📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Peran Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad dalam Konflik Polisi-Jaksa | Bocor Alus Politik

Tempodotco38:23

Transcription

Jaksa Agung meminta PORI untuk ya udah kusut aja tapi jangan dibawa ke KPK. Loh, kenapa sin kok Jaksa Agung justru meminta agar kasus ini ee ditangani oleh polisi saja tidak sampai melebar ke KPK?

Presiden itu juga marah dengan Kapolri saat itu. Betul. Kapolri dianggap ingin memecah belah institusi antara ee Kapolri dan Kejaksaan Agung.

Sebelumnya ada pertemuan setengah kamar terpisah yang dihadiri tanpa presiden. Oke. Ada Menteri Pertahanan, Cafri Samsudin, e Jaksa Agung, dan juga ada Febri. Oke. Ada permintaan dari Febri. Pertama, permintaan supaya Febri tidak dijadikan tersangka. Yang kedua dia minta ada yang mengakui duit hasil penggeledahan eh polri dan juga emas itu milik orang lain.

Ada ee rencana untuk mengevaluasi Kapolri dan mengganti Kapolri. He. Kalau teman-teman perhatikan Prabo manggil lagi tuh. He manggil lagi para pejabat-pejabatnya ke istana. He bahwa di situ Jaksa Agung masih menchallenge ataupun enggak terima karena Febri ditetapkan sebagai tersangka tanpa pemeriksaan terlebih dahulu. Presiden tuh agak panas juga karena dia mendapatkan laporan [musik] bahwa ada penebalan suatu pasukan di dekat Widya Candra. Prabowo marah dan bahkan dibilang, "Kalian ini mau sabotase pemerintahan saya." Iya. Ini semakin mempertegas bahwa Indonesia itu bukan negara hukum, tapi negara kekuasaan.

Halo, jumpa lagi dengan Bajor Alus Politik bareng gue Remondrikang. Gua Husein Abri Dongoran. Fransiska Kristana. Bagi pemirsa bocor alus politik dan pembaca tempo jangan lupa terus berlangganan Tempo Plus untuk mendukung jurnalisme yang berkualitas. Dan laporan utama atau cover story tempo sekarang terbit setiap hari Minggu jam 5.00 sore. Silakan membaca dan berlangganan edisi digital tempo di situ. Dan jangan baca dan sebarkan konten bajakan karena ada hak ciptanya.

So, kita main apa ini? Kita menjawab ini enggak permintaan netizen ya. Apa tu netizen? kemarin tuh ramai sin ketika ee kasus e penggeledahan ya he ee Kejaksaan Agung dan juga ee kepolisian minggu lalu ya ee di sebuah kafe itu timeline ee media sosial bocor alus politik itu dibanjiri request kok kapan bahas apa namanya soal Febri? Iya. Berani enggak e tempo membahas kejaksaan dan Polri? Iya. Katanya membahasnya polisi terus apalagi polisi yang nanam jagung gitu gitu kan. Nah, meskipun sebenarnya ee Tempo sudah mengulasnya pada podcast tukang kupas perkara, tapi kali ini kita juga mengupas kembali tapi dengan angle yang lebih ee makro ya, lebih lebih politik. Betul. Power struggle ee di tengah atau di ee di antara dinamika-dinamika ee perseteruan antara kejaksaan dan juga ee Polri. Dan ini kembali lagi-lagi seperti yang sering kita bahas juga ya di podcast ini menyangkut ee orang-orang terdekat presiden. Siapa itu? ee Menteri Pertahanan Safri Samsudin dan Wakil Ketua DPR Sufidas Ahmad. Oke. Jadi dalam dinamika kejaksaan dan juga polisi ini ada ee peran ya atau dinamika di antara ee kedua ee tokoh itu gitu. Apa bocorannya? Pertanyaan netizen itu kan paling paling penasaran itu apa bocornya sayembara nih? Ada sayembaranya enggak nih? Ada. Ada [tertawa] sayembaranya umrah keluarga. Makanya, Pak, kalau nonton apa namanya? Nonton Piala Dunia tuh di rumah aja gitu. Iya kan? Ah, mau final sih. Mau nonton bola di sana juga gimana? Udah telat, nonton aja di TVRI kan. I tapi TVRI enggak ada nih masalahnya di TV gua nih. Harus langganan volago [tertawa] ya. Balik lagi dong. Terus setelah ketahuan malah mutasi orang. Aduh, pupu. [tertawa]

Jadi kita mau membahas soal ee kejaksaan dan juga kepolisian ya. dan bagaimana peran antara ee Safri dan juga ee Dascoaran ee kasus ini. Nah, kalau pemirsa bocor halus dan juga pembaca tempo membaca atau mencermati ya laporan utama yang terbit pada ee pekan ini yang ditulis oleh tim hukum itu ada kita menemukan peristiwa atau rapat-rapat di mana Presiden merespons ee kasus ee antara kejaksaan dan juga kepolisian. Salah satu pertemuan itu terjadi di Wisma danantara. Di Wismaanantara itu Presiden setelah dia menerima ee salah satu penasehat ya dari Denantara, mantan Perdana Menteri Thailand ee Taksin, dia kemudian memanggil satu persatu ee pejabat-pejabat yang terkait dengan ee kasus ini. Ada Jaksa Agung tentu saja, terus kemudian ada Panglima TNI, terus kemudian ada Kepala BIN juga dan juga ada Kapolri di situ ya kan. Itu sudah kita tulis rupanya. kita menemukan ada rapat-rapat yang lain yang kemudian menentukan bagaimana posisi atau duduk perkara kasus yang menjerat mantan jaksa Agung Muda pidana khusus Febri Adriansyah hari ini. Nah, lu temuan lu gimana tuh Sin?

