja tidak butuh waktu khusus gitu, dibersihkan dengan rapi sehingga seperti kelihatan botol baru, ya. Kemudian juga showernya dibersihkan, disikat, tempat lokasi shower itu, sekitar kamar mandi itu wangi, bersih, kering. Hal-hal kecil tapi pengaruhnya besar pada kejiwaan. Kemudian setelah itu dia pun kalau butuh sikat gigi sudah ada sikat gigi yang bersih, odol yang biasa dia suka pakai, mouth obat kumurnya ada, ya, mungkin ada handuk kecil yang disiapin khusus untuk membasuh wajah misalnya atau bagian mulut pada saat selesai sikat gigi, atau kalau tidak ada tisu di situ setelah selesai ya. Anda bisa menyambutnya di luar kamar mandi. Ada sebagian suami yang kurang nyaman pada saat istrinya ada bersama, ada di kamar mandi. Ada sebagian suami tidak, mungkin dia fun fun saja pada saat dia lagi mandi, istrinya aja ngobrol nggak ada masalah. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mandi bersama Aisyah sambil bercanda, itu bisa saja, tapi kan tidak semua orang menyukai hal-hal seperti ini ya, mungkin ada sebagian orang merasa dia lebih privasi gitu kan, apalagi maaf kalau dia buang hajat misalnya, dia tidak ingin istrinya mencium bau yang kurang sedap, maka biarkan dia mengambil ketenangannya. Tapi pada saat dia keluar dari kamar mandi dia sudah temukan Anda. Keluar kamar mandi ini pointernya adalah ranjang. Poin selanjutnya adalah masalah ranjang. Anda sudah di ranjang atau sekitar ranjang dengan baju Anda yang seksi yang bagus, dengan senyuman memberikan isyarat kalau suami ingin intim. Kalau suami masih mau ngobrol, layani, apa, dengarkan tuturan kata dari mulutnya. Kalau dari bahasa mulutnya dia mendekat, dia berbicara, "Oh Masya Allah seksi, oh Masya Allah bagus," apalah pujian dia misalnya, bahasa-bahasa dari suami umumnya gitu kan, bercanda tahu, dan dia merespon tentang masalah itu. Baiklah, ini saja dia sentuh dia dengan lembut, bermanja dengan dia sehingga terjadi interaksi biologis yang sangat memuaskan. Setelah itu Anda tawarkan kepada dia, "Pengen cemil apa, buah-buahan? Pengen minum apa?" Anda harus tahu minuman-minuman yang segar, nah minuman yang hangat yang suami suka, belum bisa Anda racik, Anda bisa beli yang sudah jadi ya, mungkin dia suka jahe, bisa beli sekarang banyak, mungkin bisa dicampur dengan susu, mungkin ini mungkin itu banyak, atau Anda buat inisiatif jus. Kalau Anda juga belum sempat karena mungkin punya anak kecil atau tersibukan dengan yang lain, belum sempat Anda beli tempat-tempat jus yang menarik. Anda tata beli gelas khusus di rumah yang menarik yang memang untuk jus sendiri, minuman hangat sendiri, karena memang minuman pakai cangkir ya, kalau minuman dingin berarti pakai gelas yang gitu, dia beli gelas-gelas yang unik, Anda cari online sekarang antara Anda dengan suami berdua, mungkin ada tulisan di situ ya, suami istri atau apalah, cinta atau apa saja yang berbeda gitu kan. Setelah itu bercengkramalah dengan suami, hilangkan capeknya, hiburlah dia dengan cerita-cerita positif ya, atau dengarkan apa yang dia sampaikan, apa yang dia cerita, hadir dalam apa yang dicerita itu, "Oh ya gitu, oh apa," hanya dalam kehidupan dia sehingga dia merasa suasana yang sangat berbeda. Sudah melakukan perbuatan ini sampai suami istri pijat tubuhnya. Banyak sekali muslimah tidak peduli dengan masalahnya, padahal sentuhan tanganmu itu sangat besar pengaruhnya pada diri, pada kejiwaan juga, pijat dia setelah dia tidur lelap, barulah kamu istirahat, mau datang ke pelukannya pun tidak masalah ya. Berapa banyak muslimah suaminya pulang tidak ada sambutan, makanan sudah dingin di atas meja ya, alasan capek, alasan ngantuk, alasan dia tidak menikmati waktu bersama suami. Suami datang begitu kondisinya, suami pulang pun pergi pun besok paginya dia juga tersibukkan dengan urusan rutinitas dia sehari-hari, padahal sebenarnya sudah harusnya suami sudah pergi baru kemudian dia beraktivitas. Ingat dalam melakukan apa tadi yang kami sampaikan itu butuh pelatihan, butuh sebuah kebiasaan, jangan saudari kaum muslimat. Di saat suami tidak ada, pakaianmu berantakan, kamu tidak biasa menyelamat rambutmu, kamu tidak biasa dengan menata rapi rumah misalnya atau yang sejenisnya, maka akhirnya di saat suami datang seperti orang kelabakan atau apa adanya saja kan beda, seseorang itu ada pelatihan sebelumnya dengan yang tidak kan gitu, beda sekali. Cintai kebersihan dan kerapian itu, jadikan sebagai sebuah pola sehingga memang ada suami nggak ada suami Anda selalu tetap kelihatan rapi dan bersih. Ini nanti akan melahirkan ide-ide baru yang membuat Anda selalu lebih berpenampilan, lebih menarik, lebih rapi, lebih indah, lebih cantik, lebih, lebih segala macam. Suasana ini teman-teman sekalian tidak mungkin ditemukan di tempat kerja, tidak mungkin ditemukan di jalan raya sana yang memang suami Anda setiap hari itu kerjanya, kecuali dia pengangguran, tapi umi orang bekerja mencari nafkah buat kebutuhan dia dan kebutuhan keluarganya. Apalagi kalau seorang muslim, dia tahu mencari nafkah adalah kewajiban bagi dia, sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang selalu membengkakkan siapa yang harus dia nafkahi gitu kan, jadi nggak mungkin seorang mukmin itu tinggal di rumah dan dia membiarkan eh istrinya anaknya tidak memiliki, tidak terpenuhi kebutuhan dasar mereka. Dan suasana ini akan membuat berbeda, memunculkan semangat baru ya, mungkin Subhanallah pada saat dia menceritakan permasalahannya Anda terlibat dalam memberikan semangat, memberikan ide solusi, mungkin menemukan solusi bisa jadi sehingga dia esok harinya sudah lebih semangat lagi karena mendapatkan solusi dari permasalahannya misalnya.