Pertemuan-pertemuan itu iya Kang. Jadi banyak sekali pertemuan-pertemuan yang sifatnya tertutup ya antara para elit-elit di negeri ini begitu ya antara kepala lembaga maupun antara presiden dengan para menteri-menterinya begitu. Salah satunya adalah di hari Rabu itu enggak lama setelah KPS Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi PORI itu menggeledah suatu kafe di Cepete, Jakarta Selatan. He. Nah, setelah itu ada pertemuan tuh Jaksa Agung bertemu dengan Kapori Jenderal Listiosigil, Jaka Agungnya Burhanudin begitu ya. Nah, gua tanya nih kepada seorang pejabat tinggi dan penegak hukum yang mengetahui pertemuan itu. Dia cerita, gua tanya juga seperti ini. Ee sebenarnya apa yang dibahas kok langsung bertemu begitu? ini kan memang ada suatu kegaduhan ya di lapangan, di publik juga bertanya-tanya ini kasus apa dan seterus-seterusnya. Jadi keduanya duduk bersama membahas ini sebetulnya ada apa sih? Karena Kejaksaan ini kaget, Kang. He. Tiba-tiba tadi kafe itu yang berafiliasi ataupun dimiliki oleh orang dekatnya Febri digeledah sama kepolisian dan belakangan kan baru ada dari kejaksaan maupun dari TNI kan yang berada di sekitar itu. Lalu dijelaskanlah bahwa ini proses-proses hukum dan PORI sudah menyidiknya sudah lama. Lalu juga ada berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang dan lain-lain. Nah, di situ apa namanya? Jaksa Agung meminta PORI untuk ya sudah kusut aja tapi jangan dibawa ke KPK. Loh, kenapa Senin kok Jaksa Agung justru meminta agar kasus ini ee ditangani oleh polisi saja tidak sampai melebar ke KPK? Nah, gua wawancara juga tadi kan ee dua narasumber itu ya gua tanya juga kenapa ada beberapa alasan, Kang. Yang pertama agar kasus ini enggak melebar ke mana-mana ketika itu kan di hari Rabu. Lalu yang kedua biar kejaksaan itu tidak ada beban juga. Kan ini kan semuanya diusut oleh PORI kan. Sementara yang dikobok-kobok atau di apa namanya menjadi sasaran itu adalah jampitsusnya e Kejaksaan Agung begitu. Nah, tapi di pertemuan itu tidak ada keputusan apapun ya. Hanya mendudukkan masalah, mengetahui dan ya sudah bubar begitu kan setelah itu. Oke. Itu artinya baru sebatas ide jaksa Agung dalam kira-kira e first minute respon ya. I pada waktu itu kan baru ee apa meledak terjadi kita apa di masyarakat wartawan sendiri juga masih meraba-raba ini kasus mengenai apa dan ee pada waktu itu kan baru dijelaskan soal ee blackout kita masih ini kaitannya seperti apa dan lain sebagainya gitu. Jadi ee pertemuan itu juga baru apa jam-jam awal ya e penggeledahan itu terjadi juga gitu. Betul. Betul ketika itu Kapori juga baru dari luar daerah kan set ketemulah Jaksa Agung itu. Heeh. dan ee kemudian besoknya kan baru ada pertemuan yang dalam konteks ini ee resmi ya digelar oleh ee presiden gitu dalam arti bagaimana Presiden sebagai pemimpin tertinggi ee merespon kasus yang ee terjadi pada hari Rabu. Dan kita sudah menulis itu di ee majalah tempo pekan ini bahwa ada tadi yang gua sebut pertemuan di Danantara dan di situ ada Kapolri yang dipanggil ee pertama kali. Pejabat-pejabat yang tadi kita sebutin itu kan dipanggil secara terpisah ya. Satu satu-satu. Nah, yang pertama itu kan ee Kapolri ya ee dipanggil untuk menjelaskan ee permasalahan ini. Iya, Kang. Gua wawancara juga nih seorang pejabat tinggi ya yang ada di pemerintahan Prabowo. Sebetulnya apa yang terjadi di hari Kamis ini? He. Nah, dia bilang Prabo itu masih istilahnya belanja masalah begitu. Oke. Ada apa sih sebenarnya terjadi kegaduhan ini? Penggeledahan dan seterusnya. Termasuk dia bertanya kepada Kapori yang dipanggil oleh Prabo ke Wismadanantara. Nah, berbeda dengan pertemuan sehari sebelumnya justru Kapori ini mengajukan kepada Presiden Prabowo agar kasus Febri ini diusut atau diselidiki oleh KPK. Oh, oke. Kenapa? agar dua institusi PORI dan Kejaksaan ini bisa seiring berjalan begitu ya kan kalau di publik dan kita ngobrol ke wawancara orang-orang DPR juga kan terkesan ada persaingan gitu ya atau berantem lah ya antara polisi dan kejaksaan. Nah, di situlah disampaikan oleh Kapori Listosikit Prabowo. He. Tapi di tengah-tengah pertemuan itu juga sen yang kita dengar juga ya, Kang, dari beberapa narasumber yang langsung berkomunikasi dengan Kapolri, sebetulnya Presiden itu juga marah dengan Kapolri saat itu. Betul. Kenapa? Karena ada dua hal yang menjadi konsen presiden. Satu, penggeledahan itu tidak atas izin presiden atau tidak atas pemberitahuan dari Kapolri ke Presiden. Yang kedua, Kapolri dianggap ingin memecah belah institusi antara ee Kapolri dan Kejaksaan Agung sehingga keluarlah solusi untuk memindahkan memindahkan ee apa problem itu ke KPK, penyelesaian problem itu ke KPK. I benar, Cak. Gua juga nanya tuh ke narasumber yang berbeda ya. kita wawancara ini sebetulnya Kapori ini memberitahukan ke Presiden enggak sih soal penggeledahan seperti itu? Nah, pejabat tinggi ini cerita bahwa Kapori tidak memberitahukan penggeledahan itu ke Presiden Prabowo. Makanya tadi Cicak bilang Prabowo marah. Nah, apa responnya Kapori kepada Pak Prabowo? Siap salah Pak Presiden. Begitu. Tapi menjelaskan bahwa kalau misalkan ada pelaporan segala macam itu, perkara kasus ini bisa bocor dan ada mitigasi-mitigasi lainnya yang dilakukan. oleh kelompok sana begitu. Dan ini kemudian diikuti dengan pemanggilan terhadap JSA Agung. Tadi kau bilang ya, Cik ee Senin bahwa e pejabat-pejabat ee apa di lingkaran e Prabowo itu dipanggil satu persatu. Nah, setelah Kapolri ada beberapa pejabat yang kemudian mengikuti ee dipanggil secara terpisah e salah satunya adalah ee Jaksa Agung. tuh e soal rencana e pelimpahan ya atau penyerahan kasus ini yang semula ditangani ee Polri ke ee ke KPK. Nah, di situ kembali e Jersa Agung ini Burhanudin konsisten tuh sebagaimana dia usulkan ketika bertemu secara terpisah ya sehari sebelumnya dengan Sigit. Dia mengatakan bahwa sebaiknya ini tetap ditangani oleh ee Polri gitu kan. Jangan sampai kemudian ini ditangani ee ke KPK. PK itu. Nah, di hari yang sama seang sebelumnya ada pertemuan setengah kamar terpisah yang dihadiri tanpa presiden. Oke, ini ada tiga orang yang hadir dalam satu pertemuan di sebuah tempat di Jakarta. Ada Menteri Pertahanan, Cafri Samsudin e Jaksa Agung, dan juga ada Febri. Oke. Yang nanti tentu saja apa yang didiskusikan akan ditulis Husein di majalah Tempo. Selengkapnya ya. Tapi boleh dipel dikit enggak? Ada spill dikit. Kasih kasih C kasih C. Iya. Ada permintaan dari Febri. Heeh. Pertama permintaan supaya tidak dijadikan tersangka. He. Ee tapi dia menjamin dia akan mundur. Dia mundurinya jampitus. Betul. Betul. Dia mundur enggak apa-apa. Yang kedua dia minta ada yang mengakui duit hasil penggeledahan ee polri dan juga emas itu milik orang lain. Dan di situ juga Kang Sen Febri diduga berkomunikasi dengan sejumlah pengusaha yang kita cross check ke lebih dari enam narasumber ya. ada sekitar tu narasumber yang langsung berkomunikasi juga dengan para pengusaha itu mereka dihubungi oleh Febri untuk meminta agar uang dan emas itu diakui milik mereka. Pengusaha ini macam-macam lah. Dua di antaranya terkenal. Siapa tu? Siapa dikit ciri-cirinya? Ciri-cirin ciri-cirinya satu dari Kalimantan. Wah, gua sudah punya bayangan. [tertawa] Padahal gue belum sebut pengusaha tambang gua belum haji aja. Iya. Dan pengusaha ini langsung terbang ke satu tempat nih. Oh, yang ada proyeknya itu? Betul, ada proyeknya. Oke. Tahu gua siapa ini. [tertawa] Satu lagi. Satu lagi. Ada enggak Je? Ada. Ada yang pernah berhubungan dengan sepak bola gitulah. Oh. Oh. Pengusaha tambang yang pernah ada di suatu sepak bola atau ataupun di Asosiasi Sepak Bola Indonesia begitu ya. Oh, istilahnya yang ada I e-nya itu kan ya. Oke, oke, oke, oke, oke, oke, oke. Oh, pantes, Ci. Ee gua jadi nyambung nih dengan ee apa kronologi peristiwa yang terjadi pada ee akhir pekan itu ya. He. Jadi ee setelah ada apa komunikasi ya ee dugaan komunikasi Febri dengan sejumlah ee pengusaha tambang tadi, Febri kemudian kan menggelar konferensi pers hari Jumat pagi. Kalau persis di situ salah satu ee substansi yang sangat gua ingat dari ee apa konferensi persnya e Febri adalah dia mengatakan benar itu rumah Sentul adalah rumah saya. Iya. Tetapi dia juga ee menyatakan di situ bahwa ee uang atau temuan yang ada di dalam ee brangkas di Rumah Sentul itu ada pemiliknya, ada kegiatannya gitu kan. He. Oh, rupanya itu adalah ee bagian proses dari komunikasi yang dia jalin sebelumnya dengan sejumlah pengusaha itu pengusaha dan ya menurut ee tujuh narasumber kita itu Febri sudah confident bahwa karena ini sudah ada yang mau mengakui nih atau diminta untuk mengakui maka ya dia akan apa ya akan selamatlah. He.