Berapa banyak ide-ide mulia yang keluar dari mulut seorang istri, terutama baris bawah ini pada saat suami minta pendapat Anda. Jangan pernah memberikan pendapat apapun tanpa suami minta, karena itu akan mengganggu ya. Makanya Ummu Salamah radhiyallahu anha di kasus kesepakatan Hudaibiyah, beliau ikut bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, kemudian Nabi Shallallahu alaihi wasallam pada saat itu diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk ya pulang ke Madinah, udah nggak perlu ngelanjutin umroh lagi dan mengikuti akad kesepakatan dengan Quraisy. Tapi rupanya Nabi SAW pada saat mengatakan Allah telah perintahkan kita untuk pulang, bertahan lelah para sahabat, banyak diantara mereka masih berharap, bukan membangkangnya, mereka masih berharap agar terjadi perubahan supaya berperang saja. Kenapa orang-orang Quraisy menahan kita untuk masuk umroh, kita sudah berihram jumlahnya pada saat itu 1400 orang, besar sekali di perang, di peperangan-peperangan saja seperti di Perang Badar cuma 314 muslim melawan 1000 orang, di Perang Uhud 700 melawan 3000 orang, di Perang Khandaq 1000 orang melawan 10.000 orang, besar sekali di perang-perang Khaibar itu 1400 melawan 10.000 orang, dibebaskan Kota Mekah 12.000, 10.000 muslim melawan satu kota Mekah, pasukan mereka pada saat itu mencapai 4000 orang dari orang-orang Quraisy kalau dikumpulkan semua, tapi di perjanjian Hudaibiyah jumlah mereka 1400 ini dalam kondisi umroh bukan pasukan perang, cuma mereka bersedia bersiap-siap untuk berperang. Akhirnya yang terjadi mereka masih duduk dan berharap agar terjadi perubahan, bukan disuruh pulang tapi berperang, maka Nabi SAW masuk ke dalam kemah dan terlihat sedikit murung pada saat itu. Ummu Salamah bertanya radhiyallahu anhu, "Rasulullah," kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Kita sudah diperintahkan oleh Allah untuk balik ke Madinah dan saya perintahkan kepada mereka, tapi bertahun-tahun mereka masih ya masih masih menunggu. Saya khawatir azab Allah turun kepada kita." Maka kata Ummu, "Ya Rasulullah," nasehat yang luar biasa, ide karena di sini dia sudah lihat Nabi merespon pada saat dia nanyakan ada apa gitu kan. Kalau Nabi SAW diam saja tentu dia tidak akan respon, tapi dia lihat Nabi SAW mengatakan begini kejadiannya, jadi seakan-akan Nabi juga ingin apa nih kira-kira masukannya supaya para sahabat mau bertahlul dan pulang ke Madinah. Maka kata Ummu yang mulia, dia mengatakan, "Ya Rasulullah, tidakkah Anda mulai dengan diri Anda dulu? Kenapa tidak Anda duluan yang cukur gitu supaya mereka lihat." Maka Nabi SAW tidak terpikir sebelumnya, beliau langsung mengatakan, "Ide yang bagus," beliau keluar, panggil tukang cukurnya dan mencukur rambutnya. Pada saat melihat kejadian tersebut para sahabat sudah paham bahwasanya tidak mungkin ada perubahan dari keputusan karena Nabi sendiri sudah cukur, maka semua mereka berlomba-lomba mencukur rambut mereka dan akhirnya ikut pulang ke Madinah bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Nah, contoh jadi kadang-kadang ada masalah yang sudah dihadapi, kalau dia membahasakan mungkin Allah Subhanahu Wa Ta'ala memudahkan, terlintasi benda Anda di hati Anda untuk bisa membahasakan sebagai solusi itu bagus sekali ya. Jadi semua ini, semua teman-teman sekalian, wahai muslimah, engkau tidak sadari ternyata bisa menjadi penyebab kesuksesan, kesuksesan suami di luar sana, kesuksesan suamimu di luar sana ya, karena dia menemukan kehangatan sehingga semangat lagi kembali untuk kerja besok atau mendapatkan ide-ide brilian dari Anda, yang ide-ide yang bagus, cemerlang yang membuat dia menemukan solusi dari permasalahannya. Nah, ini Anda sedang terlibat dalam kesuksesan suaminya. Semua yang panjang lebar dari kami jelaskan ini teman-teman sekalian adalah penjelasan masalah judul kita, di belakang suami-suami sukses ada istri-istri yang sukses. Baik, kita coba dengarkan apa yang disampaikan oleh penulis berhubungan dengan masalah judul ini. Baik, diulang mengatakan, "Tidak diragukan lagi bahwa tidak dilakukan lagi bahwa pria yang sukses dalam pekerjaannya selalu mendapati suasana kondusif yang mendukung untuk kesuksesan tersebut, ia mendukung untuk kesuksesan tersebut. Tak seorangpun bisa menjalani kehidupannya dan meraih kesuksesan yang besar dalam suasana yang tidak kondusif. Jika ada yang bisa, pasti kesuksesan yang diraihnya masih jauh dari apa yang semestinya bisa dicapai." Jadi untuk sukses harus ada kondisi ya yang dan suasana yang kondusif yang mendukung itu, misalnya ketenangan jiwa, ya, pelayanan yang baik dan segala macam lah, persiapan yang matang untuk itu. Suasana kondusif yang mendukung untuk terwujudnya kesuksesan adalah rumah. Sekali lagi, suasana kondusif yang mendukung untuk terwujudnya kesuksesan adalah rumah, ditambah lagi yang tenang yang diliputi cinta kasih dan istri yang menjadi sebaik-baik bantuan dan sandaran bagi suami. Jadi di sini bermula nih ya, tangga pertama bahasannya dari judul kita, di belakang suami-suami sukses ada istri-istri yang sukses. Artinya Anda sukses menjalankan tugas Anda sebagai seorang istri, fungsikan maksimal dalam memenuhi kebutuhan suami dan memberikan solusi pada saat dibutuhkan dan diminta. Maka Anda sukses karena telah menyukseskan suami. Saya ulangi kata beliau, "Suasana kondusif yang mendukung untuk terwujudnya kesuksesan adalah rumah yang tenang, satu yang diliputi cinta kasih, dua dan istrinya menjadi sebaik-baik bantuan dan sandaran bagi suami." Kalau beliau mengatakan istri membuka cakrawala harapan di hadapan suami berkenaan dengan proyek-proyek yang ditanganinya dan pekerjaannya, ia menyiapkan suasana kondusif yang menggiatkannya untuk melakukan amal