Nah, C ada pertemuan lagi nih presiden dengan para menteri-menterinya atau para pembantunya setelah dari pertemuan yang terpisah set kamar tadi kamar tadi Menhan apa namanya jaksa Agung dan Febri begitu. Nah, hasil rapat setengah kamar itu antara Safri, Jampitsus dan Jaksa Agung [berdehem] dibahas juga tuh ee dengan Prabowo ketika dia kembali atau pulang dari Lombok, Nusa Tenggara Barat di hari Jumat malam berarti kan. Nah, iya. Rapat ini di mana? Di Widya Candra. Oh, di rumah dinas Menhan dulunya, tapi kan tetap dipakai oleh presiden yang ada kolam renang 32 derajat itu. Iya. I [tertawa] kolam renang yang paling penting gitu. Nah, di situ Safri menyampaikan kepada Presiden agar Febri tidak dijadikan tersangga oleh polisi. Lalu yang kedua agar kasus ini dilimpahkan dari kepolisian kejaksaan. He. Nah, mendengar apa namanya penjelasan sahabatnya presiden gitu kan, Safri kan sahabatnya presiden. He. Kemudian Prabo itu menghubungi Kapori yang tidak hadir dalam pertemuan itu. Di sana Prabu menyampaikan atau bertanya kepada Sigit, Kapori, "Benar enggak PORI itu akan menetapkan Febri sebagai tersangka dalam perkara ini?" Heeh. Sigit menjawab, "Tidak, Pak. Tidak. Febet sebagai tersangka seperti itu. Dan Presiden juga menyampaikan jangan enggak boleh supaya tidak gaduh begitu kan. Makanya di hari Jumat itu kalau teman-teman bisa apa namanya lihat di pemberitaan atau segala macam kan di Jumat ada agenda tuh rilis di Polda Metro Jaya akan menetapkan atau perkembangan kasus soal penggeledahan. sampai malam itu ternyata Polda Metro Jaya hanya menampilkan barang bukti berupa uang dan emas serta duduk perkaranya tanpa menetapkan satu tersangka. He. Barulah kemudian di hari Sabtunya Polda Metro Jaya mengumumkan Febri dan Don Rito sebagai tersangka di perkara ini. Begitu. Nah, dalam pertemuan ee Jumat malam di Widya Candra itu saya Kang sebetulnya ada satu cerita lagi. Woi, apa itu yang tidak kalah menarik apa [tertawa] ada ee rencana untuk mengevaluasi Kapolri dan mengganti Kapolri di dalam pertemuan itu. Ide itu muncul bagaimana, Ci, ee ide ee evaluasi ya terhadap ee kinerja SIGET itu tiba-tiba muncul gitu. Iya. Awalnya memang Presiden menyorot eh Kapolri atau Polri lah ya, institusi kepolisian yang tidak melaporkan lagi-lagi tidak ee melaporkan ya e pengeledahan di Rabu itu kepada Presiden. Nah, ini jadi satu konsernnya Presiden karena dianggap tidak melaporkan dan lain sebagainya. Ini di nilai sebagai bentuk pembangkangan oleh Menhan Safri Samsudin ya, oleh Menhan dan juga oleh ee Presiden waktu di forum malam itu ya. Dan di situlah kemudian muncul usulan untuk mengganti Kapolri. Usulannya dari mana? Dari eh Menhan Safri Samsudin. Ya, gua juga cek juga tuh informasi itu. Ternyata Menhan Safri itu mengusulkan satu nama yang saat ini juga menjabat di bintang tiga PORI yaitu Kaba Baharkam, Mabes Pori, ee Komisaris Jenderal Karioto. Oh, mantan ee Kapolda Metro Jaya. Mantan Kapolda Metro Jaya. Nah, ada narasumber juga seorang peserta pertemuan yang tahu tentang bagaimana diskusi malam itu. Ternyata Prabowo bilang Prabowo tidak terlalu mengenal Karoto itu siapa. Hanya saja ketika Prabowo menjadi Menhan dan Karoto menjadi Kapolda Metro Jaya pernah bersinggungan betul atau pernah bertemu dan lain sebagainya. Nah, kemudian Safri Samfruddin menyampaikan kepada Presiden bahwa Karya ada di sekitar [tertawa] di sekitar Widya Candra. Jadi stand. Nah, yang lucunya nih, Kang, dalam pertemuan itu setelah bubar gitu ya, para peserta rapat ada yang bisikin Prabowo. Heeh. Pak Prabowo, Karioto itu besannya KDM loh, Pak. Oh, Kang Dedi Mulyani. Dedi Mulyani. Jawa Barat. Oke. Nah, Prabo respon loh nanti kalau jadi Kapori Karioto ini kerjanya bukan buat saya lagi, buat KDM. [tertawa] Masuk KDM channel. Artinya ini ada aspek-aspek ee politik juga politik juga. Gua kan melihat orang-orang tuh yang punya loyalitas ya. Apalagi kan kita pernah dibahas di bocor alus politik ini tingkat elektabilitasnya KDM itu kan lumayan tinggi begitu ya. Survei di atas berbagai survei memang di atas Prabowo memang. Tapi intinya dalam rapat ee di Widya Candra pada ee Jumat malam itu ee peserta rapat bersama dengan Presiden membahas ee peluang ee untuk melimpahkan ee kasus ee Febri Adriansa ini ke kejaksaan. ditangani oleh kepolisian dan ee juga bagaimana mengexercise ya ee penggantian e kepala e Polri Jenderal Listiosikit e Prabowo. Nah, tapi pada waktu itu apakah ada keputusan ya kan yang diambil oleh peserta peserta rapat belum ada sama sekali keputusan yang ee yang keputusan yang diambil saat itu hanya soal pelimpahan kasus saja Kang. Heeh. Jadi soal penggantian Kapolri ee akhirnya anti klimak di situ. Dan ee gua juga mendengar dari sejumlah narasumber ya yang mengetahui dinamika di antara polisi dan jaksa dan juga pertemuan dengan presiden itu C ee salah satu keputusan penting tadi lu sudah sebut beberapa tapi di antaranya adalah Presiden meminta ini cooling down. I ada upaya-upaya mitigasi yang harus dilakukan oleh ee baik menteri maupun anak buah Prabowo di ee pemerintahan agar kasus ini tidak terus menggelinding. Nah, salah satunya itu tadi yang e lu sebut ya, Ci, bahwa ee kasus dari ee kepolisian bisa dilimpahkan kejaksaan sebagai bagian dari upaya yang tadi disebut sebagai ee mitigasi itu. Betul. He.