saleh yang membuahkan hasil awal-awal produktif. Adapun rumah yang hiruk-pikuk dengan problematika, kepenatan, tidak ada keridhoan dan saling mencari-cari kesalahan masing-masing suami istri, maka tidak akan menghasilkan apa-apa dan tidak bahagia. Baik soalnya itu pun istri sendiri karena istri berharap suaminya merespon dia, menyentuhnya ya, mendengarkan kisahnya, keluh kesahnya kan begitu. Saya ulangi, "Adapun rumah yang hiruk-pikuk dengan problematika, kepenatan, tidak ada keridhaan dan saling mencari-cari kesalahan masing-masing suami istri, maka tidak akan menghasilkan apa-apa dan tidak bahagia." Istri berjalan tidak tentu arah dan dunia menghimpitnya, begitu juga suami tidak jauh beda, ia terkadang terlihat tidak memiliki reaksi atau terpengaruh dengan segala yang terjadi, tapi sebenarnya hatinya sesak dan dunia serasa menghimpit di sekelilingnya. Maksudnya pada satu istrinya cuek, nggak nggak peduli dengan dia, nggak dandan, nggak melayani, nggak seperti yang ideal yang kami sampaikan ya, hampir setengah jam atau 20 menit lebih tadi ya, kita menyampaikan tentang hal-hal yang kita harapkan bisa menjadi pondasi dasar bahasan kita ini sebenarnya. Kadang-kadang suami cuek aja, ada suami kita sudah capek, nggak mau lagi peduli dengan istrinya dandan atau tidak ya, siapin makanan atau tidak, udahlah dia cuek cuek aja juga dia sibuk dengan handphonenya ya, sibuk dengan alamnya sendiri ya. Kata beliau, "Ia berjalan, tapi sebenarnya dalam kondisi seperti itu tetap aja dia kepikiran dan ia berjalan tidak tentu arah dan tidak menyadari apa yang dikatakan dan diperbuatnya dari emosional, menyalahkan dan segala macam." Maka bagaimana mungkin orang yang seperti ini akan sukses dalam pekerjaannya? Karena itu lakukanlah apa yang bisa engkau lakukan, wahai istri yang mulia, demi kesuksesan suamimu dalam pekerjaan dan kehidupannya secara umum. Ketahuilah bahwa kebahagiaan yang hakiki bagimu adalah ketika engkau melihat orang yang engkau selalu berdiri di sampingnya mendapat kesuksesan. Jadi maksudnya, jadikan target utama kalau orang yang ada di sebelahmu ini, suamimu sukses, itu target utamamu, dia bahagia. Dia terlihat dari respon-respon dia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mungkin aku bertanya-tanya, kata beliau, "Apa yang bisa aku lakukan demi kesuksesan suamiku?" Maka dokternya jelas menyebutkan kiat-kiat dari beliau. Beliau mengatakan, "Inilah sedikit jawaban yang bisa aku berikan kepadamu, mudah-mudahan membantumu dalam mendampingi suamimu dan mengantarkannya menuju kesuksesan di dunia dan juga di akhirat." Baik, saudari kaum muslimah, kita akan masuk ke kiat-kiat dan saran dari Doktor Najla Sayyid Nail Allah agar engkau bisa menjadi istri-istri yang sukses dan akhirnya menopang kesuksesan suami. Yang pertama beliau sarankan adalah, "Ingatkanlah suamimu agar senantiasa mengikhlaskan niat dalam segala pekerjaan yang dilakukannya dan merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Jangan sampai ia menempuh jalan yang haram atau yang mengandung syubhat. Berpesanlah kepadanya, 'Bertakwalah kepada Allah berkenaan dengan kami dan janganlah memberi kami makan kecuali makanan yang halal. Kami ingin bersabar menghadapi kelaparan, tapi bisa bersabar menghadapi kelaparan, tapi kami tidak bisa bersabar menghadapi neraka di akhirat nanti.'" Ini pesan yang pertama. Jadi maksudnya adalah fokus ya, melihat kalau suami pendapatannya sudah halal Anda tidak usah sentuh lagi itu, tapi di saat misalnya suami membahasakan, "Saya kemarin ditawarin bonus di kantor misalnya ya, dan bonus di kantor ini saya sih nggak tahu dari mana, tapi mau dikasih saya ambil aja ya," misal contoh ada sedikit tanda tanya di situ, seakan-akan dia mau mendengarkan pendapat Anda seperti apa, maka jawab seperti ini, "Kami ini berharap sekali walaupun itu tidak mewah, walaupun tidak banyak, walaupun tidak istimewa, tapi halal karena kami bisa bersabar kalau sedikit lapar atau kekurangan, tapi kami tidak bisa sabar dengan azab Allah nanti pada hari kiamat." Tentu bahasa ini, teman-teman sekalian, tidak akan keluar kecuali dari seorang mukminah, muslimah ya, memang penuh hatinya dengan keimanan ya. Dan kami tetap berharap semua mengikuti acara kita ini, baik siaran ulang ataupun live, maka bisa merenungi dan memahami masalah ini, bagaimana dia memang mendahulukan urusan akhirat dia dan itu sangat berhubungan dengan suaminya karena kalau dia mendapatkan pendapatan halal dan dia makan, dia tinggal menjaga ketakwaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala di rumah ya, tapi kan semua motor yang berputar di rumah ini, listrik, air, semua bahan-bahan baku makanan ya, pakaian semuanya ini dari hasil pendapatan suami dan karena dia diwajibkan dalam syariat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka dia harus bagaimana memastikan ini semua aman dan akhirnya dia juga tinggal menyempurnakan dengan kewajiban dia pribadi kepada Tuhannya. Sekali lagi, kalau pendapatan suami sudah jelas halal, Anda tahu dia bekerja halal secara umum, Anda tidak temukan ada permasalahan, tidak usah disinggung masalah ini, khawatir nanti suami malah tersinggung, seakan-akan ada informasi sampai kepada Anda kalau pendapatan dia tidak halal ini ya, padahal sebenarnya dia sudah halal gitu atau ya, bisa Anda sampaikan di saat dia butuhkan, dia bertanya seperti yang sudah saya kasih contoh. Pesan yang kedua dari beliau adalah, "Hati-hatilah dalam mendorong hati dari mendorong suamimu untuk sukses dalam urusan yang bukan menjadi spesialisnya karena ia akan terbebani dengan hal itu, tapi lihatlah potensinya, tunjukkanlah ia padanya karena sebagian orang tidak tahu hakikat potensinya, hanya orang terdekat