Nah, senyampang dengan proses ee dinamika itu ee berjalan ini tentu saja Ketua Umum DPR ya kan wakil ketua DPR sebenarnya Suvi Dasco Ahmad ee juga memantau lah ee perkembangan kasus ini dan di situ karena dia sudah mendengar ada beberapa update ya karena itu sudah Jumat malam menjelang ee Sabtu dini hari ee kasus ini sudah berjalan kurang lebih 2 sampai 3 hari dan ee DASCO kita juga mendapatkan informasi sudah ee ee cukup terupdate dengan ee kesepakatan-kesepakatan itu tadi. Dia meminta kepada Kejaksaan Agung ee terutama kepada Puspen ya, Kepala Pusat e Penerangan agar segera merilis status ee Febri. Karena itulah kemudian ada video Kapuspen ya yang gua ingat banget itu ee beredar dan ee rilis sekitar Sabtu dini hari ya di atas jam 12.00 malam lah ketika jurnalis tertidur tertidur tiba-tiba ada rilis deng keluar begitu kan satu terus kemudian yang kedua ee Bang Dasco ini juga meminta kepada kepolisian agar karena sudah komit nih pelimpahan ke kejaksaan agar jangan terlalu lama lah limpahinlah kasusnya jangan terlalu lama ee dipegang oleh kepolisian nanti dikira ee kepolisian ini tidak komit. Salah satu pesannya adalah kalau itu mau segera dilimpahkan jangan lebih dari hari Senin karena ee penanganan perkara ini sudah ee berlarut-larut begitu dan supaya tidak menimbulkan kegaduhan yang berlarut-larut lagi. Seperti pesannya Prabowo kan jangan buat gaduh gitu. Tapi rupanya Sabtu itu masih tetap gaduh. Persisul kan polisi akhirnya menetapkan tersangka kan tadi ya Febri dan Don Rito Kota Tipikor itu. Dan tadinya sesuai dengan sepakatan tadi yang lu ceritakan berdua kan Heeh. Harusnya itu Kejaksaan Agung yang menetapkan Febri sebagai tersangka. Ohnya oleh Kejaksaan Agung tapi kan belakangan atau lebih cepat dari PORI begitu kan. Nah gaduh lagi tuh kan keadaan situasi dan seterusnya. Makanya di hari Sabtu malam Heeh. Kalau teman-teman perhatikan Prabo manggil lagi tuh. Manggil lagi para pejabat-pejabatnya ke istana dan seorang pejabat tinggi cerita itu selesai sampai jam 11.00 malam, Kang. Waduh, alot. Alot juga itu rapat Sabtu malam itu ya. Betul. Alot. Alot alot sekali. Nah, di dalam pertemuan di istana yang berlangsung alot itu ada sejumlah pejabat tinggi yang hadir. Di antaranya adalah Menteri Pertahanan, Safri Samsudin, Kepala BIN Muhammad Herindra, Mensetnek, lalu juga ada panglima dan wakil panglima dan sejumlah pejabat tinggi lainnya seperti itu. Nah, Prabo itu masih marah di situ kan, Kang. Karena kan di rapat sebelumnya dia minta kasus ini diselesaikan jangan membuat gaduh begitu kan. Dan dilimpahkan kejaksaan. Dan dilimpahkan kejaksaan. Tapi dengan tadi apa nam penetapan tersangka segala macam masih membuat kegaduhan. Lalu juga di pertemuan ini menurut orang yang hadir di pertemuan ya gua tanya dia seperti itu bahwa di situ Jaksa Agung masih men-challenge ataupun enggak terima karena Febri ditetapkan sebagai tersangka tanpa pemeriksaan terlebih dahulu. Hm. Oke. Nah, makanya situ ribut dan seterus-seternya. Agak panas situasinya agak panas. Termasuk juga dibahas soal mirip dengan pertemuan di hari Jumatnya. Heeh. I dengan tadi ya banyak e disuruh adem tapi tetap ribut begitu kan muncul lagi-lagi tuh bahwa narasi PORI mau melakukan pembangkangan. Oke. Nah, lalu juga Presiden tuh agak panas juga karena dia mendapatkan laporan bahwa ada penebalan suatu pasukan di dekat Widya Candra. Artinya kekhawatiran Wicand itu akan diserbu oleh pasukan itu. Begitu. He makanya Prabowo marah dan bahkan dibilang, "Kalian ini mau sabotase pemerintahan saya ya, kalian ini mau menjatuhkan saya ya." Begitu. Nah, gua tanya konsek-kek informasi ini kepada narasumber dan bilang, "Memang begitu, Mas marah sekali Presiden." Di tengah suasana yang panas tadi, Senin, Kang, ada satu peserta yang sebetulnya tidak diundang, satu pejabat yang tidak diundang kemudian jump in di pertemuan dengan presiden. Ini membuat hampir semua peserta terkaget-kaget. Kenapa ada satu pejabat ini? Nah, satu pejabat itu duduklah di satu kursi yang menggeser kursinya Jaksa Agung. Jadi, Jaksa Agung dan seterusnya itu geser ke samping. Kemudian Presiden menjelaskan situasinya. Ee kami tadi sudah membahas ini itu evaluasi Polri dan lain sebagainya. Kemudian ada penebalan pasukan khusus dan lain sebagainya. Nah, di situlah pejabat ini, pejabat yang datang terakhir ini menyampaikan soal status pasukan yang ada di ee sekitar Widya Candra itu. Dan juga sebetulnya ee satu pejabat ini menjelaskan bahwa tidak mungkin Polri mensabotase pemerintahan dan sebagainya. Kalau kepalanya diganti, tidak akan mungkin kemudian kepalanya itu menumbangkan presiden begitu. H karena pergantian kapori itu hak prerogatif presiden. Betul. Nah, setelah itu pertemuan bubar tuh jam 11.00 malaman begitu kan. Dan makanya setelah panas-panas itu kan agak t down tuh situasi kan dari hari Minggu slow bahkan di hari Senin itu kapori keliling-keliling tuh kan. Oh iya betul betul. Ke beberapa tempat ya ke Mabes TNI kantor Kejaksaan Agung juga si ya. Gimana itu ceritanya sih? Betul. Gua mewawancarai juga ya beberapa pejabat tinggi kepolisian ya soal gimana sih pertemuan Kapori itu keliling-keliling kejaksaan maupun keliling-keliling ke tempatnya Tenny begitu ya. Dia cerita bahwa ini memang inisiatifnya Pak Kapori. He. Jadi pertemuan itu terjadi setelah Satgas PKH menggelar rapat di kantor Kemenhan di di hari Senin pagi kan ada rapat dulu kan. Iya. Oh satgas penertiban kawasan hutan kawasan hutan mengel. Nah, setelah itu baru Kapori mendatangi kantor Kejaksaan Agung dan kantor Mabes Teni begitu. Nah, gua tanya apa yang lucu dan seru dalam pertemuan tertutup di ee Kantor Kejaksaan Agung ya. Dia bilang, "Mas, ya awal-awal duduk duduk di ruangan besar gitu ya, ruangan aula besar memang ada terasa agak kikuk tapi Pak Jaksa Agung mendinginkan suasana." Kemudian Jaksa Agung berbicara duluan nih, Kang, sebagai tuan rumah juga kan dia bilang bahwa ya hubungan PORI sama Kejaksaan Agung kan seperti adik kakak. He. Banyak jaksa yang istrinya polisi. He. Banyak polisi yang istrinya jaksa. Banyak polisi yang menantunya jaksa juga begitu ya. Seperti abang adik dan seterusnya bilang, "Mas cair kok segala macam." Dan juga pas konferensi pers kan ada bilang tuh bahwa siapa namanya? Eh, Kapori kan bilang jaksa Agung itu sebagai abang asuh. Iya, betul, betul, betul. Ada kan tuh makanya sangat cair begitu. Nah, terus tanya lagi, gimana kalau yang misalkan di Mabes TNI ya sama cair karena apa namanya ya hubungannya kan mitra strategis begitu kan berdua segala macam. Tapi berbeda di Kejaksaan Agung yang di aula besar kalau di Mabes TNI itu dia duduknya di kursi-kursi tertentu. Jadi ee Panglima TNI sama Kak Pori dengan para kepala staf gitu rabble. Lalu di sini bintang-bintang tiga dan bintang dua dan seterus-terusnya begitu. Dan mereka kan sempat nyanyi bersama juga gitu kan. Ee nyanyi bersama di panggung begitu kan. Dan itu bisa dilihat juga di videonya. He. Dan setelah itu memang ya sekarang sih situasinya ya agak sejuk, agak agak lah, landai ya, landai begitu. Tapi sin kalau kita baca juga ya perkembangan kasus itu terakhir meskipun secara internal ee di e TNI, Kejaksaan maupun Polri itu sudah landai adem ee rupanya masih membuat kegaduhan. Tapi itu dari ee Kejaksaan sendiri ya kan. Kemarin sempat ada ee pemberitaan bahwa Febri yang semula di polisi sudah ditetapkan menjadi tersangka. Begitu ditangani oleh kejaksaan, tiba-tiba statusnya menjadi ee saksi. Enggak berapa lama kemudian enggak ada hitungan jam tuh ya. Ee kemudian Kejaksaan Agung meralat lagi ee kasus Febri Adriansyah ee statusnya Febri itu ee kembali menjadi tersangka tersangka itu. Dan juga tuh gua dari laporan apa namanya reporter kita yang di ngepost di Kejaksaan Agung. Dia bilang setelah Kapus Penkum itu berbicara, dia neleponin wartawan-wartawan apa? Meralat omongannya itu. [tertawa] Tapi yang menarik adalah di luar ee apa dinamika ya di antara elit-elit itu kita ketahui juga bahwa C e di DPR ada manuver juga. I okah e DPR itu sebagai lembaga perwakilan rakyat gitu, tapi kok tiba-tiba mereka masuk nih bikin ee tim kesibukan sendiri pengin masuk pengin dilibatkan. FOMO nih. FOMO enggak sih? [tertawa] Gitu kan dengan membuat ee tim e panitia kerja. He. Gimana tuh? Apakah mereka misalnya ee melaporkan dan mengkonsultasikan pembentukan panja ini kepada ee Bang Dasco misalnya? Karena kan kita ketahui untuk urusan politik dan hukum e salah satu bidang yang ditangani itu adalah di bawah ee Bang Daso. Dr gimana tuh ceritanya C?