sajalah yang mengetahuinya." Jadi maksudnya pada suami menyampaikan, "Saya ini ada ditawarin kerjain dan itu," Anda sebenarnya bisa membaca kalau suami mungkin kurang pas dengan itu, Anda mungkin bisa memberikan masukan di saat itu ya, karena Anda sedang diminta sarannya. Anda bisa membahasakan, "Apa sudah dipelajari baik-baik? Apa sudah dipikirkan baik-baik gitu kan? Bukankah spesialisnya Mas, apalah yang dipanggil ya itu lebih kepada ini dan itu misalnya, maka ini ya perlu untuk diberikan masukan dan jangan malah Anda datang Anda memberikan masukan itu, 'Suami temanku kerjanya begini dan begitu, kenapa Mas gak coba?'" Misal contoh Anda tekan dia ya untuk membahas tentang masalah pekerjaan yang bukan spesialis ya, dan akhirnya karena dia terbebani dia coba mau memaksakan, mungkin belum tentu dia sukses di situ ya. Ini saran yang kedua. Saran yang ketiga, "Bantulah suamimu agar memiliki pemahaman yang sempurna dan pengetahuan tentang segala yang baru di bidang pekerjaannya. Berikan motivasi kepadanya untuk menyempurnakan pekerjaannya karena itulah jalan kesuksesan di dunia dan mendapatkan kecintaan dari Allah subhanahu wa ta'ala." Kapan dia cerita, saya ingin garis sebagai poin ini ya, jangan Anda menjadi seorang istri yang selalu sibuk menanyakan terus suami tentang masalah pekerjaannya. Kapan dia cerita, kapan dia butuh saran Anda, di situlah Anda masuk untuk menjelaskan karena banyak diantara suami memang tidak suka untuk membahas itu bersama istrinya. Dia berharap pada saat sedang bersama istrinya adalah yang ada hanya didengarkan permasalahan dia ya, atau misalnya berbicara tentang masalah kemesraan atau yang lain lah, masalah anak-anak. Dia mungkin lebih senang mendengarkan problem dari istrinya lalu dia pecahkan, maka tidak ada masalah. Tapi di saat suami itu minta saran, menceritakan seakan-akan dia minta pendapat, oke, tidak ada masalah. Berikan dia masukan ya, jadi jangan dengan penjelasan ini, "Oh berarti saya harus nih mulai sekarang setiap suami saya datang langsung saya tanya pekerjaannya apa? Siapa saja temannya, dia suka atau tidak?" Kita nggak perlu, dia bukan anak kecil untuk itu ya. Sekali lagi, kalau dia menceritakan dia seakan-akan minta saran baru Anda berikan masukan, dan kalau dia minta masukan Anda berikan gambaran agar dia menguasai bidangnya. Dia bertanya pada teman-teman yang sudah lama bekerja itu yang sudah berpengalaman misalnya, dia bertukar ya pendapat di situ supaya dia ikut-ikut pelatihan-pelatihan yang ada di perusahaan misalnya. Nah, cuma itu yang diberikan masukan karena kata beliau karena ini bagian daripada agama. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Aminah amalan ayyul, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyukai bila seseorang dari kalian melakukan pekerjaannya dengan sempurna." Hadis ini diriwayatkan oleh Syekh Albani dalam menjalankan di nomor 1880 ya ya di sini berikan dukungan ini masukan. Yang ketiga dari dokter Najla, berikan dukungan-dukungan agar dia menguasai pekerjaannya, mengambil informasi dan bertukar pikiran dengan teman-teman yang sudah lama berpengalaman. Di saat Anda diminta sekali lagi pendapat itu. Yang keempat beliau mengatakan, "Pujilah sifat-sifat baik suamimu dan ingatkanlah ia tentang berbagai kesuksesannya, jangan kegagalannya. Apa yang dia pernah sukses, ingatkan, terlibatlah bersamanya dalam menghadapi dampak-dampak negatifnya dan berusahalah ikut mengatasinya." Daripada cerita tentang satu problem, coba hadir, saya sudah bilang tadi ya, bisa saja satu ide dari Anda yang Allah lintaskan di benak Anda, di hati Anda, nah itu adalah solusi buat suami Anda, panen pahalanya setelah itu. Sampaikanlah nasihat untuknya dengan metode yang bagus dan cara yang bisa diterimanya. Yang kelima, "Terlibatlah bersama suamimu dalam menyusun rencana dan tujuan bila diminta ya, mendekatlah dari realitas dalam menyusunnya, jauhilah sarana-sarana jamilah, sasaran-sasaran yang fiktif dengan tenang dan penuh lemah lembut hingga tidak menyia-nyiakan waktu suamimu dengan percuma dalam mimpi di siang bolong." Jangan malah munculkan angan-angan yang tidak ada itu kan, nanti kalau bisnis ini tidak akan dapat ini dan itu ya, padahal sebenarnya belum tentu. Jangan ada bahkan di antara sebagian muslimah yang karena dia begitu mudahnya menerima saran-saran dari teman-temannya, penawaran-penawaran bisnis akhirnya membawanya suaminya gitu kan, akhirnya suaminya berikan modal karena dia ngotot terus untuk dikasih begitu diputar malah jadi masalah, setelah punya masalah sudah ditipu baru kemudian suami jadi beban. Ini banyak terjadi kasus seperti itu, bukan itu yang diharapkan, tapi di saat ada satu program, program kerja, program gizi suami inginkan kemudian dia minta saran Anda, Anda hadir di situ, coba apa kira-kira minta sama Allah Subhanahu Wa Ta'ala, apa yang muncul di benak Anda, Anda sampaikan, berikan masukan kepada dia. Yang keenam, "Jangan terburu-buru menuntut suamimu agar merealisasikan sasaran-sasaran itu. Ada kalanya engkau harus mengurungkan dari menuntut sesuatu yang engkau inginkan bagi dirimu demi merealisasikan sasaran-sasaran tersebut." Kadang-kadang ada kebutuhan kita, bahasa kita, "Tunda dulu demi untuk supaya target yang sedang sudah dijadikan sebagai sebuah sasaran itu terpenuhi." Jadi itu yang keenam. Yang ketujuh, "Ingatlah bahwa pertolongan itu menyertai, pertolongan itu menyertai kesabaran dan khususnya itu membutuhkan kesungguhan, kepenatan dan kesabaran hingga klimaksnya." Maaf, ini masih masuk di poin keenam, jadi khusus supaya jangan tergesa-gesa menuntut sasaran dan tujuan itu tercapai. Yang ketujuh, "Hendaklah engkau, wahai istri yang bijaksana, menyediakan suasana yang..."
Kondusif bagi suami untuk membuat langkah yang tepat dan menyediakan waktu yang leluasa untuknya guna mewujudkan keinginannya. Jadi, ini dukung dia waktu yang kondusif. Misalnya, ada satu hal yang dia harus selesaikan, pekerjaan mungkin memang tidak mungkin dia selesaikan di kantor dan besok dia dikejar harus target terpenuhi. Biarkan di hari itu dia melonggarkan waktu untuk menyelesaikannya. Kondusifkan, berikan dukungan, senyuman Anda. Siapkan, ada mungkin kalau ada meja kerja di rumah, dia sudah bisa disiapin di situ, dia duduk. Mungkin dia menyiapkan materinya, mungkin dia sedang menyiapkan strateginya, mungkin dia sedang menghitung laba ruginya, mungkin segala macam. Berikan support dengan minuman hangat, dengan minuman dingin. Kalau Anda standby di sebelahnya atau Anda beraktifitas yang lain sampai dia selesai, baru kemudian Anda datang mendekat kepadanya untuk memenuhi kebutuhan yang lainnya. Nah, ini kondusif ya. Ini yang ketujuh.
Yang ke-8, berilah motivasi kepadanya agar tinggi kemauannya dan kemalasan terusir dari kehidupannya. Misalnya, dia sudah mulai, "Aduh, kayaknya malas nih," mungkin Anda datang, usap pundaknya, "Ayah, semangat Mas! Ya, nggak papa, ini kan bagus, ini kan... ini contoh." Itu yang ke-8. Yang ke-9, berhati-hatilah dalam menyampaikan celaan terhadap suami ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebab, segala sesuatu itu bisa mengalami kesuksesan atau kerugian. Karena itu, mudahkanlah urusannya dan motivasilah dia untuk tetap melanjutkannya. Maksudnya, kapan dia sudah susun sebuah rencana, target, sasaran, dan Anda juga sudah terlibat dari awal, ternyata tidak mencapai, maka jangan cela itu. Berikan semangat, "Bisa kok!" Di saat anak kita naik sepeda misalnya, kemudian jatuh, kira-kira Ibu kerjakan apa? Ibu bilang, "Nggak usah pakai sepeda lagi, Nak. Kayaknya kamu nggak bisa, kan?" Nggak mungkin! "Pasti bisa, Nak! Ayo, ulangi lagi! Nggak apa-apa luka sedikit! Nggak papa!" Misalnya, Ayah sampai anak kita bisa naik sepeda, ya itu contohnya, jadi supaya mudah dipahami saja. Yang ke-10, bantulah suamimu untuk mengumpulkan semua yang dibutuhkannya demi kelangsungan pekerjaannya. Susunlah kertas-kertas kerjanya dan prioritas-prioritasnya. Kalau sampai pada tingkat Anda menjadi seperti sekretaris dia, Anda sudah tahu dia, kalau setiap datang dia butuh pulpen, dia butuh kertas, ya dia butuh tips, dia butuh apalah ya, lampu kerja dan apa saja yang kira-kira dibutuhkan, Anda sudah siapkan. "Kau butuh ini, tolong disisipin, ditaruh di map sana. Ini taruh, taruh di sini. Baik, ini tolong ditaruh di tas kerja saya. Baik, semua rapi." Dan pastikan itu semua rapi, seperti Anda sekretaris pribadi. Jadi, pada saat dia buka tasnya nanti di tempat kantor ditemukan, "Oh, rapi benar! Istri saya sudah buat gitu, kan rapi semuanya."
Yang masuk dalam poin ke-10 ini, beliau mengatakan jika suamimu termasuk orang yang selalu merasa belegug, bukan orang yang bisa mengembangkan diri, maka ia butuh motivasi darimu. Tiada sesuatu yang mustahil. Pujilah perubahan apapun yang dilakukan suami menuju yang terbaik, walaupun sedikit, dan berikanlah kesan kepadanya bahwa engkau bangga bersuamikan dia. Ada masalah? Oleh karena itu, di poin ini teman-teman sekalian, jangan selalu melihat kelebihan suami orang lain, ya. Ini satu problem yang sering terjadi. Dia selalu mendengarkan cerita dari teman-temannya. Karena luasnya pergaulannya atau bahkan tidak dengan mata kepala sendiri. Misalnya, temannya baru dibelikan satu produk oleh suaminya, karena suaminya sukses dalam proyek ini dan proyek itu, dan tersebut karena oleh lisan temannya ini jumlah keuntungan yang didapatkan sekian ratus juta, sekian miliar, dan itu bisa datang lagi, keuntungannya akan datang, rencananya kami akan dibawa ke sini dan ke situ, sehingga ini dijadikan sebagai tolak ukur bagi dia. Ini bahaya sekali! Suami orang itu suami temanmu, bukan suamimu. Ya, beda nama, beda figur, beda sifat dan sikap, dan beda pekerjaan, beda juga potensi, beda energi, beda semuanya. Engkau bersama suamimu, jangan pernah bawa-bawa suami orang lain ke rumahmu. Tidak usah mandi-mandi-kan suamimu. Inilah yang perlu kamu berikan: dukungan kesuksesan sekecil apapun. Dukung! Maka itu yang dibutuhkan supaya betul-betul maksimal. Jadi yang ke-10.
Yang ke-11, adakalanya suami melupakan rumahnya disebabkan pekerjaannya dan proyek-proyeknya. Maka, tambahlah sabar menghadapi hal itu, tetapi tetap wajib meluangkan waktu untuk rumahnya, meskipun sedikit, agar ia mengetahui problematika dan kebutuhan mereka berupa cinta, belas kasih, dan sayang. Kalau di poin ini saya melihat memang dari dua sisi, harusnya satu sisi, karena dia Dokter Najla sedang menasehati Anda, wahai Muslimah, maka dia mengatakan kalau seandainya suami sampai mendapatkan satu pekerjaan di kantor atau satu proyek yang mengharuskan banyak menyita waktu dari luar rumah sehingga dia telat datang, tidak seperti waktu biasanya, gitu kan? Di sini Anda bersabar, tetap sambutan Anda hangat, ya. Karena inilah solusi terbaik yang membuat dia tertarik untuk segera kembali dan menyelesaikan pekerjaannya, ya. Karena dia merasa pekerjaan yang penting, tapi dia merasa juga kehangatan Anda, ya. Bersaing ketat dengan pekerjaan dia, maka dia akan selalu merasa juga butuh dengan rumahnya, gitu kan? Jangan dengan kesibukan kerja malah Anda sambut dengan marah-marah, itu bukan solusi. Dia akan bingung antara memilih istrinya atau pekerjaannya. Tapi pekerjaan ini akan memberikan manfaat yang besar juga buat istri dan anaknya, akan beda efeknya. Di saat Anda malam menyambutnya, Anda malah memberikan dukungan, Anda tetap hadir seperti yang sudah kami jelaskan dari di awal, ya. Semuanya dengan kehangatan, semuanya dengan sambutan, semuanya dengan maksimal. Jadilah "wanita penghibur" yang mereka hidup di luar sana ada dalam rumah, dan Anda yang paling berhak untuk tampil lebih baik daripada mereka itu. Nah, ini poin penting, ya. Ini banyak sekali luput dari kaum wanita di rumah.