Sebetulnya hari Rabu ketika penggeledahan di Cipeta itu terjadi, Komisi 3 DPR khususnya di pimpinan, ini gerubak-gubuk ini bertanya-tanya ini sebenarnya barang apa nih? Karena oh mereka buta juga ini kasus apa nyambung cerita di awal juga kan karena PORI tidak melaporkan presiden tidak bocor juga ke DPR. Betul. Betul. Jadi ee Komisi 3 DPR ini bertanya kenapa tiba-tiba ada nama Febri Adiansyah di apa Kejaksaan Agung yang terseret dalam kasus penggeledahan yang dilakukan oleh Polri. Karena yang terinfo oleh DPR bahwa penggeledahan itu dilakukan untuk kasus batuk bara yang berkaitan dengan blackout di Sumatera waktu itu. Hubungannya dengan Febri apa ya gitu hubungannya apa gitu. Dan Feb ini kan nama yang high profile gitu kan meskipun mitranya Komisi 3. Nah, Komisi 3 melihat perkembangan ee diskusi di masyarakat dan lain sebagainya melihat ada ada potensi percikan nih antara e Kejaksaan Agung dan Polri yang dua-duanya ini mitranya Komisi 3 gitu. Kemudian inisiatiflah Komisi 3 dipimpin oleh Habiburrahman sebagai ketua komisi untuk membuat satu pertemuan yang sebetulnya pertemuan ini sangat terbatas dihadiri oleh pimpinan-pimpinan Komisi 3 di ruang pimpinan komisi 3 untuk membahas apa yang harus kita lakukan sebagai DPR untuk ikut serta dalam ee paling enggak menyelesaikan persoalan ini. Kemudian ee Habib Bu Rohman menyampaikan gimana kalau kita nyari tahu dulu petanya seperti apa. Kemudian di forum itu pimpinan-pimpinan komisi 3 ini menghubungi masing-masing jaringannya ee jaringan mitranya di kepolisian kejaksaan di kepolisian dan lain sebagainya. Ada satu ee pimpinan Komisi 3 yang berbicara sama kita, Kang. dia menghubungi jenderal bintang du di e Polri ya dan menanyakan ini kasusnya seperti apa dan ee jenderal bintang dua itu bilang bahwa ini masih dalam proses dan lain sebagainya. Tambahlah mereka bingung kan tidak puas juga dengan jawaban itu. Tidak puas dengan jawaban itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk ya sudah bagaimana kalau kita membentuk panja. Kemudian di didiskusikan kenapa enggak pansus? Kenapa panja? Karena mitranya dua-duanya hanya mitra komisi tiga nih, gitu. Kalau Pansus kan melibatkan komisi yang lain, sedangkan ee itu tidak merembet ke instansi lain sedang sedangkan mereka ingin fokus saja di situ. Iya, Cak. Jadi, gua wawancara juga beberapa anggota Komisi 3 ya, dia bilang memang pembentukan panja ini mendadak. Heeh. He. Karena lagi-lagi Komisi 3 tidak mengetahui duduk perkara antara kejaksaan dan kepolisian di awal-awal di hari Rabu itu. I dan beberapa anggota Komisi hukum juga sedang berada di luar Jakarta. He he. Nah, dan mereka juga sebenarnya mempertanyakan kenapa tidak dibuat pansus. Kenapa? Karena kan dalam seluruh peristiwa dari hari Rabu sampai katakanlah Sabtu segala macam itu kan ada lembaga lain yang selalu disebut-sebut yaitu TNI dan TNI juga bagian dari Satgas Penertiban Kawasan hutan. Dan kalau misalkan kita lihat juga pemberitaan ya enggak lama setelah penggeledahan itu kan TNI mendatangi Polda Metro Jaya ya. Iya. Itu banyak sekali yang datang ke sana dan membuat pertanyaan juga di publik. Lu ngapain datang ke Polda Metro Jaya di tengah kasus pengelan-pengelan ini seperti itu. Tapi Dilalah ya memang suatu konsensus atau kesepakatannya adalah membuat panjau. Oke. Nah, Cik Azin ee tadi kan gua juga ee apa bertanya-tanya juga ya karena ini manuver dari ee Komisi 3 di DPR, apakah mereka mengkonsultasikan ee keputusan mereka untuk membuat panja yang mengawasi ee jalannya kasus ini itu ee dengan ee Wakil Ketua DPR e Sumirasco Ahmad ketika rencana pembentukan itu tidak ada komunikasi antara pimpinan Komisi 3 dengan Dasco. Tapi setelah panja itu terbentuk barulah mereka mengkomunikasikan bahwa kita akan membentuk panja dan lain sebagainya. Karena kan membutuhkan tanda tangan pimpinan DPR kan dalam hal ini Dasco sebagai wakil ketua DPR bidang salah satunya bidang hukum dan politik gitu kan. Nah, sebetulnya di hari Jumat itu Sen Kang Komisi 3 itu sudah mendengar bahwa oh perkaranya Febri ini akan dilimpahkan ke Kejaksaan Agung. Nah, kemudian mereka semakin bulatlah tekadnya untuk bikin panca. Kenapa? Nah, ini untuk mengawal kasus supaya kasus ini enggak melempem. H karena ketika ee Febri di di pikiran Komisi 3 waktu itu ketika kasus perkara Febri ini dilimpahkan ke kejaksaan dan segala macamnya, mereka khawatir ee perkara ini kemudian enggak akan tuntas. Heeh. Heeh. Kemudian ee mereka membuat satu skema untuk panjak itu dan hari Sabtunya, hari Sabtu sekitar pagi sampai siang gitu ee orang-orang yang ada di pimpinan Komisi 3, beberapa anggota DPR juga yang ada di Komisi 3 itu bertemu dengan pimpinan di Polda Metro Jaya dan juga pejabat di Kejaksaan Agung. PLT Kejaksa PLT Jampitsus ya setelah Febri mundur. Pertemuan itu di mana? Betul. Di Plaza Senayan, Kang. Dekatlah sama DPR ya. Dan di situ ee pimpinan komisi 3 ini menyampaikan kepada e pejabat di Kejaksaan Agung dan juga di Polda Metro Jaya untuk mereka meminta atau menyarankanlah ya ada rotasi di dalam tubuh Kejaksaan Agung khususnya di mana? Khususnya di Jampitsus yang menangani perkaranya Febri. Betul. Nah, makanya Cik, Kang, kalau kita misalkan diskusi atau wawancara panja di Komisi 3, mereka selalu membilang bahwa harus ada pembaharuan, penyegaran, mutasi rotasi di internal Jampitsus, Jasa Agung Muda, pidana khusus, Kejaksaan Agung, begitu kan. Kenapa? Karena mereka juga meragukan nih kalau misalkan kasusnya Febri diusut di Kejaksaan Agung khususnya di Jampitsus yang mana Febri itu adalah bekas kepalanya atau mantan kepala sebagai Jampitsus dan di bawahnya itu masih orang-orangnya Febri ya pasti kan ini enggak akan diusut tuntas perkara ini ya jeruk jeruk makan jeruk lah ya jeruk makan jeruk gitu makanya mereka selalu menyuarakan perlu ada penyegar pembaru dan seterus-seterusnya Kang dan setelah ee pembentukan ini barulah lapor ke Suhmidas Ahmad ya C Iya Dan mereka juga konferensi pers ya, mereka dalam arti komisi 3 ini konferensi pers di ee DPR, di gedung DPR dan meminta sejumlah anak magangnya untuk hadir dalam konferensi pers itu duduk di belakang pimpinan komisi 3. Seolah-olah dapat dukungan dari mahasiswa kan pakai jaket mahasiswa. Padahal itu anak magang DPR. Iya. Itu kuningnya kuning mana? Bukan partai kan? [tertawa] Kuning kampus. Oke.