Lalu, beliau mengatakan, "Jika pekerjaan justru berubah menjadi faktor asasi dalam menciptakan problematika rumah tangga, baik dari suami maupun istri, maka mereka wajib mengoreksi diri. Karena itulah harus, ketika itulah harus ada keseimbangan antara pekerjaan dan rumah. Karena hubungan suami istri akan menjadi renggang ketika masing-masing memberikan seluruh waktunya untuk pekerjaan." Di sisi lain, suami jadikan istri ya, di saat suaminya betul sibuk, harusnya maklum, itu tetap dia layani dengan yang terbaik. Kemudian, suami juga, kalau saya sih melihat efeknya, karena Dokter bicara sebagai seorang wanita, saya bicara sebagai seorang laki-laki yang sedang membedah buku ini, saya sangat yakin saya dan semua suami di saat kami pun sangat tersibukkan di luar sana akan hal itu akan sangat bersaing ketat, tadi saya bilang, dengan pelayanan suami dan istri dan sambutannya. Di saat Anda cukup menjadi seorang istri yang terbaik di rumah saja, tadi sesudah saya bahasakan dari buka pintu sudah wangi rumahnya, senyuman sudah ya menawan, penampilan yang menarik, makanan yang hangat, ya, kamar mandi yang bersih, rumah yang bersih, tempat tidur yang nyaman, pelayanan biologis yang maksimal, semua ini akan menjadi pesaing ketat dengan pekerjaan yang menyibukkan suami di luar sana. Maka, pastikan dia akan berusaha menyelesaikan cepat dan dia akan pulang, ya. Saya sangat yakin kalau suami terakhir dengan baik tidak akan terjadi seperti apa yang Anda khawatirkan, seperti misalnya, "Oh, suami malah cuekin saya, saya malah begini." Karena itu betul-betul bertolak belakang dengan fitrah alaminya manusia, nggak mungkin gitu. Sekarang, apa yang membuat saudaraku seiman kita nyaman dengan seseorang sehingga kita mau berlama-lama dengan dia? Misal, Anda dengan teman Anda saja. Misalnya, apa kira-kira kenyamanan duduk ngobrol sama dia, kan kenyamanan berteman, kenyamanan dia mendengarkan permasalahan kita dalam memberikan solusi, kan begitu? Sehingga kita, saya pada masalah, berharap ketemu dia setiap hari, kita kangen ingin bertemu dengan dia. Nah, seperti itu pasangan suami istri, malah lebih dahsyat daripada itu. Cukup jalankan tugas kita saja.
Kemudian selanjutnya yang ke-11, suami istri harus memberikan kepada rumah hak afiliasi dan hak pemeliharaan berupa waktu, harta, dan perhatian sesuai kesanggupan masing-masing pihak. Memberikan hak kepada yang memilikinya. Jadi, istri merawat dengan baik perabot-perabot rumah, penataannya dan segala macam sofa, ya, dengan rapi, semua barang-barang tidak ada yang hilang, ditata dengan rapi. Sudah kami jelaskan di bab-bab sebelumnya, ya. Beliau juga menyinggung tentang masalah rumah tangga itu adalah tanggung jawab setiap istri. Setiap jengkal rumah tanggamu, setiap produk yang ada di rumah itu, sendok, garpu, gelas, apa saja, Allah akan minta pertanggungjawabannya, karena dari harta suami. Jadi, jadikan itu sebagai skala prioritas, ya, yang harus ada pemeliharaan khusus, didorongkan waktu, ya, itu juga perhatian sesuai dengan kesanggupan, kata beliau di sini. Begitu juga dengan suami, dia harus menyiapkan semampu dia yang terbaik yang istrinya nyaman menatanya di rumah. Di satu produk memang rusak, bukan karena sengaja dari istri ataupun kalau dia tidak biasanya saja, tapi bisa kita pasang tidak sengaja, sebenarnya dia niatnya meletakkan satu benda satu tempat ternyata jatuh tidak sengaja rusak, ya sudah, si suami di sini juga melonggarkan hartanya, waktunya untuk membeli produsen dan menggantikan. Jadi, ada unsur kerjasama di sini di poin ke-11. Poin ke-12, untuk menunjukkan sejauh mana urgensi keberadaan suamimu bersama kalian di rumah dan berbincang-bincang dengan kalian, gunakanlah faktor-faktor penarik berupa pembicaraan yang mengundang kerinduan atau program-program pengetahuan. Jangan lupakan kata-kata yang manis tanpa memberikan kesan kepadanya bahwa ia ia disuruh untuk melakukan hal demikian atau bahwa ia teledor dan seterusnya. "Betapa sering engkau kecapekan, kecapekan, atau kecapean yang tidak dan tidak punya waktu. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberimu pertolongan, kami sangat kehilangan darimu." Misalnya, dari maksudnya ada bahasa-bahasa yang bisa dipilih di poin yang ke-12. Mungkin poin ke-12 ini, poin ke-13, ya maaf, poin ke-12 saat itu suami istri harus memberikan kepada rumah hak afiliasi, tadi poin ke-13-nya ya. Jadi, di sini bagaimana urgensi keberadaan suamimu bersama kalian di rumah. Buat supaya dia merasa satu hal yang penting untuk dia berada di rumah. Dari mana di sini dikatakan, gunakan faktor-faktor penarik berupa pembicaraan yang mengundang kerinduan. Selalu tunjukkan rindu, kangen, ya. Tutur kata yang diikuti dengan candaan itu dibolehkan dalam syariat, bahkan menghabiskan waktu banyak pun tidak ada masalah. Cengkrama yang selalu membuat dia kangen Anda. Boleh kirimkan dia cuplikan video yang menarik dari Anda. Anda boleh kirimkan foto yang menarik dari Anda. Privasi tidak ada masalah, ya, karena halal buat dia lihat dan nikmati, halal juga buat Anda ya menikmati dari suami untuk pribadi, ya. Cuplikan Anda pribadi, bukan cuplikan orang lain, tidak dibenarkan. Dan berkirim video dan cuplikan untuk foto wanita lain misalnya sering terjadi juga, ya. Karena si istri tidak percaya diri, maka dikirimkan wanita lain kepada suaminya. Ini salah! Atau suami kirimkan ke istri tentang cuplikan laki-laki lain misalnya, hanya dengan menganggap ini lelucon, supaya lucu, bahan tawaan, tanpa dia sadari istrinya dia suka kan gitu, akhirnya jadi nonton sendiri, akhirnya jadi tertarik dengan figur laki-laki tersebut. Karena perempuan banyak terbawa dengan perasaan, ini tidak boleh.
Kemudian, beliau mengatakan sebagai penutup di sini setelah poin ke-13, kata-kata ini bisa mendidik suamimu tentang urgensi keseimbangan antara rumah dan pekerjaan. Ini adalah langkah-langkah yang paling penting untuk jalan kesuksesan suami istri Anda. "Dalam engkau berhati-hati, wahai saudaraku tercinta, dari menggunakan segala bentuk kekerasan dalam pembicaraan yang bertujuan untuk perbaikan, sebab bisa jadi engkau justru mendapat kesusahan dan kehidupan mengalami kegagalan." Jadi, walaupun niatnya baik ingin memperbaiki, jangan gunakan ya bahasa-bahasa kasar, karena tidak akan memberikan solusi. Ini hanya akan memperkeruh permasalahan, hanya akan memperkeruh permasalahan. Baik, kita masih lanjutkan satu sub judul, karena ini sangat berhubungan dengan bahasan kita yaitu kesuksesan suamimu menuntut tidak teledornya dalam urusan rumah, baik pagi maupun petang, kata beliau. Segala sesuatu yang ada di rumah selalu tidak berada di tempatnya, alat-alat dapur bertebaran di mana-mana, kamar tidur tidak tertata rapi, ruang tamu dipenuhi mainan anak-anak, bermain di tempat tidur dan bau tempat tidur tidak tertahankan. Ya, coba perhatikan ini, bahasa seorang wanita, dokter di bidang syariat dan dokter dan pengalaman pribadi sebagai istri. Bayangkan ini bahasa seperti sedang mengajak bicara kita semuanya itu, kan Anda terutama wahai para Muslimah. Bahasa ini jelas, baik pagi maupun petang, segala sesuatu yang ada di rumah selalu tidak berada di tempatnya. Dia tanya charger handphone, tidak tahu di mana. Dia tanya tentang pulpennya, tidak tahu di mana. Dia tanya tentang pakaian dalamnya, tidak tahu di mana. Alat-alat dapur pada saat di dapur berserakan di sana-sini. Kenapa Anda tidak tata dengan rapi? Butuh sesuatu yang bisa menata rapi, itu raknya atau apa, Anda minta sama suami, tidak masalah. Kamar tidur tidak tertata rapi, alasannya kan pagi ya udah kalau diberantakin sama anak-anak atau berantakan lagi, udah biarin. Subhanallah, istri yang cerdas, suaminya berdiri sedikit saja ke ruang tamu, "Kak," ke kamar mandi, "Kak," tadi dia duduk di atas ranjang, kembali sudah rapi kembali seperti tersebut, itu akan sangat membuat nyaman, sangat membuat nyaman. Ruang tamu dipenuhi dengan mainan ini banyak, kadang buatlah satu sisi rumah di mana di situ tempat anak Anda main, ya, dan mainan itu dirapikan setelah itu. Anak-anak bermain di tempat tidur, usahakan mainnya bukan tempat itu, tempat tidur tempat untuk tidur, bukan untuk bermain. Jangan jadikan tempat untuk bermain. Bermain berarti di samping ranjang. Oke, kalau tempat Anda kecil misalnya, atau ada tempat khusus mereka main. Kalau tempat Anda besar dan ingat bau tempat tidur tidak boleh ya, bau busuk tebal selalu ya, pastikan sudah diganti kalau sudah dua hari diganti ya, jauhi semua. Kalau Anda biasa lagi nyemil, jangan di atas ranjang, karena sering ada serbuknya, itu membuat gatal gitu kan? Jadi, pastikan semua tuh bersih rapi. Ini penting, sama dengan pada saat dia tidur jangan tercium ya di apa namanya sarung bantal itu bau-bau yang tidak sedap. Ini membedakan kan, seandainya seorang istri menata hidupnya dan memahami dirinya sebelum pernikahan dan sesudahnya juga mengetahui bagaimana menata kehidupannya dan rumahnya, lalu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar atau yang benar, bersegera menata rumahnya, mengatasi bau rumah dan kebersihan anak-anaknya, niscaya bisa menenangkan syarafnya, merasakan ketentraman dan menikmati kehidupan bersama suaminya. Jadi, ternyata problem yang sederhana nih yang sering dilalaikan oleh banyak wanita itu justru sumber ketentraman buat dia supaya tidak tegang syarafnya dan juga kenyamanan jaringan bersama suaminya. Plus lagi saya tambahkan di sini poinnya, anak-anak yang sedang dia berdiri bisa tumbuh besar, kan itu akan mengikuti pola dia. Kapan dia biasa berantakan, anak-anak akan berantakan. Kapan dia bisa rapi, anak-anak juga akan rapi. Buruknya pekerjaan akan membuatnya merasa sempit dan itu berpengaruh terhadap anak-anaknya, perangainya dan pembicaraannya bersama suaminya juga berpengaruh terhadap suami dalam melaksanakan pekerjaan. Jadi, seringnya malas-malasan, "Tunda nanti aja deh, sebentar bersihin, sebentar rapiin, sebentar..." itu akan banyak anak-anak namanya anak-anak pasti akan gini doang, harus ngerti dong suami dan segala macam. Bahasa ini tidak ada manfaatnya, tidak memberikan kenyamanan buat diri Anda sendiri. Karena Anda juga pada saat dia tidak nyaman, Allah sudah buat kita kalau lihat kerapian dan penataan terapi kita jenis nyaman gitu ya, dan juga membuat suami Anda tidak nyaman. Suasana yang seperti ini syarat dengan ketidaknyamanan. Bagaimana bila suami menginginkan kertas-kertas kerjanya dan ternyata ia mendapatinya berceceran di antara mainan anak-anaknya? Bagaimana mungkin ia bisa membaca atau fokus pada pekerjaan yang ingin segera diselesaikan? Banyak suami mengeluh karena rumah tidak tertata rapi dan bersih sesuai yang diinginkan, terutama ketika sudah ada anak-anak, permainan mereka yang tidak henti dan pertengkaran mereka merubah rumah 180 derajat. Hal itu berperan menciptakan problematika. Untuk mengatasi masalah ini, istri hendaklah berusaha menata urusannya. Ia bisa melakukan hal-hal berikut ini.