Nah, Kang dengan berbagai dinamika, penggeledahan, pertemuan, dan rapat-rapat yang ujungnya adalah masyarakat menonton saja perkara ini ee yang dilihat juga belum ada penyelesaian yang sesungguhnya begitu ya. Gimana sikap tempo nih, Kang? Yasin?

Jadi ee ada dua sikap utama yang ee diambil oleh tempo dalam menyikapi dinamika politik ya di ee seputaran kasus ee Febri Adriansah ini. Yang pertama ini semakin mempertegas bahwa Indonesia itu bukan negara hukum tapi negara kekuasaan. H ya kan dari apa kita melihatnya dari bagaimana perkara-perkara ee yang sangat krusial penting dan dugaan pelanggaran ee hukum itu sendiri bisa dinegosiasikan dan dibicarakan dan diselesaikan secara politik. ini ee diselesaikan di mana, siapa yang ee menangani. Nah, ini sebenarnya kalau menurut prinsip negara hukum ya sudah siapa yang menangani kasus di situlah ee kasus itu ditangani sampai betul-betul tuntas tanpa ada intervensi ee dari ee kekuasaan dalam hal ini presiden. Yang kedua ini juga sebenarnya banyak orang atau publik juga berharap wah kalian saling ee buka saja kasus ini sehingga bornya bisa ee saling diketahui. Tetapi kita tahulah bahwa ketika ada dua institusi apalagi dua lembaga yang kita e sama-sama tahulah tidak ee tidak bersih begitu dan mereka punya sama-sama saling punya kasus, kita tidak bisa mengharapkan sepenuhnya bahwa penuntasan atau pengungkapan kasus korupsi itu dipakai sebagai standar tertinggi gitu. karena kasus-kasus yang dimiliki oleh masing-masing institusi atau lembaga itu akan dipakai sebagai alat untuk saling menyandra institusi dan itu yang kebetulan ee terjadi pada kasus ee kejaksaan ee versus kepolisian itu si sikapnya. Dan ini pun pernah terjadi sebelumnya kan cicak versus buaya juga enggak selesai. Berbaik kasus hukum kayak misalkan simulator juga tidak selesai ketika itu kan. Lagi-lagi nih mengulang sejarah saja karena lagi seperti yang Rikang bilang bahwa negara ini bukan negara hukum adalah negara kekuasaan. Betul. Oke, saksikan terus bocor alus politik di youtubeet Tempo.co dan Spotify. Sampai jumpa. Bye bye. Tahu tahu tahu