Nah, kita tutup dengan ini ya. Jadi beberapa masukan beliau agar problematika dari berantakannya rumah. Bagaimana membagi antara melayani suami, melayani anak, menata rumah ini yang akhirnya menjadi sebuah pemicu problematika kalau tidak segera ditangani. Maka, beliau berikan masukan-masukan yang pertama, menata dengan baik dan mengadakan kesepakatan antara suami istri. Caranya dengan mencarikan pengasuh untuk anak-anak agar bisa mengarahkan kemampuan untuk bermain bersama anak-anak atau menyediakan ruang khusus bagi mereka, menghiasinya dan menjadikannya sebagai tempat khusus untuk bermain. Di saat tempat Anda besar, saya tempat Anda kecil ya udah aja bermain dengan mainan-mainan yang ada dan tidak perlu kita mengajak berpikir atau berpikir seakan-akan kita pemilik mainan tersebut. Nggak, pemilik mainan tersebut adalah anak kita. Jangan mengatakan, "Kayaknya anak saya sudah je, kayaknya anak saya sudah bosan." Ini pemikiran Anda, Anda yang sudah jenuh dengan mainan tersebut, karena bagi Anda itu bukan alam Anda, anak tidak ada masalah. Seringkali kami perhatikan dengan anak-anak kami di rumah, walaupun mainan yang sama, asal kita duduk dan kita enjoy bersama mereka, ajak mereka main, ajarin caranya, kita fun, tertawa bersama mereka, maka dinikmati saja oleh anak-anak. Bahkan seringkali kadang-kadang tidak menggunakan mainan pun, hanya bercanda dengan menggendongnya, naikkan dan menurunkan dengan genungan tersebut, memikulnya di pundak misalnya, sudah cukup membuat mereka sangat bahagia. Karena anak-anak itu butuh itu, interaksi dengan orang tua, bukan masalah mainannya. Jadi jangan terus-menerus menumpuk mainan di rumah yang tidak ada manfaatnya. Kemudian yang kedua, beliau mengatakan juga bisa mengadakan kesepakatan di antara suami istri untuk mendatangkan pembantu yang bisa membantu istri dalam urusan rumah tangga dan merawat anak-anak jika dibutuhkan, dengan mempertimbangkan segala kemungkinan dan tidak membebankan tanggung jawab sepenuhnya kepada, tidak membebankan tanggung jawab sepenuhnya kepada pembantu. Bahkan pembantu itu sifatnya hanya sebagai bantuan hingga ya waktu-waktu tertentu ya, atau sebagai bantuan saja walaupun pada waktu tertentu hingga waktu itu tertentu saja dan pakaian-pegang tertentu saja. Jadi tidak semua jadimpahkan kepada dia gitu ya, sampai pada tingkat ada sebagian istri itu pembantunya yang masak semuanya, kemudian pembantunya hidangkan, pembantunya yang melayani suaminya, dia di alam berbeda, dia duduk depan TV, dia sibuk dengan kegiatan yang lain, handphone ngobrol sama temannya, keluar ya tinggal, "Tolong, Mbak, siapinnya buat Bapak nanti mau datang, Bapak mau makan," dan seterusnya. Ini hal yang aneh! Ini mana Anda sebagai istri? Apakah lebih penting teman-teman Anda dapatkan daripada suami yang tidak mungkin? Ini penting sekali! Anda tidak bisa di rumah, ada lagi di luar, ajak suami kita ketemuan, makan di sini yuk, layani dia di luar pun tidak apa-apa. Walaupun nanti suami yang bayar atau Anda punya uang bulan Anda bisa bayar sebagai ganti tebus ya kekurangan Anda tadi di rumah. Itu yang ketiga. Suami hendaklah membantu istrinya semampunya, ia tidak dipaksa untuk melakukannya, tapi lakukanlah karena meneladani dan sebagai belas kasih kepada istri, terutama bila ia adalah wanita pekerja. Jadi misalnya suami istri kerja nih, pada dua-duanya pulang ternyata masih ada pekerjaan rumah yang masih berserakan, ya udah, karena tadi pagi buru-buru keluar bersama, kalau kejadian seperti itu, ya tadi kan kita bicara idealnya kalau perempuan di rumah, tapi kalau misalnya sama-sama kerja, itu beliau kasih masukan di sini suami istri juga saling membantu. Jangan bebankan semua kepada istri, jangan cumakan kepada suami semuanya, dan hindari saling menyalahkan. Sudah, saling merangkul dan saling mengejar pahala satu sama yang lain, saling mengejar surga dari satu sama yang lain, maka mulailah dan Insyaallah akan selesai. Yang terakhir, yang kemasukan beliau, yang keempat, tatalah waktumu, dan itu membutuhkan latihan dan ketekunan darimu, kelak engkau akan memiliki banyak waktu dan jerih payah. Misalnya, buatlah jadwal harian atau mingguan untuk menata urusan rumah secara fleksibel, misalnya dengan menentukan hari untuk bersih-bersih, hari untuk menyetrika pakaian dan seterusnya. Ini tentu di saat lagi tidak ada pembantu, ya. Kalau ada pembantu banyak bisa di alihkan ke mereka. Mohon maaf, tadi saya kira yang terakhir itu ya, ternyata masih ada dua poin lagi. Jadi poin keempat, poin yang kelima dan keenam. Poin kelimanya, ajarkanlah anak-anakmu kedisiplinan dan kebersihan. Sejauh mana engkau bisa menerapkan hal itu dalam dirimu, maka kelak anak-anakmu akan mencontoh ibu. Ini maksudnya biasakan kepada anak-anak itu pola. Jadi, kalau rumah biasa berantakan, jangan Anda salahkan anak-anak, "Oh, anak-anak memang gitu," karena anak-anak itu cuma ikutin kita saja. Kalau kita biasakan taruh kembali, habis berikan Anda berikan snack, buang ya apa wadahnya ya atau atau plastiknya atau apa saja di sampah ya. Ajarin. Yang terakhir, ketenangan yang dibutuhkan suami di rumah bisa engkau wujudkan dengan menyibukkan anak-anak dengan jenis permainan yang membutuhkan otak, seperti puzzle dan selainnya. Maksudnya di poin 5 sama 6 ini sebenarnya lebih kepada bagaimana menyibukkan anak-anak dengan aktivitas atau kegiatan yang nanti tidak mengganggu Anda sedang interaksi melayani suami. Nah, ini kurang lebih gambaran atau masukan dari beliau dan kedepannya Insyaallah kita akan bahas selanjutnya di pasar ke-10, memahami kejiwaan, kalau sudah benar dari Allah dimaafkan. Subhanallah.